Harga emas dunia sempat merosot tajam pada Kamis, 12 Maret 2026. Penurunan ini terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi di Iran, khususnya pernyataan keras dari pemimpin baru Mojtaba Khamenei soal penutupan Selat Hormuz, memicu gejolak pasar global.
Sentimen investor ikut terpengaruh karena Selat Hormuz menjadi jalur krusial bagi distribusi minyak dunia. Sekitar 20% pasokan energi global melewati selat sempit ini. Penutupannya, meski belum sepenuhnya diterapkan, sudah cukup membuat harga minyak mentah Brent mendekati level USD100 per barel. Lonjakan harga energi ini membuka potensi inflasi yang lebih luas, sehingga mengubah preferensi investasi sementara waktu.
Dinamika Pasar Emas Global
Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik seharusnya justru menguntungkan emas sebagai aset safe haven. Namun, kenyataannya berbeda. Emas malah tertekan karena dolar AS menguat sebagai alternatif yang lebih disukai investor saat risiko inflasi meningkat.
Harga emas spot di pasar internasional tercatat turun 1,5% menjadi USD5.099,82 per ons. Sementara harga emas berjangka juga anjlok 1,4% ke posisi USD5.105,16 per ons. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa emas masih sangat sensitif terhadap dinamika makroekonomi global, terutama tekanan dari mata uang utama dan ekspektasi kebijakan moneter.
1. Pengaruh Dolar AS Terhadap Harga Emas
Dolar yang menguat secara signifikan menjadi salah satu faktor utama penurunan harga emas. Ketika dolar naik, biaya emas untuk pembeli internasional ikut meningkat. Hal ini secara alami mengurangi permintaan, terutama dari negara-negara yang menggunakan mata uang lain.
Indeks Dolar (DXY) sendiri mencatat kenaikan sekitar 0,3% pada periode yang sama. Ini menunjukkan bahwa investor lebih memilih dolar sebagai pelindung nilai ketimbang emas, terutama saat ekspektasi inflasi mulai bermain.
2. Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga Terancam
Bank sentral global, termasuk Federal Reserve, tengah memperhatikan perkembangan inflasi dengan cermat. Lonjakan harga minyak bisa menjadi pendorong inflasi yang lebih luas. Jika hal itu terjadi, kemungkinan pemotongan suku bunga akan ditunda.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat investasi obligasi lebih menarik. Ini bisa mengurangi minat investor terhadap emas yang tidak memberikan yield tetap. Dalam konteks ini, emas menjadi kurang menarik ketika suku bunga riil naik.
3. Data Inflasi PCE Jadi Sorotan Pasar
Investor juga tengah menanti rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat untuk bulan Januari. Indikator ini menjadi acuan utama The Fed dalam menilai tren inflasi. Hasilnya akan sangat memengaruhi ekspektasi suku bunga jangka panjang.
Meskipun data CPI terbaru menunjukkan stabilitas inflasi bulanan, dampak dari lonjakan harga minyak belum sepenuhnya tercermin. Pasar masih menunggu bukti nyata dari data PCE untuk menilai apakah tekanan inflasi benar-benar akan berlanjut.
Geopolitik Timur Tengah dan Dampaknya
Konflik di Iran bukan sekadar isu regional. Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz memiliki efek domino yang bisa dirasakan hingga ke pasar komoditas global. Ini menjadikan emas sebagai instrumen yang sangat sensitif terhadap perubahan politik internasional.
1. Ketegangan Iran dan Ancaman Blokade Selat Hormuz
Pernyataan dari pemimpin baru Iran bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup memicu kekhawatiran serius. Jalur ini menjadi arteri utama perdagangan minyak global. Gangguan di sini berpotensi memicu krisis energi yang berimbas pada rantai pasok dan harga barang di seluruh dunia.
Badan Energi Internasional bahkan menyebut bahwa penutupan selat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak modern. Ini menjelaskan mengapa harga minyak langsung melonjak dan emas justru tertekan.
2. Reaksi Pasar dan Sentimen Investor
Investor cenderung mencari aset yang tidak hanya aman, tetapi juga likuid dan responsif terhadap kondisi ekonomi. Saat ini, dolar memenuhi kriteria tersebut lebih baik daripada emas. Meskipun emas secara historis dianggap sebagai pelindung inflasi, daya tariknya bisa tergerus jika dolar lebih dominan.
Perubahan sentimen ini bisa berlangsung cepat. Jika situasi di Iran membaik atau harga minyak kembali turun, emas bisa langsung pulih sebagai safe haven. Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, fluktuasi harga akan terus terjadi.
Perbandingan Harga Emas Sebelum dan Sesudah Lonjakan Minyak
| Parameter | Sebelum Lonjakan Minyak | Setelah Lonjakan Minyak |
|---|---|---|
| Harga Emas Spot (USD/ons) | ~5.150 | 5.099,82 |
| Harga Emas Berjangka (USD/ons) | ~5.170 | 5.105,16 |
| Indeks Dolar (DXY) | Stabil | Naik 0,3% |
| Harga Minyak Brent (USD/barel) | ~90 | Mendekati 100 |
| Sentimen Investor | Netral | Cenderung Bearish Emas |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan tren pasar dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Faktor-Faktor Pendukung Fluktuasi Emas
Ada beberapa variabel makroekonomi yang terus memengaruhi arah harga emas. Tidak hanya geopolitik, tetapi juga kebijakan moneter, ekspektasi inflasi, dan performa mata uang utama.
1. Kebijakan Moneter Bank Sentral
Bank sentral seperti The Fed memiliki peran besar dalam menentukan arah suku bunga. Jika mereka memperkirakan inflasi akan naik, langkah-langkah seperti menahan atau menaikkan suku bunga bisa diambil. Ini akan membuat emas kurang menarik karena tidak menghasilkan bunga.
2. Permintaan Fisik Emas
Di sisi lain, permintaan fisik emas dari negara-negara produsen besar seperti India dan Tiongkok juga memengaruhi harga. Namun, dalam jangka pendek, faktor spekulatif dan makroekonomi jauh lebih dominan dibandingkan permintaan konsumsi.
3. Volatilitas Pasar Saham dan Obligasi
Ketika pasar saham atau obligasi tidak stabil, investor biasanya beralih ke emas. Namun, jika dolar yang menguat menjadi pendorong utama ketidakstabilan, maka emas bisa justru terdepresiasi.
Kesimpulan
Penurunan harga emas dunia pada Maret 2026 mencerminkan kombinasi faktor yang rumit: eskalasi ketegangan di Iran, lonjakan harga minyak, dolar yang menguat, serta ekspektasi suku bunga yang ketat. Meskipun emas biasanya menjadi pelindung di masa ketidakpastian, kali ini investor lebih memilih dolar sebagai safe haven.
Namun, situasi ini bisa berubah kapan saja. Data inflasi AS, perkembangan geopolitik, dan kebijakan bank sentral akan terus menjadi sorotan pasar. Bagi pengamat, fluktuasi harga emas saat ini adalah cerminan dari ketidakseimbangan global yang sedang terjadi.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi pasar terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












