Multifinance

Harga Emas Global Kembali Naik Tajam, Minyak Mentah dan Dolar Amerika Serikat Mengalami Pelemahan Signifikan

Muhammad Rizal Veto
×

Harga Emas Global Kembali Naik Tajam, Minyak Mentah dan Dolar Amerika Serikat Mengalami Pelemahan Signifikan

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Global Kembali Naik Tajam, Minyak Mentah dan Dolar Amerika Serikat Mengalami Pelemahan Signifikan

Harga emas dunia kembali terpuruk di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah. Setelah sempat mencatat rekor di atas USD5.200 per ons, logam mulia ini tergelincir tajam karena tekanan dari dua faktor utama: melonjaknya harga minyak dan menguatnya dolar AS. Perang yang berkecamuk antara Iran, AS, dan Israel memicu ketidakpastian, tapi justru membuat investor lebih memilih aset yang dianggap lebih likuid dan responsif terhadap krisis.

Perdagangan Kamis (12/3/2026) menunjukkan bahwa emas spot turun 0,4 persen menjadi USD5.154,46 per ons. Harga emas berjangka juga ikut melemah ke level USD5.159,40 per ons. Meski begitu, harga masih berada di kisaran tinggi karena permintaan terhadap safe haven belum benar-benar surut. Namun, aliran dana justru lebih tertarik ke energi dan mata uang greenback.

Emas Terjebak Antara Ketegangan dan Kebijakan Makro

Ketegangan di Teluk Persia memang memicu permintaan akan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, lonjakan harga minyak dan penguatan dolar justru menekan logam mulia ini ke posisi yang kurang menggiurkan. Pasar lebih memilih aset yang langsung merespons kenaikan inflasi dan ketidakstabilan, seperti energi dan mata uang utama global.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah laporan bahwa dua kapal tanker ditabrak di dekat Irak. Insiden ini memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi jangka panjang. Jika harga energi terus naik, tekanan pada indeks harga konsumen juga akan meningkat. Ini bisa memaksa bank sentral untuk mengambil langkah agresif, seperti menaikkan suku bunga—langkah yang umumnya tidak ramah bagi emas.

1. Lonjakan Harga Minyak Picu Ketakutan Inflasi

Harga minyak mentah dunia melonjak setelah insiden di kawasan Teluk Persia. Investor langsung bereaksi dengan memindahkan portofolio ke aset yang lebih tahan terhadap gejolak harga energi, seperti saham energi dan mata uang kuat.

  • Harga minyak dunia naik hingga 3% dalam satu hari
  • Inflasi AS diperkirakan akan terdorong oleh kenaikan harga energi
  • Bank sentral global berpotensi menaikkan suku bunga lebih awal

2. Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Sementara itu, dolar AS kembali menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian meningkat. Greenback menguat terhadap sejumlah mata uang utama, termasuk euro dan yen Jepang. Penguatan ini menambah tekanan pada harga emas, karena emas dihargai dalam dolar dan menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

3. Data Inflasi AS Sesuai Ekspektasi, Namun Tetap Memicu Kekhawatiran

Indeks harga konsumen AS (CPI) dirilis sesuai ekspektasi pasar. Namun, meski tidak melesat, angka tersebut tetap memicu kekhawatiran akan tekanan harga di masa depan. Investor langsung mengantisipasi langkah tegas dari Federal Reserve, yang bisa berujung pada pengetatan kebijakan moneter.

Logam Mulia Lainnya Ikut Terpuruk

Bukan hanya emas, logam mulia lainnya juga ikut terkena imbasnya. Perak dan platinum mengalami penurunan kecil, tapi cukup berarti dalam konteks jangka pendek.

Perak dan Platinum Melemah Bersama Emas

Logam Harga (USD per ons) Perubahan (%)
Emas Spot 5.154,46 -0,4%
Perak Spot 85,5635 -0,2%
Platinum Spot 2.167,26 -0,1%

Data di atas menunjukkan bahwa seluruh logam mulia mengalami tekanan pasar yang sama. Investor lebih memilih aset yang langsung merespons gejolak energi dan mata uang ketimbang aset lindung nilai jangka panjang.

Dinamika Pasar: Antara Harapan dan Realitas

Meski konflik di Timur Tengah belum mereda, sinyal dari pemerintah AS dan Israel memberi sedikit optimisme bahwa situasi bisa segera terkendali. Presiden Donald Trump dan pejabat senior lainnya menyatakan bahwa perang dengan Iran hampir berakhir. Namun, di lapangan, aktivitas militer masih terus berlangsung.

4. Optimisme Politik vs Realitas di Lapangan

Pernyataan dari pejabat tinggi AS memang bisa memengaruhi sentimen pasar. Tapi, selama aktivitas militer masih terus berlangsung, investor tetap akan waspada. Optimisme politik belum cukup untuk menahan laju penurunan emas.

5. Reaksi Cepat Pasar terhadap Gejolak Energi

Lonjakan harga minyak langsung memicu reaksi pasar. Investor langsung memindahkan dana ke sektor energi dan aset berbunga tinggi. Ini menunjukkan bahwa emas, meski aman, tidak selalu menjadi pilihan utama saat krisis terjadi secara mendadak.

Penutup: Emas Masih Relevan, Tapi Bukan Pilihan Utama Saat Ini

Harga emas dunia memang masih berada di level tinggi secara historis. Namun, dalam jangka pendek, logam mulia ini bukan lagi pilihan utama investor ketika gejolak terjadi. Minyak dan dolar justru menjadi ‘pemenang’ dari ketegangan geopolitik saat ini.

Meski begitu, jika situasi memburuk atau bank sentral mulai menurunkan suku bunga, emas bisa kembali bersinar. Investor tetap perlu memantau perkembangan di kawasan Timur Tengah serta kebijakan makro ekonomi global.

Disclaimer: Data harga emas dan logam mulia bersifat mengambang dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan geopolitik global.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Pantai Teluk Awur

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.