Multifinance

Goldman Sachs Naikkan Prediksi Harga Gas Eropa Akibat Ketegangan Selat Hormuz

Muhammad Rizal Veto
×

Goldman Sachs Naikkan Prediksi Harga Gas Eropa Akibat Ketegangan Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Goldman Sachs Naikkan Prediksi Harga Gas Eropa Akibat Ketegangan Selat Hormuz

Ilustrasi LNG di Eropa sempat menjadi sorotan tajam di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Pasokan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk Persia terganggu akibat situasi di Selat Hormuz, jalur krusial yang menjadi arteri energi global. Gangguan ini memaksa Goldman Sachs merevisi proyeksi harga gas Eropa ke level yang lebih tinggi, terutama untuk paruh kedua 2026.

Revisi ini bukan datang begitu saja. Analis Samantha Dart dari Goldman Sachs menyebut bahwa pemulihan ekspor LNG dari kawasan Teluk Persia lebih lambat dari yang diperkirakan sebelumnya. Awalnya, pemulihan ditargetkan terjadi pada Juli 2026. Namun, karena situasi di Selat Hormuz belum stabil, estimasi baru menunjukkan pemulihan baru akan terjadi pada Oktober.

Dampak Gangguan Pasokan LNG ke Eropa

Selat Hormuz bukan sembarang jalur pelayaran. Sekitar 20 persen dari pasokan minyak global dan LNG mengalir melalui selat ini. Ketika arus pelayaran terganggu, dampaknya langsung terasa di pasar energi global, terutama Eropa yang sangat bergantung pada impor LNG.

  1. Penurunan pasokan LNG global diperkirakan mencapai 16 juta ton per tahun.
  2. Ini setara dengan sekitar 4 persen dari total pasokan LNG dunia.

Gangguan ini membuat keseimbangan pasokan dan permintaan di Eropa menjadi sangat rapuh. Apalagi, cadangan gas di Eropa Barat Laut juga diperkirakan lebih rendah dari target.

1. Penurunan Cadangan Gas Eropa

Goldman Sachs memperkirakan bahwa penyimpanan gas di Eropa Barat Laut hanya akan terisi sekitar 67 persen pada akhir Oktober. Angka ini lebih rendah dari estimasi sebelumnya yang mencapai 74 persen.

  • Pada akhir musim dingin (Maret 2027), tingkat penyimpanan hanya akan mencapai 28 persen.
  • Proyeksi ini berdasarkan asumsi suhu mengikuti rata-rata historis.

Artinya, Eropa harus bersiap menghadapi pasokan yang ketat menjelang musim dingin. Kondisi ini memicu lonjakan permintaan dan, tentu saja, harga.

Lonjakan Harga Gas TTF di Paruh Kedua 2026

Harga gas Eropa, khususnya Title Transfer Facility (TTF) di Belanda, menjadi barometer utama. Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga TTF karena pasokan yang terbatas dan permintaan yang terus meningkat.

Berikut rincian proyeksi harga TTF Goldman Sachs:

Kuartal Proyeksi Baru (€/MWh) Proyeksi Sebelumnya (€/MWh)
Q3 2026 60 41
Q4 2026 53 40
2027 (rata-rata) 31 30

Lonjakan harga ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan energi Eropa saat ini. Tidak hanya karena faktor geopolitik, tetapi juga karena keterbatasan infrastruktur dan cadangan yang ada.

2. Potensi Lonjakan Harga Lebih Tinggi

Samantha Dart menyebut bahwa harga TTF bisa melonjak hingga 65 euro per MWh selama sisa musim panas. Level ini menjadi titik kritis karena di atasnya, permintaan LNG dari Asia bisa mulai menurun.

  • Jika gangguan di Hormuz berlangsung hingga 2027, harga bisa melampaui 100 euro per MWh.
  • Lonjakan ini diperlukan untuk mengurangi permintaan LNG Asia dan menyeimbangkan pasar global.

Namun, jika situasi di Selat Hormuz pulih lebih cepat, harga bisa turun kembali ke kisaran 40 euro per MWh. Ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap faktor geopolitik.

Perlunya Strategi Lindung Nilai (Hedging)

Menghadapi ketidakpastian ini, Goldman Sachs menyarankan konsumen gas untuk melakukan lindung nilai. Strategi ini penting untuk menghindari risiko lonjakan harga yang tidak terduga.

  1. Hedging membantu mengunci harga dalam jangka pendek.
  2. Mengurangi eksposur terhadap volatilitas pasar energi global.

Langkah ini terutama penting bagi industri berat dan perusahaan listrik yang sangat bergantung pada gas sebagai bahan bakar utama.

3. Skema Jangka Panjang dan Proyeksi Harga

Meski saat ini harga sedang tinggi, Goldman Sachs tetap mempertahankan pandangan bahwa harga gas Eropa akan turun dalam jangka panjang.

  • Pada 2028, harga diperkirakan turun ke 19 euro per MWh.
  • Pada 2029, bisa turun lebih lanjut ke 16 euro per MWh.

Proyeksi ini bergantung pada normalisasi penuh aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Selain itu, tambahan pasokan dari proyek ekspor LNG baru di Amerika Serikat juga bisa membantu menekan harga.

Faktor Pendukung dan Risiko ke Depan

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi arah harga gas Eropa ke depannya.

  • Peningkatan penggunaan energi terbarukan di Asia.
  • Penurunan ketergantungan pada gas dan batu bara.
  • Mulai beroperasinya proyek LNG baru dari AS.

Namun, risiko tetap ada. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah bisa memicu gangguan baru kapan saja. Selain itu, cuaca ekstrem atau kebijakan pemerintah juga bisa mengubah dinamika pasar.

Kesimpulan

Gangguan di Selat Hormuz telah mengubah peta energi global. Eropa, yang sudah menghadapi tantangan pasokan, kini harus siap menghadapi kenaikan harga gas yang signifikan. Goldman Sachs memperkirakan lonjakan harga hingga 60 euro per MWh di kuartal ketiga 2026.

Namun, situasi ini tidak permanen. Jika kondisi di Hormuz pulih, harga bisa turun kembali. Tapi selama ketidakpastian masih tinggi, langkah antisipatif seperti hedging menjadi penting untuk mengurangi risiko.

Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat prediktif dan dapat berubah tergantung pada perkembangan geopolitik serta kondisi pasar global.

Muhammad Rizal Veto
Reporter at Pantai Teluk Awur

Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.