Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tinggi, melonjak ke level di atas USD4.000 per ons. Lonjakan ini terjadi seiring melemahnya dolar AS dan data inflasi yang sesuai ekspektasi. Meski begitu, kenaikan harga emas tidak berjalan mulus sepenuhnya karena adanya tekanan dari lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz.
Pergerakan harga emas pada Kamis, 25 Juni 2026, menunjukkan pemulihan yang cukup signifikan. Emas spot naik 0,7 persen menjadi USD4.026,78 per ons. Sementara emas berjangka melonjak 0,8 persen ke level USD4.041,60 per ons. Penguatan ini sejalan dengan melemahnya dolar AS yang dipicu oleh data inflasi inti PCE yang tidak terlalu mengejutkan pasar.
Dinamika Inflasi dan Kebijakan Moneter
Data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti untuk bulan Mei menunjukkan kenaikan 0,3 persen secara bulanan dan 3,4 persen secara tahunan. Angka ini sesuai dengan estimasi konsensus dan sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya. Meskipun demikian, angka tahunan tersebut masih jauh melampaui target inflasi The Fed yang ditetapkan di kisaran 2 persen.
-
Pengaruh Data PCE terhadap Suku Bunga
Data PCE inti yang dirilis secara bulanan menjadi salah satu indikator utama yang digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga. Kenaikan yang moderat memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda, meski tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya. -
Perubahan Proyeksi Suku Bunga oleh The Fed
Setelah pengumuman terbaru dari The Fed, setengah dari anggota FOMC memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga dalam tahun ini. Perubahan ini memicu penyesuaian ekspektasi pasar yang cukup cepat. -
Reaksi Pasar terhadap Perubahan Suku Bunga
Pasar bereaksi dengan menyesuaikan taruhan kenaikan suku bunga. Namun, dengan adanya penurunan harga minyak, ekspektasi kenaikan suku bunga mulai melambat. Alat CME FedWatch mencatat sedikit penurunan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik
Meskipun inflasi menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, lonjakan harga minyak kembali mengganjal pergerakan emas. Serangan terhadap kapal kargo di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Selat ini merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
-
Serangan Terbaru di Selat Hormuz
Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura. Serangan ini diduga dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran. Meski tidak ada korban jiwa, insiden ini memicu kembali ketegangan di kawasan. -
Dampak terhadap Lalu Lintas dan Harga Minyak
Meski sebelumnya telah ada kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran, insiden ini mengancam stabilitas jalur pengiriman. Data dari Kpler menunjukkan peningkatan lalu lintas kapal menjadi 70 unit pada Rabu, naik dari 35 unit sehari sebelumnya. Namun, harga minyak tetap berada di level tinggi. -
Reaksi Pasar dan Sentimen Investor
Lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi. Investor mulai memperhitungkan risiko jangka menengah, terutama terkait dengan potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Emas sebagai Aset Pengaman
Emas selalu menjadi pilihan utama investor saat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik meningkat. Dolar yang melemah membuat emas lebih menarik bagi pembeli asing, terutama karena emas tidak memberikan imbal hasil tetap seperti obligasi.
-
Dolar yang Melemah
Melemahnya dolar AS secara langsung mendorong permintaan terhadap emas, karena emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. -
Inflasi Inti yang Tinggi
Inflasi inti yang tetap tinggi menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali. Ini membuat emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai. -
Risiko Kebijakan Moneter yang Ketat
Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga melambat, risiko pengetatan kebijakan tetap ada. Investor cenderung memilih aset yang tidak terikat imbal hasil tetap, seperti emas.
Perbandingan Harga Emas Dunia dan Dolar AS
Berikut adalah perbandingan harga emas dan nilai tukar dolar AS pada Kamis, 25 Juni 2026:
| Komoditas | Harga (USD per ons) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| Emas Spot | 4.026,78 | +0,7% |
| Emas Berjangka | 4.041,60 | +0,8% |
| Dolar AS (Indeks) | 102,35 | -0,4% |
Disclaimer: Data harga dan nilai tukar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika pasar global dan faktor makroekonomi lainnya.
Kesimpulan
Lonjakan harga emas di atas USD4.000 per ons menunjukkan bahwa investor masih merasa waspada terhadap ketidakpastian global. Meskipun data inflasi memberikan sinyal positif, tekanan dari harga minyak dan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz tetap menjadi penggerak utama volatilitas pasar.
Emas tetap menjadi aset andalan di tengah situasi seperti ini. Apalagi dengan dolar yang melemah dan ekspektasi suku bunga yang belum pasti, minat terhadap logam mulia ini diperkirakan akan terus tinggi dalam jangka pendek.
Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.












