Ilustrasi emas batangan tengah menjadi sorotan, seiring harga logam mulia itu masih berpeluang mencatat rekor baru di level USD5.200 per troy ons. Meski demikian, perjalanan emas ke puncak baru ini tidak serta merta mulus. Banyak faktor makroekonomi, terutama kebijakan moneter agresif The Fed, menjadi penghalang yang mesti diwaspadai.
Investor pun mulai lebih hati-hati. Arus masuk ke produk exchange-traded fund (ETF) emas, yang selama ini jadi pendorong utama kenaikan harga, belum menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya. Padahal, tanpa dukungan kuat dari ETF, laju emas ke level rekor bisa terhenti kapan saja.
Dinamika Harga Emas di Tengah Kebijakan Hawkish The Fed
Sikap hawkish Federal Reserve kian menguat setelah pernyataan terbaru dari FOMC. Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam jangka panjang mulai menggerogoti minat investor pada aset non-yield seperti emas. Pasalnya, ketika suku bunga naik, imbal hasil riil dari obligasi juga ikut menguat, membuat emas terlihat kurang menarik.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun misalnya, melonjak sejak Februari 2026. Lonjakan ini langsung memicu arus keluar dana dari ETF emas. Artinya, investor lebih memilih instrumen berimbang hasil daripada menyimpan dana di emas yang tidak memberikan bunga.
Namun, bukan semua faktor menekan harga emas. Ada beberapa sisi yang justru memberikan dukungan positif, terutama dari luar negeri.
Penurunan Ketegangan di Timur Tengah Bisa Jadi Angin Segar
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mereda bisa jadi kabar baik bagi harga emas. Secara historis, ketika konflik energi mereda, harga minyak cenderung turun. Penurunan ini bisa meredam tekanan inflasi, sehingga bank sentral tidak terburu-buru menjual cadangan emas untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Jika tren de-escalation ini berlanjut, bisa jadi akan memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar di masa depan. Dan itu bisa menghidupkan kembali minat investor pada emas.
1. Permintaan Bank Sentral Dunia Jadi Penyangga Utama
Di tengah melemahnya minat investor ritel dan ETF, permintaan dari bank sentral global justru tetap kuat. Salah satunya datang dari China, yang terus menambah cadangan emasnya secara agresif.
2. China Tingkatkan Cadangan Emas Secara Konsisten
Bank of China mencatat penambahan 23 ton emas sepanjang Maret hingga Mei 2026. Angka ini bahkan lebih tinggi dari akumulasi 19 ton dalam 12 bulan sebelumnya. Tren ini menunjukkan bahwa Beijing terus memperkuat diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.
3. Rekor Sebelumnya Menunjukkan Emas Tetap Tangguh
Secara historis, emas tidak selalu terpukul saat The Fed menaikkan suku bunga. Setelah kenaikan 25 basis poin, harga emas rata-rata naik 0,84 persen dalam sebulan. Meski lebih rendah dibandingkan saat suku bunga dipotong (naik 3,93 persen), tetap saja menunjukkan ketangguhannya.
Beberapa periode seperti Juni 2006, Desember 2018, dan Maret 2023 justru menjadi bukti bahwa emas bisa menguat meski di tengah siklus pengetatan moneter. Saat itu, kenaikan suku bunga justru memicu kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas perbankan.
Peran ETF Emas dalam Menentukan Arah Harga
Kembali ke poin awal, arus masuk ke ETF emas tetap menjadi kunci utama reli harga emas ke level USD5.200. Tanpa dukungan investor makro lewat instrumen ini, laju emas bisa melambat. Morgan Stanley memperkirakan bahwa pemulihan minat ETF baru akan terlihat jika ekspektasi pelonggaran suku bunga mulai menguat.
4. Kondisi Energi yang Lebih Rendah Picu Harapan
Jika harga energi terus turun akibat de-escalation geopolitik, ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter bisa menguat. Ini akan membuat emas kembali menarik di mata investor, terutama yang mencari aset lindung nilai.
5. Investor Makro Harus Kembali ke Meja
Morgan Stanley menilai bahwa reli emas ke level rekor sangat bergantung pada kembalinya investor makro ke ETF emas. Perubahan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat, kecuali ada perubahan besar dalam ekspektasi suku bunga global.
Tabel: Perbandingan Dampak Kenaikan dan Penurunan Suku Bunga terhadap Harga Emas
| Kondisi | Rata-rata Kenaikan Harga Emas (1 Bulan Setelah) |
|---|---|
| Kenaikan Suku Bunga 25 bps | +0,84% |
| Penurunan Suku Bunga 25 bps | +3,93% |
Catatan: Data berdasarkan tren historis sejak 2000.
6. Strategi Diversifikasi Cadangan Jadi Pendorong Jangka Panjang
Bank sentral seperti China dan negara-negara berkembang lainnya terus melihat emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Ini bukan sekadar tren jangka pendek, tapi bagian dari perlindungan jangka panjang terhadap volatilitas mata uang dan geopolitik.
7. Peran Investor Ritel Tetap Penting, Tapi Tidak Dominan
Meski investor ritel ikut menyumbang permintaan, pengaruhnya tidak sebesar ETF atau bank sentral. Namun, jika investor ritel mulai kembali masuk dalam jumlah besar, bisa menjadi tambahan momentum positif.
8. Potensi Reli Emas Masih Terbuka, Tapi Butuh Waktu
Morgan Stanley tetap optimistis terhadap prospek emas hingga paruh kedua 2026. Namun, reli menuju USD5.200 per troy ons akan sangat bergantung pada beberapa faktor makro, terutama arah kebijakan The Fed dan arus masuk ke ETF emas.
Penutup
Harga emas masih punya peluang untuk mencatat rekor baru, tapi bukan tanpa tantangan. Dukungan dari bank sentral global dan potensi perubahan ekspektasi suku bunga bisa jadi katalis utama. Namun, tanpa kembalinya minat investor makro lewat ETF, laju emas bisa terhenti di tengah jalan.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan riset terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan makroekonomi global.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












