Multifinance

Emas Alami Penurunan Tajam, Capai Titik Terendah Sejak Empat Puluh Tahun Terakhir

Erna Agnesa
×

Emas Alami Penurunan Tajam, Capai Titik Terendah Sejak Empat Puluh Tahun Terakhir

Sebarkan artikel ini
Emas Alami Penurunan Tajam, Capai Titik Terendah Sejak Empat Puluh Tahun Terakhir

Harga emas dunia tengah mengalami tekanan signifikan. Pada Jumat, 20 Maret 2026, logam mulia ini kembali terperosok, menandai delapan hari penurunan berturut-turut. Bahkan, kinerja mingguan emas saat ini menjadi yang terburuk sejak 1983, dengan penurunan mencapai 10,4 persen.

Kondisi ini cukup mengejutkan, mengingat emas biasanya menjadi pilihan utama investor saat situasi geopolitik memanas. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa kali ini, dolar justru menjadi aset pilihan, bukan emas. Lonjakan nilai tukar dolar dan imbal hasil obligasi AS justru membuat emas semakin tertekan.

Penyebab Emas Terus Terperosok

Harga emas yang anjlok bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor besar yang berkontribusi terhadap penurunan tajam ini. Salah satunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu ketidakpastian pasar.

1. Dominasi Dolar sebagai Safe Haven

Biasanya, emas dianggap sebagai pelindung nilai saat krisis. Namun kali ini, dolar malah menjadi pilihan utama investor. Dolar menguat sejak awal konflik Iran dan terus menunjukkan kekuatan, membuat harga emas semakin tertekan.

2. Peringatan Inflasi dari Bank Sentral

Bank sentral utama di berbagai negara memberi peringatan soal potensi inflasi akibat konflik. Mereka memperingatkan bahwa kenaikan harga energi bisa memicu tekanan inflasi yang lebih luas. Hal ini memicu ekspektasi bahwa suku bunga tidak akan segera turun, yang tidak menguntungkan emas.

3. Lonjakan Harga Minyak

Harga minyak melonjak hampir ke level tertinggi empat tahun. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah. Lonjakan harga energi ini memperburuk kekhawatiran akan inflasi global.

4. Kebijakan Suku Bunga yang Ketat

Bank Cadangan Australia bahkan menaikkan suku bunga. Sementara bank sentral besar lainnya seperti Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa memilih untuk mempertahankan suku bunga. Kebijakan ini menunjukkan bahwa mereka siap menahan laju inflasi, meski berdampak negatif pada emas.

Perbandingan Harga Emas Dunia

Berikut adalah perbandingan harga emas dalam beberapa pekan terakhir untuk melihat tren penurunan yang terjadi:

Tanggal Harga Emas Spot (USD/ons) Perubahan Mingguan
13 Maret 2026 5.018,00
20 Maret 2026 4.494,44 -10,4%
21 Maret 2026 4.496,16 Stabil

Disclaimer: Data harga dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar global.

Apakah Emas Masih Layak Dipegang?

Meski sedang tertekan, bukan berarti emas sudah tidak relevan. Banyak analis masih melihat potensi emas untuk pulih di masa depan. Russ Mould dari AJ Bell menyebut bahwa emas pernah mengalami penurunan dalam jangka panjang namun tetap bisa memberikan keuntungan besar.

Investor jangka panjang mungkin tidak terlalu terpengaruh dengan volatilitas jangka pendek ini. Mereka tahu bahwa emas punya sejarah sebagai aset yang tahan uji, meskipun saat ini sedang menghadapi tantangan besar.

Faktor yang Bisa Memicu Pemulihan Emas

Meski saat ini emas sedang tertekan, ada beberapa faktor yang bisa memicu rebound di masa depan.

1. Perlambatan dalam Kenaikan Suku Bunga

Jika bank sentral akhirnya mulai menurunkan suku bunga, emas bisa kembali menarik. Emas tidak memberikan bunga, jadi saat suku bunga tinggi, biaya kepemilikannya jadi lebih mahal.

2. Ketidakpastian Geopolitik yang Berkepanjangan

Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut tanpa penyelesaian, investor bisa kembali beralih ke emas sebagai safe haven.

3. Pelemahan Dolar

Jika dolar mulai melemah, tekanan terhadap harga emas bisa berkurang. Dolar yang kuat saat ini justru membuat emas terlihat mahal bagi investor asing.

Tips untuk Investor Emas

Bagi yang sedang memantau harga emas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjebak dalam volatilitas pasar.

1. Jangan Panik Jual

Penurunan tajam bukan berarti akhir dari emas. Banyak periode penurunan di masa lalu justru menjadi peluang beli bagi investor jangka panjang.

2. Diversifikasi Portofolio

Emas bisa menjadi bagian dari portofolio yang seimbang. Tapi jangan terlalu bergantung hanya pada satu aset.

3. Pantau Indikator Makro

Faktor seperti suku bunga, inflasi, dan kebijakan bank sentral sangat berpengaruh terhadap harga emas. Selalu perbarui informasi ekonomi global.

Kesimpulan

Harga emas yang anjlok hingga level terburuk dalam empat dekade memang mencerminkan tekanan besar dari berbagai faktor makro ekonomi. Dominasi dolar, ekspektasi suku bunga tetap tinggi, dan lonjakan harga energi membuat emas sedang tidak bersinar.

Namun, bagi investor yang memahami sejarah emas sebagai aset safe haven, penurunan ini bisa jadi peluang. Pasar keuangan selalu dinamis, dan apa yang turun bisa saja naik kembali. Yang penting adalah tetap waspada dan tidak terjebak emosi dalam mengambil keputusan investasi.

Catatan: Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan pasar global.

Erna Agnesa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.