Multifinance

Emas Turun 2 Persen Seiring Penguatan Dolar dan Harga Minyak yang Melonjak

Ryando Putra Jameni
×

Emas Turun 2 Persen Seiring Penguatan Dolar dan Harga Minyak yang Melonjak

Sebarkan artikel ini
Emas Turun 2 Persen Seiring Penguatan Dolar dan Harga Minyak yang Melonjak

Harga emas dunia terperosok hingga 2 persen pada perdagangan Kamis waktu Chicago. Penurunan ini terjadi meski sehari sebelumnya logam mulia ini sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua pekan. Pelemahan harga emas ini dipicu oleh penguatan dolar AS yang berbarengan dengan lonjakan harga minyak mentah dunia.

Lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Investor mulai menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Situasi ini menciptakan tekanan tambahan bagi emas yang memang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan nilai tukar dolar.

Dinamika Harga Emas dan Faktor Pendorongnya

Emas kerap dijadikan instrumen investasi lindung nilai saat ketidakpastian ekonomi atau geopolitik meningkat. Namun, saat inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga naik, emas justru bisa tertekan karena tidak memberikan bunga atau imbal hasil.

1. Penguatan Dolar AS

Dolar Amerika Serikat menguat di tengah ketegangan geopolitik dan lonjakan harga minyak. Kekuatan dolar membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global terhadap emas bisa melambat.

2. Lonjakan Harga Minyak Mentah

Harga minyak mentah Brent kembali melonjak menembus level USD100 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah oleh kelompok Houthi. Insiden ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

3. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pelaku pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli 2026 semakin nyata. Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin naik menjadi sekitar 34 persen, dari sebelumnya hanya 12 persen.

Dampak Geopolitik di Kawasan Timur Tengah

Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas. Serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah memicu kekhawatiran akan terganggunya jalur pasok energi global. Komando Pusat AS dilaporkan melanjutkan operasi militer terhadap Iran, sementara Teheran mengklaim telah melancarkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di kawasan.

1. Gangguan Pasokan Minyak

Perusahaan pelacak pelayaran Kpler mencatat kapasitas penyulingan minyak di pantai barat Arab Saudi sebesar 1,9 juta barel per hari berpotensi terdampak jika serangan berlanjut. Selain itu, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun hingga 75 persen.

2. Reaksi Pasar Global

Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik membuat investor kembali memperhitungkan risiko inflasi. Ini memicu penjualan emas sebagai aset tanpa bunga dan memperkuat dolar sebagai safe haven alternatif.

Pergerakan Harga Emas Dunia

Harga emas sempat menguat hingga 3 persen pada perdagangan Selasa dan Rabu. Namun, momentum tersebut tak bertahan lama. Pada Kamis, harga emas spot turun 2 persen menjadi USD4.049,56 per troy ons. Kontrak berjangka emas juga melemah 2,4 persen menjadi USD4.052,40 per troy ons.

Tabel Perbandingan Harga Emas

Jenis Emas Harga Sebelumnya Harga Saat Ini Perubahan (%)
Emas Spot USD4.132,20 USD4.049,56 -2,00%
Emas Berjangka USD4.152,05 USD4.052,40 -2,40%

Inflasi dan Kebijakan Moneter

Inflasi kembali menjadi sorotan utama. Lonjakan harga minyak mentah berpotensi mendorong kenaikan harga komoditas lainnya. Ini bisa mempercepat langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga guna menjaga stabilitas harga.

1. Ekspektasi Pasar

Sebelumnya, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli 2026 mencapai 88 persen. Namun, dalam seminggu terakhir, angka ini turun menjadi 66 persen. Sementara peluang kenaikan suku bunga naik dari 12 persen menjadi 34 persen.

2. Dampak Terhadap Emas

Emas tidak memberikan bunga atau dividen. Saat suku bunga naik, investor cenderung beralih ke instrumen berbunga seperti obligasi atau deposito. Ini membuat permintaan emas sebagai aset investasi menurun.

Strategi Investasi di Tengah Volatilitas

Investor yang bermain di pasar logam mulia perlu waspada. Meski emas sering dianggap aman saat krisis, kinerjanya bisa terpengaruh oleh faktor makro ekonomi seperti suku bunga dan nilai tukar mata uang.

1. Diversifikasi Portofolio

Menyebar investasi ke berbagai instrumen bisa mengurangi risiko. Emas bisa tetap menjadi bagian dari portofolio, tapi tidak seharusnya mendominasi.

2. Perhatikan Indikator Makro

Indeks dolar, harga minyak, dan kebijakan bank sentral seperti The Fed sebaiknya terus dipantau. Pergerakan harga emas sering kali mengikuti arah kebijakan makro tersebut.

3. Jangan Panik Jual

Penurunan harga emas tidak selalu berarti tren bearish jangka panjang. Banyak faktor yang bisa memicu rebound, termasuk eskalasi konflik atau data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Kesimpulan

Harga emas yang anjlok 2 persen mencerminkan dominasi dolar dan lonjakan harga minyak mentah. Ketegangan di Timur Tengah memicu volatilitas pasar, namun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed justru menjadi tekanan utama bagi emas.

Investor perlu bijak dalam menilai peluang dan risiko. Emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai, tapi tidak boleh diandalkan secara eksklusif. Memahami dinamika makro ekonomi dan geopolitik adalah kunci untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

Disclaimer: Data harga dan probabilitas dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga Juli 2026. Nilai bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan pasar dan kebijakan makro ekonomi global.

Ryando Putra Jameni
Reporter at Pantai Teluk Awur

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.