Multifinance

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Perdagangan Menuju Level Rp17.667 per Dolar AS

Erna Agnesa
×

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Perdagangan Menuju Level Rp17.667 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Perdagangan Menuju Level Rp17.667 per Dolar AS

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.

Rupiah kembali menghadapi tekanan di akhir pekan. Pada perdagangan Senin sore, mata uang Garuda ditutup melemah ke level Rp17.667 per dolar AS. Posisi ini lebih lemah dibandingkan pembukaan hari yang berada di Rp17.659 per USD.

Penurunan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih waspada terhadap ketidakpastian global. Meskipun tidak terlalu tajam, pergerakan rupiah tetap mencatatkan koreksi sebesar 71 poin atau sekitar 0,40 persen sepanjang sesi perdagangan.

Pergerakan Rupiah Hari Ini

Rupiah sempat menunjukkan fluktuasi sepanjang hari. Dari berbagai sumber data, terlihat bahwa nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.700 per USD. Perbedaan data antarsumber cukup umum terjadi karena metode pengambilan dan waktu pencatatan yang berbeda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di angka Rp17.667 per USD. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat rupiah berada di posisi Rp17.648 per USD pada akhir perdagangan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa rupiah memang berada dalam koreksi tipis namun konsisten.

Faktor yang Mempengaruhi Melemahnya Rupiah

1. Sentimen Global yang Kurang Menggembirakan

Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menjadi salah satu faktor utama pelemah rupiah. Hasil pertemuan yang dinilai kurang konkret dalam menyelesaikan ketegangan AS-Iran menyisakan kekecewaan di kalangan investor global.

Investor cenderung mengambil posisi hati-hati atau “risk off” ketika situasi geopolitik tidak menunjukkan kemajuan. Hal ini memicu penguatan dolar AS sebagai safe haven, yang pada akhirnya membuat rupiah tertekan.

2. Ketidakpastian di Kawasan Timur Tengah

Meski Tiongkok menganjurkan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali, Iran tetap menunjukkan sikap skeptis terhadap upaya mediasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa proses diplomasi masih menghadapi tantangan besar karena kurangnya kepercayaan terhadap Washington.

Ketidakpastian ini memicu kembali ketakutan pasar terhadap gangguan pasokan energi global. Kondisi ini secara langsung memengaruhi mata uang-mata uang yang sensitif terhadap risiko, termasuk rupiah.

3. Penguatan Dolar AS

Dolar AS kembali menguat seiring dengan aliran modal keluar dari aset berisiko. Investor memilih memegang dolar sebagai benteng perlindungan di tengah ketidakpastian global. Penguatan ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah yang cenderung tertekan.

Data Perbandingan Nilai Tukar Rupiah

Sumber Data Nilai Awal (USD) Nilai Akhir (USD) Selisih (Poin) Persentase (%)
Bloomberg Rp17.659 Rp17.667 +71 +0,40
Yahoo Finance Rp17.491 Rp17.648 +188 +1,08
Jisdor (Rabu) Rp17.666

Catatan: Data dapat berubah tergantung waktu pengambilan dan kondisi pasar real time.

Dampak Terhadap Ekonomi Domestik

Melemahnya rupiah berpotensi memicu kenaikan harga impor. Bila tren ini berlanjut, tekanan inflasi bisa kembali muncul. BI sebagai bank sentral tentu harus waspada dan siap melakukan intervensi jika diperlukan.

Namun, sejauh ini tekanan belum terlalu besar. Rupiah masih berada dalam kisaran toleransi dan belum menunjukkan gejolak signifikan yang bisa mengganggu stabilitas makro.

Langkah yang Bisa Ditempuh

1. Intervensi Bank Sentral

Bank Indonesia (BI) memiliki beberapa instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Salah satunya adalah intervensi pasar melalui pembelian atau penjualan valas secara langsung. Ini dilakukan untuk meredam volatilitas berlebih.

2. Penguatan Fundamental Domestik

Menjaga stabilitas makro ekonomi menjadi kunci. Kebijakan fiskal yang disiplin dan pertumbuhan ekonomi yang konsisten bisa menumbuhkan kepercayaan investor terhadap rupiah.

3. Diversifikasi Pasar dan Mitigasi Risiko

Pemerintah juga bisa terus mendorong diversifikasi pasar ekspor serta pengembangan sektor-sektor yang bisa mengurangi ketergantungan pada impor. Ini akan mengurangi tekanan pada neraca pembayaran dan nilai tukar.

Apa Kata Ahli?

Lukman Leong dari Doo Financial Futures menyatakan bahwa rupiah masih rentan terhadap sentimen global. Ia menyarankan agar pelaku pasar domestik tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global, terutama dari The Fed.

Menurutnya, investor tidak perlu panik, tetapi harus siap dengan skenario berbagai risiko yang bisa terjadi dalam waktu dekat.

Kesimpulan

Rupiah sore ini berada di posisi Rp17.667 per USD, mengalami pelemahan tipis dibandingkan pagi hari. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen global yang masih negatif akibat ketidakpastian di Timur Tengah serta hasil pertemuan antara Trump dan Xi yang kurang memuaskan.

Meskipun demikian, tekanan terhadap rupiah belum terlalu besar. Bank sentral dan pemerintah memiliki beberapa langkah antisipatif yang bisa diterapkan jika situasi semakin memburuk.

Disclaimer: Data nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar. Artikel ini hanya untuk informasi umum dan bukan sebagai saran investasi.

Erna Agnesa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.