Harga minyak dunia memang sempat terkoreksi pada awal pekan ini. Meski demikian, level harga masih tetap tinggi, khususnya untuk minyak mentah Brent yang masih berada di atas USD100 per barel. Koreksi ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa AS tengah berupaya mengamankan jalur energi penting seperti Selat Hormuz. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah tetap berpotensi memicu volatilitas harga minyak ke depan.
Perdagangan Senin (16 Maret 2026) mencatat penurunan harga minyak Brent sebesar 0,23 persen atau 24 sen, turun ke posisi USD102,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami penurunan sebesar 1,08 persen atau USD1,07, menjadi USD97,64 per barel. Penurunan ini terjadi meskipun sebelumnya harga sempat melonjak tajam karena ketegangan antara AS dan Iran.
Lonjakan Harga Minyak di Tengah Ketegangan Geopolitik
Lonjakan harga minyak yang terjadi sepanjang Maret 2026 mencatat kenaikan lebih dari 40 persen. Kenaikan ini merupakan level tertinggi sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh serangan militer AS-Israel terhadap Iran yang membuat Teheran membatasi pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak terpenting di dunia, dan gangguan di sana berdampak langsung pada pasokan global.
Iran, sebagai salah satu produsen minyak besar dunia, memiliki kapasitas ekspor yang besar melalui Selat Hormuz. Ketika akses ini terganggu, pasar global langsung merasakan dampaknya dalam bentuk lonjakan harga. Selain itu, ancaman serangan balasan dari Iran semakin memperburuk situasi. Salah satunya adalah serangan drone ke terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab.
1. Ancaman Serangan Balasan dari Iran
Iran tidak tinggal diam setelah serangan terhadap infrastruktur militernya. Negara ini membalas dengan menargetkan terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab. Serangan ini menunjukkan bahwa ketegangan tidak hanya terbatas pada AS dan Iran, tetapi juga bisa meluas ke negara-negara di kawasan.
Fujairah, yang berada di luar Selat Hormuz, merupakan jalur keluar untuk sekitar satu juta barel minyak mentah Murban per hari. Meski operasional di terminal tersebut sudah kembali berjalan, belum diketahui apakah aktivitasnya sudah pulih sepenuhnya.
2. Peran Donald Trump dalam Stabilitas Jalur Energi
Presiden Trump menyatakan bahwa AS tengah menjalin komunikasi dengan beberapa negara untuk membantu menjaga jalur energi penting seperti Selat Hormuz. Ia juga menyatakan bahwa Washington sedang berdiskusi dengan Teheran, meski menunjukkan keraguan apakah Iran benar-benar terbuka untuk negosiasi serius.
Trump bahkan mengancam akan melakukan serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. Ancaman ini menunjukkan bahwa ketegangan masih jauh dari selesai dan bisa memicu eskalasi lebih lanjut.
Upaya Stabilisasi Pasar Minyak Global
Di tengah ketidakpastian geopolitik, beberapa langkah telah diambil untuk menjaga stabilitas pasar minyak global. Badan Energi Internasional (IEA) mengumumkan akan melepaskan cadangan minyak sebesar lebih dari 400 juta barel. Ini merupakan penarikan cadangan terbesar yang pernah dilakukan, dengan tujuan menekan lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah.
3. Pelepasan Cadangan Minyak oleh IEA
Badan Energi Internasional mengatakan bahwa cadangan dari negara-negara Asia dan Oseania akan segera dilepaskan ke pasar. Sementara itu, cadangan dari Eropa dan Amerika akan mulai tersedia pada akhir Maret. Langkah ini diharapkan bisa memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak yang sedang tinggi.
Namun, efektivitas pelepasan cadangan ini masih perlu dilihat dalam jangka panjang. Pasalnya, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut bisa saja menggerogoti manfaat dari langkah ini.
4. Prediksi Pemulihan Pasokan Minyak
Menteri Energi AS, Chris Wright, memperkirakan bahwa konflik antara AS dan Iran akan selesai dalam beberapa minggu ke depan. Ia menyatakan bahwa pasokan minyak akan kembali normal dan biaya energi akan turun setelah itu. Namun, prediksi ini masih sangat bergantung pada perkembangan di lapangan.
Perbandingan Harga Minyak Mentah Brent dan WTI
Berikut adalah perbandingan harga minyak mentah Brent dan WTI pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026:
| Jenis Minyak | Harga (USD/barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Brent | 102,90 | -0,23% |
| WTI | 97,64 | -1,08% |
Perbedaan harga antara Brent dan WTI mencerminkan kondisi pasar yang berbeda. Brent lebih dipengaruhi oleh faktor global, sementara WTI lebih fokus pada pasar domestik AS.
Disclaimer
Harga minyak bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar global. Data dalam artikel ini bersifat valid hingga tanggal publikasi dan dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












