Harga emas dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di tengah situasi geopolitik yang masih mengganjal. Setelah sempat tertekan karena optimisme pasar saham, investor kembali melirik logam mulia ini sebagai aset safe haven. Namun, kenaikan yang terjadi belum cukup untuk menghapus kerugian bulanan yang cukup dalam.
Kondisi ini terjadi seiring dengan isu perpanjangan konflik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga dari berbagai bank sentral. Meski begitu, sentimen positif dari kabar kemungkinan berakhirnya operasi militer AS di Iran memberi angin segar bagi pasar logam mulia.
Harga Emas Dunia Naik Tipis, Tapi Masih Tertekan Sentimen Makro Global
Harga emas spot naik 3,8 persen menjadi USD4.682,23 per ons pada perdagangan Selasa waktu Chicago (Rabu WIB). Sementara itu, harga emas berjangka juga mengikuti tren serupa dengan kenaikan 3,4 persen, mencatatkan angka USD4.712,55 per ons.
Walaupun ada kenaikan, emas tetap berada di jalur untuk mencatatkan kinerja bulanan terburuknya sejak Oktober 2008. Di sepanjang Maret 2026, logam mulia ini terperosok hingga 11,3 persen. Bahkan, tren bullish yang berlangsung selama tujuh bulan tampaknya akan berakhir.
Investor sempat menjauhkan diri dari emas karena meningkatnya ekspektasi inflasi yang dipicu oleh konflik Iran-Israel. Lonjakan harga minyak dunia dan potensi kenaikan suku bunga membuat aset yang tidak menghasilkan bunga ini kurang menarik.
Faktor yang Mendorong Kenaikan Emas
-
Kabar dari Wall Street Journal menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer di Iran lebih awal. Langkah ini memberi harapan akan berakhirnya ketegangan di Selat Hormuz.
-
Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang tetap terjaga meski ada gejolak jangka pendek. Ini memberi sedikit optimisme bahwa emas masih bisa menjadi lindung nilai.
-
Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Teluk Persia juga turut mendorong permintaan terhadap emas sebagai hedge terhadap risiko inflasi.
Namun, faktor-faktor ini belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga dari sejumlah bank sentral global.
Perbandingan Kinerja Logam Mulia Bulan Maret 2026
| Jenis Logam | Harga Terkini (USD/ons) | Kenaikan Harian | Kinerja Bulanan |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | 4.682,23 | +3,8% | -11,3% |
| Emas Berjangka | 4.712,55 | +3,4% | -11,3% |
| Perak Spot | 75,10 | +7,1% | -19,8% |
| Platinum Spot | 1.967,00 | +3,2% | -18,0% |
Catatan: Data di atas bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar global.
Mengapa Emas Masih Menarik Meski Tertekan?
Meski mengalami kinerja terburuk dalam lebih dari 17 tahun, investor tetap tidak meninggalkan emas begitu saja. Ada beberapa alasan mengapa logam mulia ini masih menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian.
Pertama, emas selalu menjadi pilihan utama saat ketegangan geopolitik meningkat. Dengan konflik yang belum usai di Teluk Persia, investor cenderung mencari aset yang aman.
Kedua, meskipun imbal hasil obligasi naik, ekspektasi inflasi jangka panjang masih menjadi pertimbangan. Emas tetap relevan sebagai alat lindung nilai jangka panjang.
Ketiga, sentimen bahwa perang di Timur Tengah bisa berakhir memberi peluang bagi pemulihan harga emas di kuartal kedua 2026.
Logam Mulia Lainnya Juga Tertekan
Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan serupa. Perak spot, meski naik 7,1 persen menjadi USD75,10 per ons, tetap menuju penurunan bulanan hampir 20 persen.
Platinum juga tidak luput dari tekanan. Harganya naik 3,2 persen menjadi USD1.967,00 per ons, tetapi tetap akan mencatatkan penurunan bulanan sebesar 18 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa seluruh kelas aset logam mulia sedang menghadapi tekanan yang sama akibat faktor makro ekonomi global.
3 Tips untuk Investor yang Masih Tertarik pada Emas
-
Pantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kabar tentang penyelesaian konflik bisa menjadi pemicu kenaikan harga emas mendadak.
-
Amati kebijakan bank sentral. Keputusan kenaikan atau pemotongan suku bunga akan sangat berpengaruh terhadap daya tarik emas.
-
Gunakan pendekatan jangka panjang. Jangan terjebak pada fluktuasi harian. Emas lebih efektif sebagai lindung nilai jika dipegang dalam jangka panjang.
Penutup
Harga emas dunia memang sedang berada di fase yang tidak mudah. Di satu sisi, ada tekanan dari kenaikan imbal hasil dan ekspektasi suku bunga. Di sisi lain, ketegangan geopolitik dan risiko inflasi terus memberi ruang bagi emas untuk pulih.
Investor yang ingin memanfaatkan situasi ini perlu tetap waspada. Pasar bisa berubah cepat, terutama dalam kondisi seperti ini. Menjaga posisi tetap fleksibel dan terus memantau perkembangan global adalah kunci agar tidak ketinggalan peluang.
Disclaimer: Data harga emas dan logam mulia bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi pasar global. Informasi dalam artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi finansial.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












