Keuangan syariah bukan sekadar soal transaksi bebas bunga. Di balik prinsip-prinsipnya yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan, ada potensi besar untuk menjadi solusi nyata dalam mengentaskan kemiskinan global. Apalagi jika dikombinasikan dengan pendekatan inklusif yang menyasar kalangan ultra mikro, terutama perempuan. Hal ini terbukti melalui program yang dikembangkan oleh PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam kerja sama dengan berbagai pihak di tingkat internasional.
Salah satu wujud nyata keberhasilannya terlihat saat Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 digelar di Jakarta. Dalam ajang Developing Eight (D-8), PNM memperkenalkan model pembiayaan ultra mikro berbasis syariah yang tidak hanya memberdayakan secara finansial, tetapi juga mengangkat martabat penerima manfaat. Model ini menunjukkan bahwa ketika sistem dirancang dengan tepat, keuangan syariah bisa menjadi alat yang ampuh untuk mendorong perubahan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Mengenal Pembiayaan Ultra Mikro Berbasis Syariah
Pembiayaan ultra mikro adalah bentuk layanan keuangan yang ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan pendapatan sangat rendah. Berbeda dengan mikrofinansial konvensional, pendekatan syariah menekankan pada prinsip keadilan, transparansi, dan keberlanjutan. Di sini, agunan fisik bukan syarat utama. Justru, sistem tanggung renteng atau yang dikenal sebagai social collateral menjadi fondasi utama.
- Tidak memerlukan agunan fisik
- Mengandalkan sistem tanggung jawab bersama dalam kelompok
- Berbasis prinsip kejujuran dan kepercayaan
Model ini sangat relevan untuk wilayah dengan akses terbatas terhadap layanan keuangan formal. Terutama di pelosok, di mana infrastruktur perbankan belum merata, dan masyarakat cenderung lebih percaya pada sistem yang melibatkan komunitas secara langsung.
1. Program Mekaar: Solusi Nyata untuk Ekonomi Keluarga Sejahtera
Program Mekaar yang dikembangkan oleh PNM menjadi salah satu contoh paling konkret dari penerapan keuangan syariah inklusif. Program ini tidak hanya menyediakan modal usaha, tetapi juga pendampingan serta pembinaan agar penerima manfaat bisa tumbuh mandiri secara finansial.
- Pendampingan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas usaha
- Pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan layanan
- Penyaluran dana berdasarkan prinsip bagi hasil
Dengan pendekatan ini, program Mekaar berhasil menyentuh lebih dari 16,1 juta nasabah di 36 provinsi Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang sebelumnya tidak pernah mengakses layanan keuangan formal.
2. Dampak Sosial dan Ekonomi yang Terukur
Hasil dari program ini tidak hanya terasa secara individu, tetapi juga berdampak pada skala makro. Banyak nasabah melaporkan peningkatan pendapatan dan kemandirian finansial. Data menunjukkan bahwa 74 persen nasabah mengalami peningkatan pendapatan, dan 90 persen merasa lebih mandiri secara finansial.
Sejak 2017, program ini telah berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga nasional sebesar Rp55,81 triliun. Selain itu, ekspor hasil binaan program ini juga mencapai lebih dari USD3 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi mikro bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.
3. Peran Perempuan dalam Menggerakkan Ekonomi Akar Rumput
Perempuan menjadi fokus utama dalam program ini karena peran mereka yang strategis dalam rumah tangga dan komunitas. Banyak dari mereka tidak pernah meminta untuk "diselamatkan", tetapi ingin diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi secara nyata.
- Peningkatan kesejahteraan keluarga melalui usaha mikro
- Peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi formal
- Penguatan struktur sosial melalui kepercayaan dan kolaborasi
Dengan memberikan akses keuangan yang inklusif, perempuan bisa menjadi agen perubahan yang mendorong kemandirian ekonomi di tingkat komunitas.
4. Model yang Bisa Diterapkan secara Global
Melalui forum internasional seperti D-8, PNM memperkenalkan model ini kepada delegasi dari negara-negara seperti Bangladesh, Malaysia, Turki, Mesir, Nigeria, Pakistan, Iran, dan Azerbaijan. Banyak dari negara tersebut juga memiliki tantangan serupa dalam hal inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi.
- Adaptasi terhadap konteks lokal tanpa menghilangkan prinsip dasar
- Kolaborasi lintas negara untuk memperluas dampak
- Penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi
Model ini menunjukkan bahwa keuangan syariah bukan hanya soal produk, tetapi juga soal sistem yang dirancang untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Tabel Perbandingan Dampak Program Mekaar (2017–2026)
| Indikator | Hasil |
|---|---|
| Jumlah nasabah | 16,1 juta |
| Cakupan wilayah | 36 provinsi |
| Kenaikan pendapatan nasabah | 74% |
| Kemandirian finansial | 90% |
| Kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga | Rp55,81 triliun |
| Ekspor hasil binaan | >USD3 miliar |
Disclaimer: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan program dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.
5. Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski sudah menunjukkan hasil yang luar biasa, program keuangan syariah inklusif masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur teknologi di daerah terpencil. Selain itu, edukasi keuangan masih menjadi kebutuhan penting agar masyarakat bisa memanfaatkan layanan ini secara maksimal.
Namun, peluangnya sangat besar. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, model ini bisa dikembangkan lebih luas, bahkan di negara-negara non-Muslim yang tengah mencari solusi inklusif dalam mengentaskan kemiskinan.
6. Pentingnya Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Keberhasilan program ini tidak lepas dari sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kolaborasi yang solid memungkinkan program ini berkembang dengan cepat dan berdampak luas. Dalam konteks global, penting untuk membangun jaringan yang bisa saling berbagi pengalaman dan sumber daya.
Ke depan, pengembangan lebih lanjut bisa dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM, pemanfaatan teknologi yang lebih canggih, serta penyesuaian model dengan kebutuhan lokal di setiap negara.
Keuangan syariah inklusif bukan sekadar ide. Ini adalah solusi yang sudah terbukti bekerja. Dengan pendekatan yang tepat, kepercayaan yang cukup, dan kolaborasi yang kuat, sistem ini bisa menjadi katalisator perubahan besar dalam mengentaskan kemiskinan global.
Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.












