Multifinance

Inilah Deretan Bisnis Menguntungkan yang Tetap Bertahan Saat Resesi Ekonomi Melanda Masyarakat Indonesia

Erna Agnesa
×

Inilah Deretan Bisnis Menguntungkan yang Tetap Bertahan Saat Resesi Ekonomi Melanda Masyarakat Indonesia

Sebarkan artikel ini
Inilah Deretan Bisnis Menguntungkan yang Tetap Bertahan Saat Resesi Ekonomi Melanda Masyarakat Indonesia

Di tengah ketidakpastian ekonomi, banyak orang mulai merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan pokok. Namun, justru di sinilah peluang bisnis bisa tumbuh. Bukan cuma bertahan, beberapa bisnis justru malah cuan besar saat krisis. Kenapa? Karena kebutuhan dasar tetap ada, dan malah makin meningkat saat orang-orang lebih selektif dalam pengeluaran.

Bisnis yang tetap eksis di masa lesu biasanya yang menyasar kebutuhan primer. Mulai dari makanan, kesehatan, hingga layanan digital. Yang penting, model usahanya fleksibel dan bisa menyesuaikan kondisi pasar. Yuk, simak deretan bisnis yang tetap dibutuhkan meski ekonomi lagi nggak bersahabat.

Bisnis yang Tetap Dibutuhkan Saat Ekonomi Lesu

1. Bisnis Makanan dan Minuman

Makanan tetap jadi kebutuhan utama. Terutama makanan yang harganya terjangkau tapi mengenyangkan. Bisnis kuliner rumahan, jual nasi bungkus, atau jual makanan kaki lima bisa jadi andalan. Yang penting, rasa dan harga harus pas di kantong.

Minuman juga tetap laris. Terutama yang bisa dikonsumsi sehari-hari, seperti teh, kopi, atau minuman kemasan praktis. Banyak orang mungkin mengurangi belanja barang mewah, tapi nggak akan berhenti minum.

2. Bisnis Kesehatan dan Kecantikan

Saat krisis, orang lebih sadar akan kesehatan. Bisnis obat herbal, suplemen, atau produk perawatan tubuh tetap diburu. Apalagi kalau bisa dijangkau secara lokal dan harganya ramah di kantong.

Kecantikan juga nggak kalah. Produk perawatan wajah dan tubuh yang terjangkau bisa jadi favorit. Misalnya sabun alami, masker wajah, atau minyak pijat.

3. Bisnis Jasa Perbaikan dan Servis

Barang-barang elektronik atau perabotan rumah tangga sering butuh servis. Daripada beli baru, banyak orang lebih memilih perbaiki. Bisnis jasa reparasi, baik itu AC, kulkas, atau komputer, tetap eksis.

Jasa ini juga cocok buat pemula karena modalnya kecil dan permintaan tetap ada. Yang penting, pelayanan cepat dan harga bersaing.

4. Bisnis Digital dan Online

Di masa krisis, banyak orang cari penghasilan tambahan lewat online. Bisnis seperti jasa desain grafis, penulisan konten, atau jual beli produk digital bisa jadi pilihan. Modal minim, hasil bisa maksimal.

Bisnis e-commerce juga tetap tumbuh. Orang lebih suka belanja online daripada ke luar rumah. Apalagi kalau bisa COD atau cicilan.

5. Bisnis Pendidikan dan Pelatihan

Saat banyak orang kehilangan pekerjaan atau penghasilan berkurang, mereka cenderung mencari keterampilan baru. Bisnis pelatihan online, kursus singkat, atau bimbingan belajar bisa jadi solusi.

Kelas keterampilan seperti menjahit, memasak, atau reparasi elektronik pun banyak dicari. Orang ingin punya keterampilan yang bisa menghasilkan uang tambahan.

Tips Memulai Bisnis di Masa Krisis

1. Fokus pada Kebutuhan Dasar

Pilih bisnis yang menyasar kebutuhan pokok. Seperti makanan, kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga. Permintaan terhadap produk ini cenderung stabil, bahkan saat ekonomi lesu.

2. Modal Minim Tapi Efisien

Bisnis yang bisa dimulai dengan modal kecil lebih aman. Misalnya jualan online, jasa servis rumah tangga, atau bisnis rumahan. Yang penting, manajemen keuangan harus ketat.

3. Gunakan Media Sosial untuk Pasar

Media sosial jadi alat promosi yang murah dan efektif. Buat konten menarik, tampilkan produk dengan jelas, dan responsif terhadap calon pembeli. Banyak bisnis kecil yang sukses hanya dari Instagram atau TikTok.

4. Bangun Relasi dan Kepercayaan

Orang lebih percaya pada rekomendasi teman atau tetangga. Bangun hubungan baik dengan pelanggan. Layanan ramah dan produk berkualitas akan membuat mereka kembali.

5. Fleksibel dan Siap Beradaptasi

Krisis seringkali datang dengan perubahan cepat. Bisnis yang bisa cepat menyesuaikan diri punya peluang lebih besar bertahan. Misalnya, ubah metode pembayaran, tawarkan cicilan, atau sesuaikan harga.

Perbandingan Bisnis: Sebelum dan Sesudah Krisis

Kategori Bisnis Sebelum Krisis Saat Krisis
Barang Mewah Tinggi permintaan Permintaan turun drastis
Makanan Pokok Stabil Meningkat
Jasa Perbaikan Terbatas Meningkat
Bisnis Digital Tumbuh pesat Semakin berkembang
Pelatihan Keterampilan Sedang Tinggi

Modal dan Potensi Keuntungan

Berikut estimasi modal dan potensi keuntungan dari beberapa bisnis kecil yang tetap eksis saat krisis:

  1. Jualan Makanan Rumahan

    • Modal awal: Rp 500.000
    • Potensi keuntungan: Rp 200.000 – Rp 500.000/bulan
  2. Jasa Servis Elektronik

    • Modal awal: Rp 1.000.000
    • Potensi keuntungan: Rp 300.000 – Rp 1.000.000/bulan
  3. Kursus Keterampilan Online

    • Modal awal: Rp 300.000
    • Potensi keuntungan: Rp 1.000.000 – Rp 5.000.000/bulan
  4. Jual Produk Kesehatan

    • Modal awal: Rp 1.500.000
    • Potensi keuntungan: Rp 500.000 – Rp 2.000.000/bulan
  5. Bisnis Digital (Desain/Jasa Online)

    • Modal awal: Rp 200.000
    • Potensi keuntungan: Rp 500.000 – Rp 3.000.000/bulan

Kesimpulan

Ekonomi lesu bukan berarti semua bisnis sepi. Justru, ini saat yang tepat untuk mulai bisnis yang menyasar kebutuhan dasar. Yang penting, pahami pasar, kelola modal dengan baik, dan tetap fleksibel menghadapi perubahan.

Bisnis yang tetap eksis saat krisis biasanya yang bisa bertahan di tengah tekanan. Bukan yang paling glamor, tapi yang paling dibutuhkan. Jadi, kalau sedang mikir mau mulai usaha apa, mungkin ini saatnya coba yang sederhana tapi punya potensi besar.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung kondisi pasar serta lokasi bisnis masing-masing.

Erna Agnesa
Reporter at Pantai Teluk Awur

Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.