Ilustrasi. Foto: robinsonsjewelers.com
Harga emas dunia sempat tertekan di tengah pekan lalu akibat lonjakan harga minyak mentah dan ketidakpastian kebijakan moneter AS. Sentimen pasar terhadap logam mulia ini mulai goyah seiring dengan meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh gangguan pasokan energi global. Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve periode Juni 2026 juga memberi sinyal bahwa bank sentral masih mempertimbangkan langkah pengetatan kebijakan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Pergerakan harga emas pada perdagangan Rabu waktu setempat mencatat penurunan yang cukup signifikan. Spot emas turun 0,7 persen ke level USD4.077,52 per ons. Sementara itu, emas berjangka melemah lebih dalam, mencatat penurunan 1,7 persen ke USD4.086,55 per ons. Penurunan ini terjadi tidak hanya karena faktor fundamental ekonomi global, tetapi juga karena tekanan dari lonjakan harga energi dan ekspektasi kenaikan suku bunga.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Harga minyak mentah Brent mencatat level tertinggi sejak Juni lalu, menembus angka USD80 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, kawasan krusial dalam perdagangan energi global.
- Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial.
- Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan membuka kemungkinan serangan lanjutan.
Ketegangan ini memicu lonjakan harga energi, yang pada gilirannya memperkuat ekspektasi inflasi. Inflasi yang tinggi umumnya membuat investor lebih hati-hati terhadap aset non-yield seperti emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil tetap.
Risalah The Fed Buka Peluang Pengetatan Kebijakan
Risalah rapat Federal Reserve periode 16–17 Juni 2026 menunjukkan bahwa para pejabat bank sentral masih berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Meskipun sebagian besar peserta rapat melihat bahwa inflasi bisa kembali ke target 2 persen tanpa pengetatan tambahan, sejumlah peserta menyatakan bahwa langkah antisipatif tetap diperlukan.
- Inflasi masih tinggi, dipengaruhi oleh gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
- Sebagian peserta menilai bahwa pengetatan kebijakan moneter perlu segera dilakukan.
- Namun, mayoritas menilai bahwa pengetatan agresif belum tentu diperlukan jika kondisi pasar tenaga kerja tetap stabil.
Suku bunga yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik emas karena logam ini tidak menghasilkan bunga. Investor lebih tertarik pada instrumen berimbang saat ekspektasi suku bunga naik.
Sentimen Geopolitik dan Dampaknya pada Emas
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Situasi ini tidak hanya memicu lonjakan harga minyak, tetapi juga mengubah arah sentimen pasar terhadap aset safe haven seperti emas. Namun, dampaknya tidak langsung positif bagi harga emas karena investor juga harus memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi.
- Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak.
- Lonjakan harga energi memperkuat ekspektasi inflasi, yang bisa mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga.
- Suku bunga yang lebih tinggi membuat emas kurang menarik bagi investor.
Dalam konteks ini, emas berada di posisi yang sensitif. Lonjakan harga energi bisa memicu permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai, tetapi jika inflasi terus naik, langkah antisipatif dari bank sentral bisa menekan harganya.
Analisis Pasar: Emas di Persimpangan Jalan
Lukman Otunuga, Analis Pasar Senior FXTM, menyatakan bahwa emas saat ini berada di persimpangan jalan yang kritis. Dua faktor utama yang sedang bersaing adalah risiko geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter.
- Risiko geopolitik meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
- Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa menekan harga emas karena logam ini tidak memberikan imbal hasil.
Jika dolar melemah, maka jalur termudah bagi emas adalah naik. Namun, jika lonjakan harga minyak berkelanjutan dan kembali memicu inflasi, maka ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat bisa menjadi hambatan utama bagi kenaikan harga emas.
Tabel Perbandingan Harga Emas dan Minyak Dunia (Juli 2026)
| Komoditas | Harga Sebelumnya | Harga Terkini | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| Emas Spot | USD4.105,00 | USD4.077,52 | -0,7% |
| Emas Berjangka | USD4.155,00 | USD4.086,55 | -1,7% |
| Minyak Brent | USD75,50 | USD80,25 | +6,3% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa sementara harga emas mengalami penurunan, harga minyak justru melonjak. Dinamika ini mencerminkan bagaimana perubahan harga energi bisa memengaruhi sentimen terhadap logam mulia.
Faktor-Faktor yang Bisa Mendorong atau Menekan Harga Emas
-
Kebijakan Suku Bunga AS
Jika Federal Reserve menaikkan suku bunga, daya tarik emas akan menurun karena tidak memberikan hasil tetap. -
Ketegangan Geopolitik
Ketegangan di kawasan Timur Tengah bisa mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. -
Harga Minyak Dunia
Lonjakan harga minyak bisa memicu inflasi, yang pada gilirannya memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter. -
Performa Dolar AS
Dolar yang melemah bisa mendorong harga emas naik karena investor mencari alternatif nilai simpan. -
Data Ekonomi AS
Data ekonomi yang lemah bisa membatasi langkah antisipatif dari The Fed, sehingga mendukung harga emas.
Kesimpulan
Harga emas dunia saat ini berada di bawah tekanan karena dua faktor utama: lonjakan harga minyak dan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter dari Federal Reserve. Meskipun ketegangan geopolitik bisa mendukung permintaan terhadap emas, lonjakan harga energi justru memperkuat kekhawatiran inflasi yang bisa memicu langkah antisipatif dari bank sentral.
Investor perlu terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, harga energi global, dan situasi geopolitik untuk memprediksi arah harga emas ke depannya.
Disclaimer: Data harga dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan pasar global.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












