Multifinance

Bitcoin Anjlok ke Level USD71 Ribu Akibat Inflasi dan Gejolak Ekonomi Global

Bintang Fatih Wibawa
×

Bitcoin Anjlok ke Level USD71 Ribu Akibat Inflasi dan Gejolak Ekonomi Global

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Anjlok ke Level USD71 Ribu Akibat Inflasi dan Gejolak Ekonomi Global

Ilustrasi bitcoin sempat menghiasi berita ekonomi global beberapa pekan lalu saat harganya mendekati rekor tertinggi. Sayangnya, momentum itu tak berlangsung lama. Dalam sekejap, harga bitcoin anjlok hingga menyentuh level USD71 ribu. Penurunan ini terjadi seiring dengan ketidakpastian ekonomi global yang kembali meningkat, terutama akibat ancaman inflasi dan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Sentimen pasar kripto langsung tergerus begitu data inflasi AS dirilis lebih tinggi dari ekspektasi. Ditambah lagi, pernyataan Federal Reserve soal ketidakpastian dampak kenaikan harga minyak membuat investor lebih was-was. Pasar bereaksi cepat dengan menjual aset berisiko, termasuk bitcoin dan altcoin lainnya.

Penurunan Tajam Bitcoin dan Kripto Lainnya

Tak hanya bitcoin yang terpuruk, seluruh ekosistem kripto ikut terseret dalam tekanan jual yang kuat. Investor tampaknya memilih menyelamatkan portofolio mereka dengan berpindah ke aset yang dianggap lebih aman.

Berikut ini adalah rincian penurunan harga beberapa aset kripto utama:

Kripto Penurunan (%) Harga Terkini (USD)
Bitcoin 4,5% 71.004,2
Ethereum 6,1% 2.188,74
XRP 4,2% 1,4631
Solana 5,2%
Cardano 6,0%
Dogecoin 5,7%

Data di atas menunjukkan bahwa tidak ada satupun aset kripto besar yang mampu bertahan dari tekanan pasar. Semua mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

Penyebab Utama Penurunan Harga Bitcoin

1. Data Inflasi AS yang Lebih Tinggi dari Perkiraan

Salah satu faktor utama yang memicu jual massal adalah data inflasi AS yang melebihi ekspektasi. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa tekanan harga masih tinggi, dan bisa memaksa The Fed untuk menunda penurunan suku bunga.

2. Ketidakpastian Akibat Konflik Timur Tengah

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada harga minyak dunia. Lonjakan harga energi ini diprediksi akan mendorong inflasi secara keseluruhan, terutama dalam jangka pendek. Jerome Powell pun menyebut bahwa dampaknya bisa berlangsung cukup lama.

3. Keputusan The Fed untuk Tahan Suku Bunga

Federal Reserve memilih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75%. Dari 12 anggota FOMC, 11 di antaranya setuju untuk tidak mengubah kebijakan. Keputusan ini memberi sinyal bahwa bank sentral masih menunggu data ekonomi yang lebih jelas sebelum melakukan langkah selanjutnya.

Dampak pada Sentimen Pasar Kripto

Ketika investor mulai meragukan prospek ekonomi global, aset berisiko seperti kripto otomatis menjadi korban. Pasar kripto memang dikenal sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global, apalagi jika datangnya dari faktor sebesar kebijakan moneter AS.

Selain itu, kabar bahwa bursa kripto Kraken menunda debut pasar mereka menambah tekanan negatif. Investor mulai mempertanyakan apakah saat ini adalah waktu yang tepat untuk terjun ke pasar kripto, atau justru sebaliknya.

Langkah Federal Reserve ke Depan

1. Prediksi Penurunan Suku Bunga Masih Ada

Meski saat ini The Fed memilih untuk tidak menurunkan suku bunga, mereka masih memperkirakan akan ada dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini. Namun, Powell menegaskan bahwa keputusan akan terus dievaluasi setiap kali FOMC bertemu.

2. Waspadai Risiko Stagflasi, Tapi Belum Sampai Titik Itu

Powell menolak menyebut kondisi ekonomi AS saat ini sebagai stagflasi. Menurutnya, stagflasi hanya digunakan untuk situasi yang jauh lebih parah. Namun, ia mengakui bahwa potensi stagflasi tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.

3. Kebijakan Moneter Tetap Fleksibel

Federal Reserve menegaskan bahwa kebijakan moneter mereka tidak mengikuti jalur tetap. Artinya, jika inflasi tetap tinggi atau ekonomi melambat lebih dalam, langkah-langkah baru bisa diambil sewaktu-waktu.

Apa yang Harus Diperhatikan Investor Kripto ke Depannya?

1. Pantau Data Inflasi dan Kebijakan The Fed

Investor perlu terus memantau data inflasi bulanan dan keputusan kebijakan moneter dari The Fed. Kedua faktor ini sangat menentukan arah pasar kripto ke depannya.

2. Waspadai Volatilitas Jangka Pendek

Kondisi ketidakpastian ekonomi global membuat volatilitas pasar kripto menjadi lebih tinggi. Investor yang tidak siap secara mental dan finansial sebaiknya menunda masuk pasar.

3. Diversifikasi Portofolio

Menempatkan seluruh dana di aset kripto bisa berisiko tinggi. Diversifikasi ke aset lain seperti obligasi atau emas bisa menjadi cara untuk mengurangi risiko.

Penutup

Penurunan harga bitcoin ke level USD71 ribu bukanlah kejutan besar jika melihat situasi ekonomi global saat ini. Inflasi yang masih tinggi, ketidakpastian akibat konflik geopolitik, dan kebijakan The Fed yang belum bergerak menurunkan suku bunga menjadi kombinasi yang cukup mematikan bagi aset berisiko.

Namun, bagi investor jangka panjang, fluktuasi ini bisa dijadikan sebagai peluang untuk membeli aset dengan harga lebih murah. Yang penting adalah tetap waspada dan tidak terjebak emosi saat pasar sedang volatile.

Disclaimer: Data harga dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi pasar dan kebijakan moneter global.

Bintang Fatih Wibawa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.