Multifinance

Pabrik Beli TBS Ikuti Harga Disbun, Petani Dinilai Jadi Lebih Tenang

Bintang Fatih Wibawa
×

Pabrik Beli TBS Ikuti Harga Disbun, Petani Dinilai Jadi Lebih Tenang

Sebarkan artikel ini
Pabrik Beli TBS Ikuti Harga Disbun, Petani Dinilai Jadi Lebih Tenang

Kebijakan ekspor satu pintu yang dijalankan pemerintah melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani kelapa sawit. Banyak berharap bahwa sistem ini akan memperbaiki harga TBS (tandan buah segar) yang selama ini fluktuatif. Faktanya, tidak semua pabrik kelapa sawit (PKS) menurunkan harga beli TBS akibat kebijakan ini. Ada beberapa PKS yang justru tetap membeli TBS mengikuti ketentuan harga dari Dinas Perkebunan setempat, bahkan ada yang memberikan harga lebih tinggi. Hal ini memberikan kepastian dan rasa tenang bagi petani plasma dan swadaya.

Di sisi lain, tidak semua daerah merasakan hal yang sama. Di Langkat, Sumatra Utara, sejumlah petani justru mengalami penurunan harga beli TBS hingga Rp2.300 per kilogram. Padahal sebelumnya harga bisa mencapai Rp3.700 per kilogram. Kondisi ini semakin memberatkan petani yang juga harus menghadapi lonjakan harga pupuk, terutama jenis NPK yang naik dari Rp700.000 menjadi Rp900.000 per sak.

Dinamika Harga TBS dan Peran PKS

Harga TBS menjadi indikator penting bagi kesejahteraan petani kelapa sawit. Fluktuasi harga yang terjadi bukan hanya dipengaruhi oleh kebijakan ekspor, tetapi juga oleh kinerja PKS dalam menyerap produksi petani. Beberapa PKS masih menjaga komitmen terhadap petani dengan membeli TBS sesuai ketentuan dari pemerintah daerah. Namun, ada juga yang menurunkan harga beli meski harga CPO (crude palm oil) di pasar global sedang mengalami tren positif.

1. PKS yang Tetap Membeli TBS Sesuai Ketentuan Disbun

Beberapa PKS, seperti yang dikelola oleh KUD Sumber Usaha mitra PT Rimba Mujur Mahkota di Mandailing Natal, tetap membeli TBS sesuai harga yang ditetapkan Dinas Perkebunan setempat. Petani merasa lebih tenang karena bisa memprediksi pendapatan dan menyesuaikan kebutuhan operasional seperti pupuk dan BBM.

2. Penurunan Harga TBS di Beberapa Daerah

Berbeda dengan di Mandailing Natal, petani di Langkat mengalami penurunan harga beli TBS hingga Rp2.300/kg. Harga ini jauh di bawah harga sebelumnya yang bisa mencapai Rp3.700/kg. Kondisi ini memperberat beban petani yang juga menghadapi lonjakan harga pupuk.

3. Masih Ada PKS yang Beli TBS di Bawah Harga Standar

Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan masih ada sekitar 123 PKS yang membeli TBS di bawah harga standar yang ditetapkan pemerintah. Padahal harga CPO di pasar global sedang bagus dan permintaan meningkat. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada harga pasar, tetapi pada distribusi nilai di rantai pasok kelapa sawit.

Peran PT DSI dan Transparansi Harga

Pemerintah melalui PT DSI berupaya mengendalikan rantai perdagangan kelapa sawit agar lebih transparan dan adil. PT DSI bukanlah entitas yang mencari keuntungan, melainkan sebagai pengelola dan pengawas yang bertujuan menjaga stabilitas harga serta mencegah praktik monopoli atau rentenir di tengah rantai perdagangan.

1. PT DSI Bukan Pengambil Rente

Sudaryono menegaskan bahwa PT DSI tidak menjadi pengambil rente baru dalam perdagangan kelapa sawit. Perusahaan ini hanya bertindak sebagai fasilitator yang menjalankan fungsinya secara transparan dan akuntabel.

2. Harga CPO Global Sedang Meningkat

Harga CPO di pasar global sedang mengalami tren positif. Permintaan dari negara-negara importir juga meningkat. Namun, harga TBS di dalam negeri justru tidak mengikuti tren tersebut. Ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan distribusi nilai antara petani, PKS, dan eksportir.

3. Perlunya Pengawasan Lebih Ketat

Pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap PKS yang membeli TBS di bawah harga standar. Penegakan regulasi yang konsisten bisa menjadi solusi jangka panjang agar petani tidak terus-menerus menjadi korban fluktuasi harga yang tidak wajar.

Tabel Perbandingan Harga TBS di Beberapa Daerah

Berikut adalah perbandingan harga TBS di dua daerah berbeda untuk memberikan gambaran yang lebih jelas:

Daerah Harga TBS Sebelumnya Harga TBS Kini Kenaikan/Turun
Mandailing Natal Rp3.600 – Rp3.700/kg Sesuai Disbun Stabil
Langkat Rp3.600 – Rp3.700/kg Rp2.300 – Rp2.500/kg Turun signifikan

Catatan: Harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan daerah dan kondisi pasar.

Kondisi Petani dan Dampaknya

Petani kelapa sawit sangat rentan terhadap fluktuasi harga. Ketika harga TBS turun, penghasilan mereka langsung tergerus. Apalagi jika di sisi lain biaya produksi seperti pupuk dan BBM mengalami kenaikan. Situasi ini bisa membuat petani terjebak dalam lingkaran kemiskinan jika tidak ada intervensi yang tepat.

1. Kenaikan Biaya Produksi

Harga pupuk jenis NPK yang naik dari Rp700.000 menjadi Rp900.000 per sak menjadi beban tambahan bagi petani. Padahal, harga jual TBS justru turun. Ini membuat margin keuntungan menjadi sangat sempit, bahkan bisa mengakibatkan kerugian.

2. Ketergantungan pada PKS

Petani sangat bergantung pada PKS dalam menyerap produksi TBS. Jika PKS menurunkan harga beli, petani tidak banyak pilihan karena tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor. Inilah pentingnya kebijakan yang melindungi petani dari praktik tidak adil di tingkat PKS.

3. Perlunya Diversifikasi Pendapatan

Selain intervensi kebijakan, petani juga perlu didorong untuk meningkatkan diversifikasi pendapatan. Program pelatihan dan akses ke modal bisa menjadi solusi jangka menengah agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan TBS.

Kesimpulan

Kebijakan ekspor satu pintu melalui PT DSI belum tentu berdampak negatif bagi semua pihak. Ada PKS yang tetap membeli TBS sesuai ketentuan harga pemerintah daerah, memberikan kepastian bagi petani. Namun, masih ada juga PKS yang menurunkan harga beli meski harga CPO sedang bagus. Ini menunjukkan bahwa masalah bukan pada kebijakan ekspor, tetapi pada implementasi dan pengawasannya di lapangan.

Pemerintah perlu terus memastikan bahwa kebijakan yang dibuat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Penegakan regulasi, pengawasan ketat, dan penguatan posisi tawar petani adalah langkah penting agar sektor perkebunan kelapa sawit bisa tumbuh secara berkelanjutan dan adil.

Disclaimer: Data harga dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan daerah setempat.

Bintang Fatih Wibawa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.