Multifinance

Emas Anjlok Akibat Spekulasikan Lonjakan Harga Inflasi Global

Ryando Putra Jameni
×

Emas Anjlok Akibat Spekulasikan Lonjakan Harga Inflasi Global

Sebarkan artikel ini
Emas Anjlok Akibat Spekulasikan Lonjakan Harga Inflasi Global

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada awal pekan ini. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Investor pun mulai menahan diri dari aset non-yield seperti emas, yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga.

Indeks harga spot emas (XAU/USD) tercatat turun 1,19 persen menjadi USD4.072,06 per ons. Kontrak berjangka emas juga melemah 0,81 persen, mencatatkan level USD4.080,22 per ons. Penurunan ini menjadi kelanjutan dari koreksi sebelumnya yang mencapai 1,3 persen pada pekan lalu.

Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Harga Minyak

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Serangan udara AS terhadap target di Iran menyusul insiden terhadap kapal kargo Siprus di Selat Hormuz memicu gejolak di pasar energi global.

Iran mengumumkan penutupan jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, pihak AS membantah klaim tersebut dan menyatakan jalur tetap terbuka untuk lalu lintas komersial. Meski demikian, situasi tetap memicu ketidakpastian.

1. Lonjakan Harga Minyak Dunia

Harga minyak mentah naik sekitar tiga persen akibat eskalasi konflik tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur penting yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia. Gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada ekspektasi pasokan energi global.

2. Inflasi Mengancam Stabilitas Ekonomi

Lonjakan harga energi memperkuat kekhawatiran akan lonjakan inflasi. Investor mulai memperhitungkan dampaknya terhadap kebijakan moneter, khususnya dari Federal Reserve yang berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dolar Menguat, Emas Terus Tertekan

Suku bunga tinggi dan penguatan dolar AS menjadi tekanan utama bagi harga emas. Aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas cenderung kurang menarik ketika investor mencari investasi yang menguntungkan dari bunga.

Federal Reserve dalam risalah rapat Juni lalu menyatakan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Fokus utama saat ini adalah mengendalikan tekanan inflasi yang masih tinggi, meski pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

3. Jadwal Kebijakan Moneter Mendatang

Pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve akan berlangsung pada 28-29 Juli 2026. Investor kini menantikan keputusan yang akan diambil, terutama terkait suku bunga acuan dan proyeksi inflasi.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar

Pelaku pasar kini fokus pada rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat yang akan dirilis Selasa. Data tersebut akan menjadi indikator kuat untuk menilai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres juga menjadi sorotan. Pernyataan dari pejabat penting ini bisa memicu volatilitas pasar, termasuk harga emas.

Analisis Teknis Harga Emas

Tony Sycamore dari IG menyatakan bahwa harga emas masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi makro. Pekan lalu, emas mendapat dukungan kuat di kisaran USD4.000 per ons.

Namun, jika harga mampu menembus area USD4.200 hingga USD4.220 secara konsisten, peluang pemulihan menuju rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar USD4.491 masih terbuka.

Tabel: Proyeksi Tekanan Harga Emas Berdasarkan Data Inflasi

Skenario Inflasi AS Dampak terhadap Emas Dampak terhadap Dolar Potensi Pergerakan Harga Emas
Inflasi lebih tinggi dari ekspektasi Tekanan turun Penguatan Penurunan tajam
Inflasi sesuai ekspektasi Stabil Stabil Konsolidasi
Inflasi lebih rendah dari ekspektasi Dukungan naik Pelemahan Pemulihan bertahap

Apa Kata Analis?

Menurut Sycamore, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menopang dolar AS. Ini bisa menambah tekanan terhadap harga emas.

Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, tekanan terhadap emas bisa berkurang. Investor pun bisa kembali melirik emas sebagai aset safe haven.

Kesimpulan

Harga emas saat ini berada di bawah tekanan karena lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memperburuk situasi. Investor tengah menanti data ekonomi makro penting dari AS, terutama indeks CPI dan pernyataan pejabat Federal Reserve.

Pergerakan harga emas ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter AS. Namun, jika ketegangan terus berlanjut dan inflasi tidak kunjung terkendali, tekanan terhadap emas bisa terus berlangsung.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan moneter global.

Ryando Putra Jameni
Reporter at Pantai Teluk Awur

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.