MIUI, sistem operasi andalan Xiaomi, memang punya daya tarik tersendiri di kalangan pengguna Android. Namun, belakangan ini muncul banyak keluhan soal performa dan pengalaman pengguna. Banyak yang merasa sistem ini mulai terasa berat, lambat, bahkan penuh iklan. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang membuat MIUI jadi kurang nyaman digunakan.
Salah satu isu besar yang kerap disorot adalah keberadaan iklan bawaan. Iklan ini muncul di berbagai sudut antarmuka, mulai dari launcher hingga notifikasi. Pengguna merasa gangguan ini mengganggu privasi dan mengurangi kenyamanan. Belum lagi, beberapa fitur MIUI yang tadinya berguna malah berubah jadi beban karena dibarengi penawaran promosi atau tautan berbayar.
Mengapa MIUI Terasa Makin Berat?
Perubahan besar dalam MIUI sejak versi-versi terbaru ternyata tidak selalu memberikan dampak positif. Alih-alih makin canggih, justru banyak pengguna merasa pengalaman makin rumit. Dari segi desain hingga cara kerja aplikasi internal, MIUI kini tampak lebih “penuh sesak” dengan elemen-elemen yang tidak selalu dibutuhkan.
1. Penumpukan Fitur yang Tidak Diperlukan
MIUI kini hadir dengan banyak sekali fitur tambahan. Beberapa di antaranya memang inovatif, tapi banyak juga yang dirasa berlebihan. Misalnya widget animasi yang boros RAM, atau layanan latar belakang yang terus-menerus aktif meski tidak digunakan. Ini semua berkontribusi pada penurunan performa, terutama di perangkat entry-level.
2. Iklan Internal yang Mengganggu
Iklan di MIUI bukan cuma muncul di browser. Iklan ini juga bisa ditemukan di galeri, file manager, bahkan di aplikasi bawaan lainnya. Meski bisa dimatikan melalui pengaturan, tetap saja kehadirannya dianggap invasif. Banyak pengguna yang merasa ini seperti praktik monetisasi berlebihan dari Xiaomi.
3. Pembaruan yang Kurang Stabil
Beberapa pembaruan MIUI justru membawa bug atau ketidakstabilan. Pengguna sering mengeluh soal aplikasi crash, UI freeze, atau bahkan penurunan daya tahan baterai setelah update. Padahal tujuan utama pembaruan seharusnya meningkatkan pengalaman, bukan malah memperburuknya.
Bagaimana Xiaomi Merespons Keluhan Ini?
Xiaomi tentu sadar akan isu-isu ini. Di beberapa kesempatan, perusahaan ini menyampaikan bahwa mereka sedang berupaya membersihkan MIUI dari elemen-elemen yang tidak relevan. Salah satunya adalah dengan mengurangi jumlah iklan dan menyederhanakan antarmuka.
Namun, langkah konkret yang diambil masih dirasa lambat oleh sebagian besar pengguna. Banyak yang menilai bahwa perubahan yang dilakukan belum menyentuh akar masalah. Padahal, MIUI dulunya dikenal ringan dan efisien, terutama di era MIUI 7 hingga MIUI 9.
4. Fokus pada MIUI Alpha dan Beta
Xiaomi mulai menghadirkan versi MIUI yang lebih bersih lewat program alpha dan beta. Versi-versi ini biasanya minim iklan dan lebih stabil. Sayangnya, versi ini hanya tersedia untuk sejumlah terbatas pengguna terpilih, sehingga manfaatnya belum dirasakan secara luas.
5. Kolaborasi dengan Komunitas Pengguna
Komunitas pengguna MIUI cukup aktif memberikan feedback. Xiaomi mulai mendengarkan aspirasi ini dan mengintegrasikannya dalam pengembangan MIUI ke depan. Namun, prosesnya masih terasa lambat dan tidak semua masukan langsung ditindaklanjuti.
Apakah MIUI Masih Layak Dipakai?
Meski ada banyak tantangan, MIUI tetap memiliki basis pengguna yang besar. Kelebihan seperti personalisasi yang tinggi, tema yang beragam, dan integrasi erat dengan ekosistem Xiaomi masih menjadi nilai tambah. Tapi, semua itu bisa saja sirna jika pengalaman inti terus menurun.
Bagi pengguna baru, MIUI mungkin terasa menarik karena tampilannya yang modern dan fitur-fitur uniknya. Namun, bagi pengguna lama, MIUI terasa seperti kehilangan identitasnya sendiri. Yang dulunya cepat dan hemat sumber daya, kini justru penuh dengan elemen yang mengganggu.
6. Alternatif ROM untuk Pengguna Teknis
Beberapa pengguna memilih memasang custom ROM seperti Pixel Experience atau LineageOS untuk menghindari MIUI. Ini adalah solusi radikal, tapi efektif bagi mereka yang mengutamakan performa dan kebebasan. Sayangnya, opsi ini tidak cocok untuk pengguna awam.
7. Optimalkan MIUI Secara Manual
Ada beberapa trik untuk mengurangi beban MIUI, seperti mematikan iklan, menonaktifkan aplikasi latar belakang, dan membersihkan cache secara rutin. Tapi, ini bukan solusi jangka panjang. Idealnya, Xiaomi yang harus menyediakan pengalaman bersih sejak awal.
Perbandingan MIUI dengan OS Lain
| Aspek | MIUI | OxygenOS (OnePlus) | ColorOS (OPPO) |
|---|---|---|---|
| Stabilitas | ★★★☆☆ | ★★★★☆ | ★★★★☆ |
| Iklan Internal | ★☆☆☆☆ | ★★★★★ | ★★★★☆ |
| Personalisasi | ★★★★★ | ★★★★☆ | ★★★★☆ |
| Performa Umum | ★★★☆☆ | ★★★★★ | ★★★★☆ |
Catatan: Penilaian bersifat subjektif berdasarkan umpan balik pengguna dan pengujian umum.
Harapan ke Depan untuk MIUI
Ke depan, MIUI perlu kembali ke filosofi dasarnya: cepat, stabil, dan ramah pengguna. Monetisasi boleh saja dilakukan, tapi tidak boleh mengorbankan pengalaman inti. Xiaomi juga perlu lebih transparan dalam mengomunikasikan rencana pengembangan ke pengguna.
Selain itu, kolaborasi dengan developer independen dan komunitas lokal bisa menjadi jalan keluar. Dengan begitu, MIUI bisa tetap inovatif tanpa kehilangan esensi yang membuatnya populer di masa lalu.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pengalaman pengguna umum dan perkembangan MIUI hingga April 2025. Xiaomi terus melakukan pembaruan, sehingga beberapa poin bisa saja berubah seiring waktu. Hasil pengujian dan opini pengguna bisa berbeda-beda tergantung perangkat dan versi MIUI yang digunakan.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












