Multifinance

Dolar AS Bangkit dari Tekanan Pelemahan, Investor Arahkan Perhatian ke Kebijakan Federal Reserve Mendatang

Bintang Fatih Wibawa
×

Dolar AS Bangkit dari Tekanan Pelemahan, Investor Arahkan Perhatian ke Kebijakan Federal Reserve Mendatang

Sebarkan artikel ini
Dolar AS Bangkit dari Tekanan Pelemahan, Investor Arahkan Perhatian ke Kebijakan Federal Reserve Mendatang

Setelah beberapa waktu terakhir mengalami tekanan, dolar Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Pergerakan mata uang ini kini lebih stabil, bahkan menguat di tengah dinamika pasar global yang sebelumnya cenderung menyebut dolar sebagai aset yang sedang dalam fase pelemahan. Investor tampaknya mulai kembali memandang mata uang ini dengan lebih optimis.

Tren bearish yang sempat menghiasi pergerakan dolar kini mulai pudar. Banyak faktor risiko yang sebelumnya menekan dolar kini mulai reda. Kebijakan tarif yang sempat jadi sorotan, isu independensi bank sentral AS, hingga defisit fiskal yang melebar, kini tidak lagi menjadi poin utama yang membuat pelaku pasar menjauh dari aset berbasis dolar.

Faktor-Faktor yang Mendukung Penguatan Dolar

Beberapa elemen pasar dan kebijakan ekonomi kini mulai mendukung penguatan dolar. Salah satunya adalah sikap tegas dari bank sentral AS yang tetap menjaga fokus pada pengendalian inflasi. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, baru-baru ini kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas harga, yang memberikan keyakinan lebih besar kepada investor.

1. Kenaikan Suku Bunga Global yang Tak Sinkron

Saat ini, meskipun sejumlah bank sentral besar seperti European Central Bank dan Bank of Japan juga menaikkan suku bunga, penguatan dolar tetap terjadi. Ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga di luar AS belum cukup kuat untuk mengimbangi daya tarik dolar.

2. Pelemahan Euro dan Yen

Euro dan yen mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Yen bahkan menyentuh level terendah sejak 1986. Ini menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan moneter di luar AS belum cukup efektif untuk menandingi kekuatan dolar.

Pergerakan Aset Alternatif dan Dolar

Dolar yang menguat juga berdampak pada aset-aset alternatif yang biasa dijadikan lindung nilai. Harga emas, misalnya, terkoreksi akibat penguatan dolar dan naiknya suku bunga riil.

Penyesuaian Proyeksi Harga Emas

Yardeni Research memangkas target harga emas akhir tahun dari USD5.500 per ons menjadi USD5.000 per ons. Penurunan ini mencerminkan bahwa investor kembali lebih memilih aset yang lebih stabil dan likuid, seperti obligasi dan saham AS, ketimbang aset komoditas.

Bitcoin Masih Jauh dari Dominasi

Bitcoin juga mengalami tekanan besar. Dari level di atas USD120 ribu pada akhir tahun lalu, harga kripto ini turun drastis menjadi sekitar USD61 ribu. Ini menunjukkan bahwa meskipun banyak yang berharap bitcoin bisa menjadi alternatif dominan terhadap dolar, kenyataannya belum mendukung pandangan tersebut.

Dinamika Inflasi dan Komoditas

Salah satu alasan utama penguatan dolar adalah mulai meredanya tekanan inflasi. Harga komoditas, khususnya minyak mentah, mengalami penurunan cukup signifikan.

Penurunan Harga Minyak Mentah

Harga Brent turun tajam setelah Selat Hormuz kembali dibuka, mengurangi premi risiko geopolitik yang sempat tinggi. Penurunan ini membantu menahan laju inflasi dan memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan yang lebih stabil.

Permintaan Tembaga Tetap Tinggi

Meski harga minyak turun, permintaan tembaga masih tinggi. Ini terkait dengan investasi besar dalam pengembangan infrastruktur teknologi kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang di berbagai negara.

Pasar Obligasi dan Arus Modal Asing

Pasar obligasi juga belum menunjukkan tanda-tanda bahwa dolar akan melemah. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun tetap stabil, menunjukkan bahwa investor masih percaya terhadap instrumen utang pemerintah AS.

Arus Masuk Modal Asing ke Sekuritas AS

Data Treasury International Capital (TIC) menunjukkan bahwa dalam 12 bulan hingga April 2026, arus masuk modal swasta ke sekuritas AS mencapai sekitar USD1,3 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa investor asing masih terus meningkatkan kepemilikan aset AS, bukannya menjualnya.

Kesimpulan

Dolar AS kini mulai kembali menunjukkan kekuatannya di tengah dinamika pasar global. Faktor-faktor seperti kenaikan suku bunga, penurunan tekanan inflasi, dan arus modal asing yang positif mendukung penguatan mata uang ini. Meskipun tren ini bisa berubah seiring perkembangan ekonomi global, saat ini dolar tampaknya sudah tidak lagi dalam fase pelemahan.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global, kebijakan bank sentral, dan faktor eksternal lainnya. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan bukan sebagai saran investasi.

Bintang Fatih Wibawa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.