Wall Street kembali terperosok untuk pekan ketiga berturut-turut. Sentimen pasar saham Amerika Serikat terus tertekan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran telah memicu gejolak di pasar modal, terutama karena dampaknya terhadap harga minyak dan stabilitas jalur perdagangan strategis.
Indeks S&P 500 tercatat turun 0,6% pada Jumat, 13 Maret 2026, menutup di level 6.632,53. Penurunan ini menandai kerugian kumulatif lebih dari tiga persen sepanjang tahun. Indeks teknologi NASDAQ juga ikut terpuruk, anjlok 0,9% dan mencatat kerugian mingguan sebesar 1,3%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,3%, menutup di 46.559,83, dengan kerugian dua persen sepanjang pekan.
Sentimen Pasar Terus Tertekan
Kondisi ini tak lepas dari ketidakpastian terkait durasi konflik yang semakin meluas. Meski AS dan Israel tampak unggul secara militer, Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. Bahkan, pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur ini menjadi kritis karena melalui sini lewat seperlima minyak dunia.
Pasukan AS telah menggelar serangan besar-besaran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengungkapkan bahwa lebih dari 15.000 target musuh telah dihancurkan. Namun, dominasi militer belum serta merta membawa ketenangan di pasar. Ketidakpastian soal durasi konflik dan dampaknya terhadap pasokan energi global masih menjadi beban besar.
1. Eskalasi Konflik dan Dampaknya pada Jalur Strategis
Iran tetap mempertahankan posisinya di Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi mengganggu arus minyak global, yang berdampak langsung pada harga energi dunia. AS merespons dengan mengizinkan pembelian minyak Rusia yang disanksi hingga April mendatang. Selain itu, Angkatan Laut AS akan memberikan pengawalan bagi kapal dagang yang melintas.
2. Reaksi Pasar Saham
Wall Street terus mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut menjelang akhir pekan. Investor tampak enggan mengambil risiko tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik. Saham-saham blue-chip dan teknologi menjadi korban terbesar, karena sektor ini sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok.
3. Data Ekonomi AS yang Kurang Membantu
Meski data inflasi dan lapangan kerja sesuai ekspektasi, pasar tetap lesu. Produk Domestik Bruto (PDB) AS direvisi turun menjadi 0,7% pada kuartal IV 2025, jauh dari estimasi awal 1,4%. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti naik 0,4% bulan ke bulan, dan 3,1% tahun ke tahun. Angka ini masih jauh di atas target inflasi Fed sebesar 2%.
Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu Utama
Harga minyak Brent melonjak hampir 11% sepanjang minggu ini. Pada Jumat, harga minyak mentah berjangka mencapai USD103,29 per barel. Lonjakan ini merupakan tambahan dari kenaikan 28% pada minggu sebelumnya. Sebelum perang Iran pecah, harga minyak masih berkisar di angka USD70 per barel.
1. Fluktuasi Harga Minyak
Harga Brent mencatat volatilitas tinggi dalam sepekan terakhir. Pada titik tertentu, harga sempat menyentuh USD120 per barel, sebelum turun ke level USD90. Namun, tren kenaikan akhirnya kembali dominan seiring semakin buruknya situasi di kawasan.
2. Proyeksi Harga Minyak ke Depan
Investor saat ini memperkirakan peluang harga minyak Brent mencapai USD100 atau lebih tinggi dalam tiga bulan ke depan adalah 1 banding 5. Meski begitu, sebagian besar analis memperkirakan bahwa lonjakan ini bersifat jangka pendek, tergantung pada perkembangan konflik.
3. Dampak pada Biaya Produksi
Kenaikan harga energi berimbas pada biaya produksi berbagai sektor industri. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada energi fosil terpaksa menyesuaikan anggaran operasional. Ini berpotensi menekan laba bersih dan memicu penurunan saham.
Data Tenaga Kerja dan Inflasi Masih Menahan Optimisme
Lowongan pekerjaan Januari tercatat di angka 6,946 juta, sedikit lebih tinggi dari estimasi 6,750 juta. Namun, angka ini turun dibandingkan Desember 2025. Pasar tenaga kerja AS saat ini menunjukkan tren rendah pemecahan dan rendah rekrutmen. Ini menunjukkan bahwa pasar kerja mulai melambat, meski belum terpuruk.
1. PDB yang Direvisi Turun
Revisi PDB kuartal IV 2025 dari 1,4% menjadi 0,7% menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Meski tidak drastis, angka ini menjadi indikator bahwa ekonomi AS sedang menghadapi tekanan dari berbagai sisi, termasuk konflik luar negeri dan kenaikan biaya energi.
2. Inflasi yang Tetap Tinggi
Indeks PCE inti yang naik 3,1% tahun ke tahun menunjukkan bahwa inflasi masih jauh dari target. Meskipun data ini sesuai ekspektasi, pasar tetap khawatir bahwa tekanan dari harga minyak akan semakin memperparah situasi.
3. Risiko Stagflasi di Depan Mata
Beberapa analis mulai memperingatkan risiko stagflasi, yaitu kondisi di mana pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi tetap tinggi. Jika konflik berlangsung lama, tekanan pada rantai pasok dan biaya energi bisa semakin parah.
Perkiraan Pasar ke Depan
Investor saat ini berada di posisi waspada. Dua skenario besar bisa terjadi: konflik cepat berakhir atau berlarut-lama. Jika cepat selesai, pasar berpotensi pulih dalam waktu singkat. Namun, jika berlarut-lama, dampaknya bisa lebih luas, termasuk pada sektor teknologi, manufaktur, dan transportasi.
1. Skenario Optimis: Konflik Cepat Selesai
Jika Iran menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam waktu dekat, harga minyak bisa turun kembali. Ini akan meredam tekanan pada biaya produksi dan membuka ruang bagi pemulihan pasar saham.
2. Skenario Pesimis: Konflik Berkepanjangan
Jika konflik berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, tekanan pada harga energi akan terus meningkat. Ini bisa memicu lonjakan inflasi lebih lanjut dan memperdalam koreksi di pasar saham.
3. Peran Kebijakan Pemerintah AS
Langkah-langkah pemerintah AS seperti pengalihan pasokan minyak dan pengawalan jalur perdagangan bisa meredam dampak jangka pendek. Namun, solusi jangka panjang tetap bergantung pada penyelesaian konflik secara diplomatis.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan perkembangan terkini hingga 14 Maret 2026. Situasi geopolitik dan ekonomi bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Keputusan investasi sebaiknya tetap mempertimbangkan analisis mandiri dan konsultasi dengan penasihat keuangan profesional.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











