Multifinance

Harga Emas Mengalami Kenaikan Terbatas Meskipun Secara Mingguan Masih Menunjukkan Arah Penurunan

Erna Agnesa
×

Harga Emas Mengalami Kenaikan Terbatas Meskipun Secara Mingguan Masih Menunjukkan Arah Penurunan

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Mengalami Kenaikan Terbatas Meskipun Secara Mingguan Masih Menunjukkan Arah Penurunan

Harga emas naik tipis pada akhir pekan meski tetap terjebak dalam tren penurunan mingguan. Lonjakan lebih dari satu persen pada Jumat (26/6/2026) tak cukup untuk membalikkan arah pergerakan logam mulia tersebut sepanjang minggu. Dinamika pasar yang terus berubah, khususnya terkait ekspektasi kebijakan moneter AS, jadi faktor utama di balik volatilitas ini.

Dolar AS yang menguat akibat spekulasi kenaikan suku bunga Federal Reserve jadi tekanan utama bagi emas. Meski begitu, penurunan harga minyak dan data inflasi yang sesuai ekspektasi memberi sedikit angin segar. Harga emas spot naik 1,6% menjadi USD4.090,26 per ons, sementara emas berjangka naik 1,4% ke level USD4.103,00 per ons. Namun, secara mingguan, emas spot masih minus 1,7%, dan emas berjangka minus 3,3%.

Dinamika Suku Bunga dan Inflasi yang Membentuk Sentimen Pasar

Pergerakan harga emas pe pekan ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS. Data ekonomi terbaru, khususnya soal inflasi, jadi sorotan utama pelaku pasar. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti Mei naik 3,4% secara tahunan, angka tertinggi sejak Oktober 2023. Meski sesuai ekspektasi, angka ini tetap memberi tekanan pada ekspektasi suku bunga.

  1. PCE Inti Naik Sesuai Ekspektasi

    • Inflasi inti naik 0,2% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan.
    • Angka ini dianggap sebagai indikator utama yang dipantau Fed untuk pengambilan keputusan suku bunga.
  2. PCE Utama Juga Naik

    • Kenaikan PCE utama baik bulanan maupun tahunan sesuai prediksi.
    • Kenaikan tahunan mencatat level tertinggi sejak April 2023.
  3. Reaksi Pasar terhadap Data Inflasi

    • Peluang kenaikan suku bunga tahun ini sedikit menurun.
    • Namun, ekspektasi kenaikan tetap tinggi karena data sebelumnya dan harga minyak yang sempat melonjak.

Dolar yang Kuat Jadi Penghambat Emas

Dolar AS menguat sepanjang minggu karena ekspektasi kenaikan suku bunga. Kondisi ini membuat emas terlihat kurang menarik bagi investor asing. Logam mulia yang tidak menghasilkan bunga memang rentan terhadap lingkungan suku bunga yang tinggi.

Komoditas Perubahan Mingguan
Emas Spot -1,7%
Emas Berjangka -3,3%
Perak Spot -9%
Platinum -2,3%

Data menunjukkan bahwa selain emas, logam mulia lainnya juga terpuruk. Perak anjlok hingga 9%, sementara platinum turun 2,3%. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap aset non-yield tidak hanya terjadi pada emas saja.

Sentimen Pasar dan Prediksi Jangka Pendek

David Morrison, analis senior di Trade Nation, menyebut bahwa emas sempat jatuh di bawah USD4.000 pada Rabu lalu, level terendah sejak November 2025. Namun, rebound moderat membawa harga kembali di atas USD4.050. Penurunan nilai dolar setelah rilis data PCE membantu emas menemukan dukungan.

Area sekitar USD4.000 kini dianggap sebagai support kuat. Namun, Morrison juga memperingatkan bahwa terlalu dini menyebut pasar sudah stabil. Volatilitas masih tinggi dan sentimen tetap waspada.

Ketegangan Geopolitik di Selat Hormuz

Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Presiden Donald Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata setelah menembakkan drone ke kapal kargo di Selat Hormuz. Serangan ini menimpa kapal berbendera Singapura bernama Ever Lovely.

  1. Peristiwa di Selat Hormuz

    • Empat drone dilaporkan ditembakkan oleh Iran.
    • Salah satu drone mengenai kapal kargo Ever Lovely.
    • Serangan ini dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.
  2. Respons Pasar terhadap Insiden

    • Harga minyak justru turun meski terjadi serangan.
    • Lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berjalan normal.
    • Investor menilai ancaman terhadap pasokan minyak belum signifikan.

Meski insiden ini menimbulkan kekhawatiran, dampaknya terhadap harga minyak dan emas tidak terlalu besar. Pasar tampaknya sudah mulai mengantisipasi ketegangan geopolitik sebagai bagian dari lanskap investasi saat ini.

Faktor-Faktor yang Mendukung dan Menekan Harga Emas

Harga emas dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi dan geopolitik. Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:

  • Dukungan: Penurunan harga minyak, data inflasi yang sesuai ekspektasi, dan pelemahan dolar.
  • Tekanan: Spekulasi kenaikan suku bunga Fed, dolar yang menguat, dan sentimen pasar yang masih waspada.
  1. Faktor Pendukung Jangka Pendek

    • Penurunan harga minyak.
    • Data PCE yang tidak melesat.
    • Pelemahan dolar terhadap mata uang lain.
  2. Faktor Penekan Jangka Pendek

    • Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed.
    • Dolar yang kuat.
    • Sentimen bearish terhadap aset non-yield.

Prediksi Minggu Depan

Minggu depan akan menjadi krusial bagi arah harga emas. Fokus pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi lainnya serta pernyataan dari pejabat Fed. Investor juga akan terus memantau situasi di kawasan Timur Tengah.

Area support emas saat ini berada di sekitar USD4.000. Jika harga bisa bertahan di atas level ini, peluang rebound ke arah USD4.150 masih terbuka. Namun, jika dolar kembali menguat dan ekspektasi suku bunga meningkat, emas bisa kembali terperosok.

Disclaimer

Data harga emas, suku bunga, dan faktor makroekonomi lainnya bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini dibuat berdasarkan informasi terkini hingga Juni 2026 dan tidak menjamin akurasi jangka panjang. Keputusan investasi sebaiknya selalu didasarkan pada analisis mandiri dan pertimbangan risiko masing-masing individu.

Erna Agnesa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.