Harga minyak dunia kembali menggelegak. Brent melonjak hampir 8%, sementara WTI menembus level USD110 per barel. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap Iran dalam waktu dekat. Sentimen pasar langsung terkoreksi tajam, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan global yang berkepanjangan.
Tak hanya itu, Iran juga dikabarkan tengah menyusun protokol baru dengan Oman terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Kabar ini menambah ketegangan, sekaligus memperjelas betapa rentan jalur strategis itu terhadap gejolak politik dan militer.
Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan Geopolitik
Lonjakan harga minyak terjadi dalam waktu singkat. Brent naik 7,6% menjadi USD108,82 per barel, sedangkan WTI melonjak 11,7% ke level USD111,84. Angka-angka ini mencerminkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap isu geopolitik, terutama yang berkaitan dengan kawasan Timur Tengah.
Sentimen negatif semakin diperkuat oleh pernyataan Trump yang tegas. Ia menyatakan bahwa AS akan menyerang Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ancaman itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan secara langsung, menambah tekanan pada investor yang sudah was-was terhadap potensi gangguan pasokan.
1. Pernyataan Trump Picu Volatilitas Pasar
Pernyataan keras Trump langsung memicu reaksi di pasar komoditas. Investor langsung mencari aset aman, salah satunya adalah minyak mentah. Pasalnya, ketegangan dengan Iran berpotensi mengganggu aliran minyak dari kawasan yang menjadi penyumbang besar energi global.
Trump menyebut bahwa AS memiliki "semua kartu" dan Iran "tidak punya apa-apa". Ia juga menyatakan bahwa AS bisa saja meninggalkan Iran dalam beberapa minggu ke depan, meski tanpa perjanjian formal. Pernyataan ini menimbulkan ketidakpastian yang tinggi.
2. Iran dan Oman Susun Protokol untuk Selat Hormuz
Iran dilaporkan tengah menyusun protokol bersama Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Langkah ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui IRNA, kantor berita pemerintah.
Protokol ini katanya bukan untuk membatasi lalu lintas, melainkan untuk memastikan keamanan dan layanan yang lebih baik bagi kapal yang melintas. Namun, langkah ini tetap dianggap sebagai sinyal waspada dari Teheran.
Ketidakpastian Gencatan Senjata
Harapan akan de-escalation yang sempat muncul di awal pekan langsung buyar. Trump justru kembali memperkeruh suasana dengan ancaman serangan. Ia menyebut bahwa militer AS akan meningkatkan operasi terhadap Iran dalam beberapa minggu mendatang.
2026. Ia menyebut bahwa militer AS akan meningkatkan operasi terhadap Iran dalam beberapa minggu mendatang.
Trump juga menyebut bahwa rezim baru Iran telah meminta gencatan senjata. Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran. Media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata.
3. Penolakan Iran terhadap Klaim Trump
Iran menegaskan bahwa tidak ada permintaan gencatan senjata yang diajukan ke AS. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa pernyataan Trump hanya merupakan narasi politik untuk memperkuat posisinya di dalam negeri. Padahal, kenyataannya, belum ada tanda-tanda nyata dari Teheran untuk mundur dari pendiriannya.
Ketidakjelasan ini memperbesar risiko eskalasi lebih lanjut. Investor pun terus waspada, karena situasi yang tidak menentu bisa memicu lonjakan harga minyak yang lebih tinggi lagi.
Proyeksi Harga Minyak di Masa Depan
UBS, lembaga analis keuangan ternama, memperkirakan bahwa persediaan minyak global telah turun ke rata-rata lima tahun terakhir pada akhir Maret. Jika gangguan pasokan terus berlanjut, angka ini bisa turun lebih dalam di akhir April.
Bank tersebut memperkirakan bahwa harga minyak bisa melonjak melebihi USD150 per barel jika tidak ada perbaikan signifikan dalam waktu dekat. Ini adalah angka yang sangat tinggi, mengingat harga minyak saat ini sudah berada di level yang cukup mengkhawatirkan.
4. Persediaan Minyak Mentah AS Naik Tipis
Dari sisi penawaran, Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat kenaikan persediaan minyak mentah sekitar 5,5 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Maret. Angka ini sedikit melebihi ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan moderat.
Namun, kenaikan ini tidak cukup untuk menekan harga. Sentimen negatif dari geopolitik masih lebih dominan dibandingkan faktor fundamental seperti persediaan.
Risiko Selat Hormuz Masih Mengintai
Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis dalam rantai pasok minyak global. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melintasi selat ini setiap hari. Penutupan atau gangguan di jalur ini bisa memicu krisis energi global.
Investor masih ragu apakah gangguan di kawasan ini bisa segera berakhir. Tanpa visibilitas yang jelas, risiko kenaikan harga minyak dan gas dalam jangka pendek tetap tinggi.
5. Iran Akan Kenakan Tarif untuk Kapal yang Lewat Hormuz
Langkah Iran yang akan memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz dianggap sebagai bentuk respons terhadap tekanan AS. Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa langkah ini sebagai bagian dari protokol baru yang sedang disusun.
AS sendiri menilai langkah ini sebagai "tidak dapat diterima". Namun, Iran bersikeras bahwa ini adalah hak berdaulat mereka untuk mengatur jalur strategis mereka sendiri.
Perbandingan Harga Minyak Dunia (3 April 2026)
| Komoditas | Harga (USD/barel) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Brent | 108,82 | +7,6% |
| WTI | 111,84 | +11,7% |
Catatan: Data bersifat real-time dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan geopolitik dan pasar global.
Kesimpulan
Lonjakan harga minyak Brent dan WTI pada awal April 2026 mencerminkan ketidakpastian global yang tinggi akibat ketegangan antara AS dan Iran. Ancaman serangan militer dari Trump, ditambah langkah Iran yang menyusun protokol baru untuk Selat Hormuz, memperbesar risiko gangguan pasokan jangka pendek.
Investor dan produsen energi global perlu terus memantau perkembangan situasi di kawasan. Jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi, bahkan berpotensi menyentuh level USD150 per barel.
Disclaimer: Harga minyak sangat dinamis dan dipengaruhi oleh faktor geopolitik serta ekonomi global. Data dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan sumber terpercaya dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











