Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir, terutama karena gejolak sentimen global dan isu-isu kebijakan domestik. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis. Menurutnya, perekonomian Indonesia memiliki fundamental yang solid dan mampu menopang pemulihan pasar modal ke depan.
Optimisme ini tidak muncul begitu saja. Purbaya menilai bahwa tekanan terhadap IHSG saat ini lebih bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi makro yang sesungguhnya. Inflasi yang masih terjaga, penerimaan pajak yang meningkat, serta daya beli masyarakat yang relatif stabil menjadi pilar utama keyakinan tersebut.
Fundamental Ekonomi yang Mendukung Pemulihan IHSG
Purbaya menekankan bahwa kondisi ekonomi dalam negeri tetap berjalan sebagaimana mestinya. Meski ada tekanan dari luar, struktur ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik. Ini terbukti dari sejumlah indikator makro yang tetap berada dalam koridor wajar.
Salah satu indikator penting yang menjadi acuan adalah inflasi. Pada Mei 2026, inflasi tercatat sebesar 3,08 persen secara year-on-year. Angka ini masih berada dalam target Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen plus minus satu persen. Artinya, tekanan harga belum sampai mengganggu stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat juga masih menunjukkan tanda-tanda positif. Permintaan domestik terhadap berbagai kebutuhan, termasuk kebutuhan tersier seperti hiburan dan akomodasi, tetap tinggi. Ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum tergerus secara signifikan.
Penerimaan Pajak Naik Tajam
Salah satu bukti kuat perekonomian yang sehat adalah peningkatan penerimaan pajak secara konsisten. Hingga akhir April 2026, Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak mencapai Rp646,3 triliun. Jumlah ini naik 16,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp556,9 triliun.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di lapangan masih berjalan dengan baik. Meski ada gejolak pasar, basis ekonomi yang kuat tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara.
Berikut rincian penerimaan pajak secara umum:
| Periode | Penerimaan Pajak | Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|---|
| April 2025 | Rp556,9 triliun | – |
| April 2026 | Rp646,3 triliun | 16,1% |
Sentimen Negatif dan Penyebabnya
Meski fundamental ekonomi terlihat kuat, IHSG tetap mengalami tekanan. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyebut ada lima faktor utama yang menyebabkan sentimen negatif di pasar modal.
-
Tata kelola dan kredibilitas kebijakan
Setelah Moody’s dan Fitch Rating memberikan outlook negatif, investor mulai waspada terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah. -
Tekanan kurs rupiah
Rupiah sempat mendekati level Rp18.000 per USD, memicu kekhawatiran terhadap daya tahan mata uang. -
Menyusutnya kelas menengah
Kelas menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi domestik, kini mulai tergerus daya belinya. -
Dana asing yang keluar terus-menerus
Foreign outflow masih menjadi isu besar yang memengaruhi pergerakan IHSG. -
Risiko komunikasi kebijakan
Investor global mulai meragukan konsistensi dan transparansi dalam penyampaian kebijakan ekonomi.
Penyebab Penurunan IHSG
Purbaya menilai bahwa penurunan IHSG bukan berasal dari kondisi ekonomi riil, melainkan dari reaksi berlebihan terhadap isu-isu jangka pendek. Investor cenderung panik dulu sebelum menganalisis lebih dalam.
Namun, ia tetap menekankan bahwa tidak ada masalah struktural yang mengancam ekonomi nasional. Fondasi ekonomi tetap kuat, dan ini akan menjadi fondasi pemulihan IHSG ke depan.
Strategi Menjaga Stabilitas Ekonomi
Untuk menjaga stabilitas, Purbaya menyebut bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan ekonomi secara ketat. Langkah-langkah yang diambil tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif agar tidak terjadi krisis yang lebih besar.
-
Pemantauan Inflasi Secara Ketat
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terus bekerja sama untuk menjaga laju inflasi tetap dalam target. -
Peningkatan Transparansi Kebijakan
Pemerintah berkomitmen untuk menyampaikan kebijakan secara jelas dan terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di pasar. -
Penguatan Sektor Riil
Program-program yang mendukung UMKM, infrastruktur, dan sektor produktif terus digenjot agar daya tahan ekonomi tetap tinggi. -
Pengendalian Anggaran Negara
Efisiensi belanja negara tetap dilakukan untuk menjaga keseimbangan fiskal.
Harapan ke Depan
Purbaya tidak memasang target khusus untuk level IHSG di tahun ini. Namun, ia yakin bahwa dengan fondasi ekonomi yang kuat, IHSG akan kembali menguat dalam jangka menengah hingga panjang.
Pasalnya, investor asing biasanya akan kembali masuk ketika melihat bahwa negara memiliki fundamental yang solid. Dan saat ini, Indonesia masih termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kawasan Asia Tenggara.
Disclaimer
Data dan kondisi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan global maupun kebijakan domestik. Angka-angka yang disebutkan dalam artikel ini bersumber dari data resmi hingga Mei 2026 dan dapat berbeda seiring laporan resmi terbaru.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












