Harga emas dunia mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Selasa, 2 Juni 2026. Lonjakan ini terjadi meski masih terbatas, karena sentimen pasar masih terpengaruh oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Khususnya, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Kabar terbaru menyebutkan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran sempat terhenti, meski pihak AS membantah klaim tersebut. Di tengah situasi ini, investor cenderung mencari aset aman, dan emas menjadi salah satunya. Namun, lonjakan harga tetap terkendali karena belum ada eskalasi konflik yang signifikan.
Dinamika Geopolitik yang Mendorong Permintaan Emas
Ketegangan di Teluk Persia dan Lebanon kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Serangkaian insiden militer, termasuk operasi Israel di Lebanon dan tembakan dari militer Iran, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih besar. Situasi ini membuat investor waspada dan mulai beralih ke aset berharga seperti emas.
Menurut data dari Investing.com, harga emas spot mencatatkan kenaikan ke level USD4.486,23 per ons. Sementara emas berjangka naik sebesar 0,2 persen, mencapai USD4.516,62 per ons. Meski tidak besar, pergerakan ini cukup mencerminkan adanya permintaan investor terhadap aset safe haven.
1. Pesan Bertolak Belakang dari AS dan Iran
Salah satu faktor utama yang memicu volatilitas pasar adalah perbedaan narasi antara AS dan Iran terkait jalannya negosiasi. Kantor berita Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa pertukaran pesan dengan Washington telah dihentikan. Namun, pernyataan dari pihak AS menyangkal hal tersebut.
Presiden Donald Trump bahkan mengungkapkan bahwa komunikasi antara kedua negara masih berjalan. Ia menyebut bahwa pembicaraan berlangsung hingga beberapa hari terakhir, termasuk pada hari itu sendiri. Pernyataan ini menimbulkan kebingungan di pasar, yang akhirnya memilih untuk tetap berhati-hati.
2. Gencatan Senjata yang Rapuh
Lebanon dan Israel telah mengumumkan gencatan senjata parsial. Namun, militer Israel mencatat adanya upaya peluncuran proyektil dari Lebanon pada Selasa. Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya reda, meski ada kesepakatan awal.
Trump menyatakan bahwa Hizbullah telah berkomitmen untuk tidak menyerang Israel. Sementara Perdana Menteri Netanyahu mengklaim akan menarik diri dari serangan terhadap Beirut. Namun, tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, kepercayaan terhadap kesepakatan ini masih rendah.
3. Laporan ECB tentang Cadangan Devisa Global
Di tengah ketidakpastian geopolitik, Bank Sentral Eropa (ECB) merilis laporan yang menunjukkan bahwa emas kini menjadi aset utama dalam cadangan devisa global. Pada akhir 2025, emas menyumbang 27 persen dari total cadangan resmi, mengungguli obligasi pemerintah AS yang hanya menyumbang 22 persen.
Tren ini terjadi karena lonjakan harga emas yang mencapai 60 persen pada 2025 dan 30 persen pada 2024. Lonjakan tersebut secara otomatis meningkatkan proporsi emas dalam alokasi cadangan devisa. Ini menunjukkan bahwa banyak negara mulai memandang emas sebagai aset yang lebih stabil dibandingkan instrumen keuangan lainnya.
Perbandingan Alokasi Cadangan Devisa Global (Akhir 2025)
| Aset | Persentase dalam Cadangan Devisa |
|---|---|
| Emas | 27% |
| Euro | 15% |
| Obligasi Pemerintah AS | 22% |
| Mata Uang Lainnya | 36% |
Mengapa Emas Tetap Jadi Pilihan?
Meski harga emas fluktuatif dan tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, emas tetap menjadi pilihan utama dalam cadangan devisa. Alasannya, emas dianggap sebagai simbol stabilitas dan nilai intrinsik yang tidak tergantung pada kebijakan moneter suatu negara.
Namun, ECB juga mencatat bahwa emas memiliki keterbatasan. Penyimpanan fisik membutuhkan biaya tinggi, dan pasokannya tidak bisa disesuaikan dengan cepat seperti mata uang fiat. Ini menjadikan emas lebih cocok sebagai cadangan jangka panjang daripada alat transaksi sehari-hari.
Faktor yang Mempengaruhi Harga Emas ke Depan
Beberapa variabel akan terus memengaruhi pergerakan harga emas di pasar global. Pertama, perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika ketegangan antara AS dan Iran semakin meningkat, permintaan emas sebagai aset aman akan terus naik.
Kedua, kebijakan moneter bank sentral dunia. Jika suku bunga turun atau inflasi naik, emas akan semakin menarik karena tidak memberikan yield tetap. Ketiga, permintaan dari negara berkembang yang terus menambah alokasi emas dalam cadangan devisa mereka.
Penutup
Harga emas saat ini memang berada dalam tekanan terbatas, namun tetap menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. Lonjakan kecil yang terjadi mencerminkan kepercayaan investor terhadap logam mulia ini sebagai pelindung nilai. Dengan semakin banyaknya negara yang memasukkan emas ke dalam cadangan devisa, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.
Namun, perlu diingat bahwa data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Harga emas sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan geopolitik yang dinamis. Oleh karena itu, informasi dalam artikel ini hanya sebagai referensi dan bukan sebagai saran investasi.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












