Multifinance

Penguatan Rupiah Terhadap Dolar AS Dipicu oleh Sentimen Positif Pasar Keuangan Global

Nurkasmini Nikmawati
×

Penguatan Rupiah Terhadap Dolar AS Dipicu oleh Sentimen Positif Pasar Keuangan Global

Sebarkan artikel ini
Penguatan Rupiah Terhadap Dolar AS Dipicu oleh Sentimen Positif Pasar Keuangan Global

Dolar AS mengalami tekanan pekan ini, melemah terhadap sejumlah mata uang utama jelang pertemuan penting para pejabat keuangan global. Pelemahan ini terjadi seiring redanya aksi jual obligasi global dan belum adanya perkembangan berarti dalam diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.

Indeks dolar AS, yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,3% menjadi 99,19 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Meski begitu, minggu sebelumnya sempat menjadi periode terbaik bagi dolar dalam lebih dari sembilan bulan, berkat ekspektasi kenaikan suku bunga di berbagai negara maju.

Penyebab Pelemahan Dolar AS

Pelemahan dolar kali ini tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor eksternal dan internal yang saling berinteraksi, menciptakan tekanan pada mata uang cadangan dunia ini. Di antaranya adalah dinamika pasar obligasi, ekspektasi inflasi, dan situasi geopolitik yang masih hangat.

1. Aksi Jual Obligasi Global Mereda

Awal pekan ini ditandai dengan meredanya gelombang jual obligasi global yang sempat mencapai puncaknya pada Jumat sebelumnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik tipis menjadi 4,608%, sementara obligasi 30 tahun stagnan di angka 5,127%.

Jenis Obligasi Imbal Hasil (%)
AS 10 tahun 4,608
AS 30 tahun 5,127
Inggris 30 tahun Tertinggi sepanjang masa
Jepang 30 tahun Tertinggi sepanjang masa

2. Data Inflasi Picu Spekulasi Suku Bunga

Data inflasi dari beberapa negara besar, termasuk AS, menunjukkan lonjakan harga yang dipicu oleh kenaikan harga minyak akibat konflik Iran. Lonjakan ini membuat investor mulai menggeser ekspektasi mereka dari potongan suku bunga menjadi kenaikan suku bunga.

Mark Zandi dari Moody’s Analytics menyebut bahwa lonjakan imbal hasil obligasi 10 tahun hingga 4,6% mencerminkan perubahan pandangan cepat terhadap langkah Fed. Ia menilai bahwa ekspektasi inflasi yang tak terkendali sangat menakutkan bagi bank sentral mana pun.

3. Ketidakpastian Kepemimpinan The Fed

Federal Reserve saat ini berada dalam fase transisi. Kabar pelantikan Ketua baru, Kevin Warsh, pada akhir pekan ini menambah ketidakpastian. Investor khawatir kebijakan moneternya akan lebih hawkish dibanding pendahulunya.

Dampak pada Mata Uang Lain

Sementara dolar melemah, mata uang-mata uang lain mendapat dorongan. Euro dan poundsterling mencatat kenaikan, sedangkan yen Jepang sedikit tertekan meski sempat mendapat intervensi dari pemerintah.

1. Euro Naik Tipis di Tengah Fokus pada G7

Euro menguat 0,3% menjadi USD1,1654. Penguatan ini terjadi menjelang pertemuan G7 yang digelar di Prancis, di mana topik utama adalah dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah.

2. Poundsterling Melonjak Lebih Tajam

Sterling naik 0,8% ke level USD1,3434. Kenaikan ini didukung oleh optimisme terhadap kebijakan ekonomi Inggris serta ekspektasi bahwa Bank of England akan mulai menyesuaikan suku bunga lebih awal daripada yang diperkirakan.

3. Yen Jepang Terbatas oleh Intervensi

Pasangan USD/JPY naik tipis 0,1% menjadi 158,85. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, mengakui adanya intervensi untuk menahan penguatan yen pada akhir April lalu. Namun, volatilitas pasar dan harga minyak masih memberi tekanan.

Ekspektasi Pasar Menuju Kenaikan Suku Bunga

Meskipun belum ada keputusan resmi, alat prediksi CME FedWatch menunjukkan bahwa peluang kenaikan suku bunga di AS tetap tinggi di setiap pertemuan tersisa tahun ini. Investor tampaknya telah sepakat bahwa langkah selanjutnya dari Fed bukanlah pemotongan suku bunga, melainkan kenaikan.

Pertemuan Fed Peluang Kenaikan Suku Bunga (%)
Juni 2026 72%
Juli 2026 68%
September 2026 65%

Kesimpulan

Pelemahan dolar AS bukan hanya soal angka. Ini adalah cerminan dari dinamika global yang kompleks: dari gejolak politik hingga ekspektasi ekonomi. Investor kini harus waspada terhadap perkembangan lebih lanjut dari G7 dan kebijakan baru The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar riil. Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Pantai Teluk Awur

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.