Harga minyak dunia kembali turun pada akhir pekan ini seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Pasar minyak bereaksi cepat terhadap perkembangan terkini antara Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait potensi kesepakatan damai yang bisa membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Investor dan pelaku pasar tengah menunggu hasil pertemuan Presiden Donald Trump dengan para pejabat senior di Gedung Putih. Meski belum ada keputusan resmi, sinyal optimis dari pihak AS telah memicu koreksi harga minyak secara signifikan menjelang akhir perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.
Penurunan Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,9 persen menjadi USD91,87 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 0,9 persen menjadi USD88,09 per barel. Penurunan ini menjadi yang pertama kali sejak konflik antara AS dan Iran memuncak pada akhir Februari lalu.
-
Penurunan tajam dalam sebulan
Harga minyak Brent dan WTI menuju penutupan bulan Mei dengan kerugian lebih dari 19 persen dan 16 persen masing-masing. Ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2020 dan April 2025. -
Harapan akan pembukaan kembali Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan jalur kritis bagi perdagangan minyak global. Penutupan yang berkepanjangan sejak Februari telah menyebabkan gangguan pasokan besar-besaran dan lonjakan harga energi. Namun, optimisme akan kesepakatan damai membuat pasar mulai melihat kemungkinan pembukaan jalur tersebut kembali.
Dinamika Kesepakatan AS-Iran
Presiden Trump mengumumkan akan mengambil keputusan akhir terkait kesepakatan dengan Iran setelah pertemuan dua jam di Ruang Situasi Gedung Putih. Meski demikian, pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan konkret.
-
Pernyataan Trump soal kesepakatan
Trump menyatakan bahwa kesepakatan akan mencakup beberapa poin penting, antara lain:- Iran tidak akan memiliki senjata atau bom nuklir.
- Selat Hormuz akan dibuka kembali tanpa biaya tol.
- Penghapusan ranjau di jalur air strategis tersebut.
- Pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran.
-
Respons dari Iran
Kantor Berita Fars menyebut pernyataan Trump sebagai “campuran kebenaran dan kebohongan.” Iran membantah adanya klausul yang mewajibkan mereka membuka Selat Hormuz tanpa biaya atau menyerahkan material nuklir. -
Negosiasi belum dimulai
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa belum ada negosiasi resmi mengenai program nuklir Teheran pada tahap ini.
Dampak pada Inflasi dan Ekonomi Global
Lonjakan harga minyak sejak awal konflik telah memicu tekanan inflasi di berbagai negara, khususnya Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (PCE) naik pada laju tahunan tercepat sejak November 2023.
-
Harga bensin naik lebih dari 50 persen
Lonjakan harga energi berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga. Konsumen AS merasakan beban ekstra akibat kenaikan harga bensin yang signifikan sejak awal konflik. -
Analisis JPMorgan terkait dampak energi terhadap inflasi
- Kenaikan harga minyak sebesar 50 persen dapat meningkatkan PCE inti sekitar 0,3 hingga 0,4 persen.
- Dalam skenario tertentu, rata-rata PCE inti bisa naik 10 hingga 15 basis poin selama 2026-2027.
- Input minyak bumi menyumbang sekitar 1,0 persen dari biaya konsumsi pribadi inti.
Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Pasar Minyak
Meski Selat Hormuz tetap ditutup secara resmi, sejumlah kapal telah berhasil melewati jalur tersebut di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Hal ini memberi sinyal bahwa aktivitas maritim mulai normal kembali, meski belum sepenuhnya bebas gangguan.
-
Transit kapal mulai aman
Keberhasilan beberapa kapal melewati Selat Hormuz tanpa insiden memberi keyakinan pasar bahwa jalur tersebut bisa kembali beroperasi normal jika kesepakatan damai dicapai. -
Harapan akan normalisasi pasokan minyak
Jika Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali, pasokan minyak global akan pulih dengan cepat. Ini akan mendorong penurunan lebih lanjut pada harga minyak jika tidak ada gangguan baru.
Perbandingan Penurunan Harga Minyak
| Jenis Minyak | Harga Sebelumnya | Harga Saat Ini | Penurunan Bulan Mei | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Brent | USD113,50 | USD91,87 | 19,1% | Terburuk sejak Maret 2020 |
| WTI | USD104,90 | USD88,09 | 16,0% | Terburuk sejak April 2025 |
Kesimpulan
Penurunan harga minyak akhir pekan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap potensi penyelesaian konflik AS-Iran. Meski belum ada keputusan resmi, sinyal dari pihak AS telah cukup untuk mendorong koreksi harga yang cukup dalam.
Namun, ketidakpastian masih tinggi. Pernyataan dari Iran yang menyangkal adanya kesepakatan menunjukkan bahwa proses diplomasi masih panjang. Harga minyak bisa kembali naik jika muncul ketegangan baru atau jika kesepakatan gagal tercapai.
Disclaimer: Data harga minyak dan kondisi geopolitik bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berbeda dengan kondisi aktual di pasar.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












