Multifinance

Pengguna Kripto Harus Waspada, Ancaman Deepfake dan Phishing Semakin Canggih

Erna Agnesa
×

Pengguna Kripto Harus Waspada, Ancaman Deepfake dan Phishing Semakin Canggih

Sebarkan artikel ini
Pengguna Kripto Harus Waspada, Ancaman Deepfake dan Phishing Semakin Canggih

Keamanan aset kripto kini semakin kompleks. Dulu, ancaman utama datang dari celah teknologi atau bug pada sistem exchange. Sekarang, fokus pelaku kejahatan berpindah ke pengguna langsung. Modus yang digunakan pun semakin canggih, termasuk deepfake, voice cloning, dan phishing berbasis AI. Semua ini memanfaatkan kelemahan manusia, bukan sistem.

Bukan rahasia lagi bahwa dunia kripto rentan terhadap ancaman digital. Yang mengejutkan, sekarang bukan cuma hacker biasa yang bermain. Teknologi AI yang semakin murah dan mudah diakses bikin siapa pun bisa bikin konten palsu yang sangat realistis. Ini bukan skenario masa depan. Ini sudah terjadi sekarang.

Ancaman Digital yang Makin Nyata

Salah satu tren yang muncul adalah Deepfake-as-a-Service (DFaaS). Layanan ini bisa ditemukan di dark web dan semakin populer. Dari Januari hingga Mei 2026, pembicaraan tentang DFaaS naik 39% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini artinya, teknologi deepfake bukan lagi main-main. Siapa pun bisa menyewanya untuk bikin video atau audio palsu yang mirip banget dengan orang sungguhan.

Belum lagi voice cloning. Cukup dengan rekaman suara 10 detik, AI bisa tiru suara seseorang dengan akurasi tinggi. Bayangkan kalau pelaku pakai ini untuk menipu orang dekat korban. Bisa-bisa keluarga sendiri pun ketipu.

1. Deepfake dan Voice Cloning Bikin Penipuan Makin Meyakinkan

Teknologi AI ini bikin scammer makin lihai. Mereka bisa bikin panggilan suara yang terdengar asli, padahal itu rekayasa digital. Korban pun percaya dan akhirnya memberikan informasi sensitif atau mentransfer aset kripto mereka.

2. Phishing Masih Jadi Favorit Pelaku Kejahatan

Meski udah lama dikenal, phishing tetap efektif. Caranya? Mengirim link palsu lewat email, SMS, atau chat aplikasi. Link itu biasanya menyerupai situs resmi exchange atau dompet digital. Kalau korban nggak waspada dan klik, maka data login bisa langsung dicuri.

3. Social Engineering Naik Kelas

Social engineering adalah teknik manipulasi psikologis. Pelaku pura-pura jadi customer service, tim keamanan, atau bahkan teman korban. Mereka bisa bikin korban percaya dan akhirnya memberikan kode OTP, password, atau detail akun lainnya.

Bagaimana Cara Melindungi Diri?

Melawan ancaman ini butuh kombinasi teknologi dan kesadaran pengguna. Platform bisa saja memasang firewall super canggih, tapi kalau pengguna mudah percaya dan nggak verifikasi informasi, tetap aja rentan.

4. Verifikasi Informasi Sebelum Bertindak

Kebiasaan kecil ini bisa jadi benteng pertahanan utama. Misalnya, sebelum klik link atau download aplikasi, pastikan itu beneran dari sumber resmi. Jangan langsung percaya pesan yang bilang “akun kamu diblokir” atau “segera klaim hadiah”.

5. Jangan Mudah Percaya pada Panggilan atau Pesan Suara

Kalau ada panggilan dari orang yang mengaku kenal, tapi permintaannya mencurigakan, segera hubungi orang tersebut lewat jalur lain. Jangan langsung transfer atau memberikan kode rahasia.

6. Gunakan Autentikasi Ganda (2FA)

Meskipun bukan solusi mutlak, 2FA bisa menambah lapisan keamanan. Pastikan 2FA yang digunakan adalah aplikasi autentikator, bukan SMS. SMS lebih rentan disadap.

Tabel: Jenis-Jenis Penipuan Digital dan Ciri-Cirinya

Jenis Penipuan Ciri-ciri Umum Target Utama
Deepfake Video/audio palsu yang sangat mirip dengan orang sungguhan Influencer, figur publik
Voice Cloning Rekaman suara palsu yang terdengar asli Keluarga, rekan kerja
Phishing Link palsu, email/sms menipu Pengguna umum
Social Engineering Manipulasi psikologis lewat obrolan atau panggilan Pengguna dengan akses penting

Tips Tambahan untuk Tetap Aman

Selain langkah teknis, ada beberapa hal yang bisa dilakukan secara mental dan emosional agar tidak mudah jadi korban.

7. Jangan Panik Saat Ada Isu Mendesak

Pelaku sering bikin suasana terkesan darurat. Misalnya, “Akun kamu bakal diblokir!” atau “Segera konfirmasi transaksi!”. Justru saat situasi seperti ini, otak bisa blank dan gampang salah ambil keputusan.

8. Edukasi Diri Secara Berkala

Dunia kripto dan keamanan digital terus berubah. Update informasi soal modus terbaru, ikuti akun resmi platform, dan hindari sumber informasi yang tidak diverifikasi.

9. Simpan Data Pribadi dengan Ketat

Jangan sembarangan kasih data pribadi ke situs atau aplikasi yang belum tentu aman. Termasuk foto KTP, selfie, atau informasi keuangan lainnya.

Peran Platform dalam Meningkatkan Keamanan

Platform seperti Indodax terus meningkatkan sistem keamanan mereka. Tapi, mereka juga menekankan pentingnya literasi pengguna. Misalnya, Indodax tidak pernah menggunakan WhatsApp sebagai saluran resmi layanan pelanggan. Semua komunikasi resmi hanya lewat email, telepon, atau situs web resmi.

Platform juga menyediakan fitur keamanan tambahan seperti notifikasi aktivitas akun, batas penarikan, dan verifikasi dua faktor. Tapi semua ini akan sia-sia kalau pengguna sendiri lengah.

Disclaimer

Data dan statistik dalam artikel ini bersumber dari laporan yang tersedia hingga Juni 2026. Modus operandi pelaku kejahatan terus berkembang. Oleh karena itu, informasi ini bersifat referensi dan bisa berubah sewaktu-waktu. Selalu update informasi dari sumber resmi dan waspadai segala bentuk komunikasi yang mencurigakan.

Erna Agnesa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.