Ilustrasi. Foto: Dok MI
Reporter: Deny Irwanto
Jakarta: Kinerja perusahaan terbukti menjadi faktor paling dominan dalam menentukan ketahanan Bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Temuan ini muncul dari disertasi Abiwodo yang membawanya meraih gelar doktor dari Program Kajian Strategik dan Global, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI).
Disertasi tersebut meneliti pengaruh regulasi, kemampuan adaptasi organisasi, kekuatan aset, dan kecepatan pengambilan keputusan terhadap ketahanan bank. Penelitian ini juga mempertimbangkan peran mediasi dari kinerja perusahaan dan pengelolaan risiko. Hasilnya menunjukkan bahwa kinerja perusahaan memiliki dampak paling besar terhadap ketahanan bank dibandingkan faktor lainnya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Bank Himbara
Penelitian ini mengungkap bahwa ketahanan bank tidak hanya bergantung pada modal yang besar. Faktor lain seperti kecepatan organisasi, pengelolaan risiko, dan kemampuan adaptasi juga memiliki peran penting. Temuan ini menjadi penting mengingat industri perbankan saat ini menghadapi tantangan yang terus berubah dan kompleks.
1. Kinerja Perusahaan sebagai Faktor Utama
Kinerja perusahaan menjadi faktor paling signifikan dalam menentukan ketahanan bank. Semakin baik kinerja yang ditunjukkan oleh bank, semakin besar kemungkinan bank tersebut mampu bertahan di tengah berbagai tekanan eksternal. Ini mencakup efisiensi operasional, kualitas layanan, serta kemampuan menciptakan nilai bagi nasabah dan pemegang saham.
2. Kecepatan Organisasi dalam Mengambil Keputusan
Bank yang mampu mengambil keputusan dengan cepat cenderung lebih tanggap terhadap perubahan pasar. Kecepatan ini menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat ketahanan bank, terutama dalam menghadapi krisis atau peluang bisnis yang datang secara mendadak.
3. Pengelolaan Risiko yang Efektif
Manajemen risiko yang baik membantu bank mengidentifikasi, mengukur, dan mengendalikan berbagai risiko yang dapat mengancam operasionalnya. Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan risiko yang kuat memperkuat hubungan antara kecepatan organisasi dan ketahanan bank.
4. Kemampuan Adaptasi terhadap Perubahan
Dalam dunia perbankan yang dinamis, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan menjadi kunci. Bank yang mampu menyesuaikan diri dengan regulasi baru, perkembangan teknologi, dan fluktuasi pasar lebih memiliki daya tahan yang lebih tinggi.
Temuan Lain dari Penelitian
Selain empat faktor utama, penelitian juga menemukan bahwa regulasi dan kekuatan aset tetap memberikan kontribusi penting. Namun, pengaruhnya tidak langsung. Regulasi dan aset kuat baru berdampak signifikan jika didukung oleh kinerja perusahaan dan pengelolaan risiko yang baik.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan responden dari jajaran manajerial di BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BTN. Jumlah responden mencapai 333 orang. Analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk memastikan akurasi dan validitas hasil.
Perbandingan Pengaruh Faktor terhadap Ketahanan Bank
Berikut adalah ringkasan pengaruh faktor-faktor terhadap ketahanan bank berdasarkan hasil penelitian:
| Faktor | Pengaruh terhadap Ketahanan Bank |
|---|---|
| Kinerja Perusahaan | Sangat tinggi |
| Kecepatan Organisasi | Tinggi |
| Pengelolaan Risiko | Sedang hingga tinggi |
| Kemampuan Adaptasi | Sedang |
| Regulasi | Tidak langsung, tergantung kinerja dan risiko |
| Kekuatan Aset | Tidak langsung, tergantung kinerja dan risiko |
Disclaimer: Data di atas merupakan hasil penelitian pada tahun tertentu dan dapat berubah seiring perkembangan regulasi dan kondisi pasar.
Strategi Jangka Panjang untuk Ketahanan Bank
Menurut Abiwodo, strategi memperkuat ketahanan bank harus bersifat menyeluruh. Tidak cukup hanya mengandalkan modal besar atau kepatuhan terhadap regulasi. Bank harus membangun organisasi yang adaptif, cepat, dan memiliki sistem manajemen risiko yang kuat.
Transformasi digital dan perubahan regulasi global menjadi tantangan yang harus dihadapi secara strategis. Bank yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi dan pengelolaan risiko akan lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Harapan untuk Regulator dan Pelaku Industri
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi regulator dalam menyusun kebijakan yang mendukung ketahanan sistem perbankan nasional. Bagi pelaku industri, temuan ini memberikan wawasan strategis untuk memperkuat struktur organisasi dan pengelolaan risiko.
Abiwodo juga berharap hasil risetnya tidak hanya menjadi karya akademik. Ia ingin temuannya bisa diimplementasikan secara nyata untuk memperkuat industri perbankan nasional agar lebih tangguh menghadapi tantangan ekonomi global.
Penutup
Penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan bank tidak hanya soal modal atau aset. Kinerja perusahaan dan pengelolaan risiko adalah dua pilar utama yang harus terus diperkuat. Dengan membangun organisasi yang cepat, adaptif, dan tangguh dalam mengelola risiko, bank bisa bertahan dan berkembang di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, langkah strategis dalam mengelola kinerja dan risiko menjadi lebih dari sekadar pilihan. Ini adalah keharusan agar sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












