Dolar AS menghapus kerugian dan sedikit menguat pada Selasa, 2 Juni 2026. Pergerakan ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai kondisi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Meski belum ada keputusan pasti, sentimen pasar mulai merespons perkembangan terbaru dalam diplomasi kedua negara yang tengah berjalan alot.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, berada di kisaran 99,22. Angka ini menunjukkan koreksi kecil dari posisi sebelumnya. Pergerakan dolar yang tidak terlalu dramatis mencerminkan minimnya indikator kuat dari kedua belah pihak soal kemajuan pembicaraan.
Ketegangan Diplomasi yang Membayang
Hubungan AS dan Iran memang tengah berada di titik krusial. Beberapa pekan terakhir, ketegangan meningkat akibat baku tembak di Teluk dan operasi militer Israel di Lebanon. Situasi ini mengancam kesepakatan rapuh yang telah disepakati sejak awal April lalu.
Iran melalui Tasnim News Agency menyatakan bahwa pertukaran pesan dengan AS telah ditangguhkan. Namun, pernyataan ini dibantah oleh pihak AS. Presiden Donald Trump bahkan menegaskan bahwa komunikasi antara kedua negara masih berjalan secara terus-menerus.
Langkah Israel di Lebanon menjadi poin penting dalam negosiasi. Kedua belah pihak tampaknya belum sepaham soal batasan wilayah dan kewenangan yang terlibat. Reuters melaporkan bahwa Lebanon telah mengumumkan gencatan senjata parsial dengan Hizbullah, meski militer Israel masih mencatat adanya tembakan dari Lebanon.
Trump menyatakan bahwa Hizbullah telah berkomitmen untuk tidak menyerang Israel, sementara Perdana Menteri Netanyahu berjanji akan menahan diri dari serangan terhadap Beirut. Namun, klaim ini masih perlu dibuktikan di lapangan.
1. Penundaan Komunikasi Diplomatik
Beberapa sumber dari Iran menyatakan bahwa komunikasi dengan AS telah dihentikan sementara. Tujuannya adalah untuk mencapai nota kesepahaman awal sebelum melanjutkan pembicaraan lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak sedang memperjelas posisi masing-masing.
2. Penegasan dari Pihak AS
Trump melalui platform Truth Social menegaskan bahwa berita tentang terhentinya komunikasi adalah tidak benar. Ia menyebut bahwa percakapan antara AS dan Iran tetap berlangsung secara rutin, bahkan dalam beberapa hari terakhir.
3. Peran Mediator dan Tekanan Regional
Negosiasi damai ini tidak hanya melibatkan AS dan Iran, tetapi juga negara-negara lain seperti Lebanon dan Israel. Mediator dari berbagai belah pihak berperan penting dalam menjaga agar situasi tidak semakin memanas.
Data Tenaga Kerja AS Menguat
Di tengah ketidakpastian geopolitik, fokus pasar juga tertuju pada data ekonomi domestik AS. Laporan Ringkasan Lowongan Pekerjaan dan Perputasan Tenaga Kerja (JOLTS) bulan April menunjukkan angka yang mengejutkan.
Lowongan pekerjaan mencatat 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi konsensus sebesar 6,860 juta. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak Mei 2024. Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih kuat meski berada di tengah ketidakpastian global.
1. Pertumbuhan Sektor Jasa
Pertumbuhan lowongan pekerjaan sebagian besar didorong oleh sektor jasa profesional dan bisnis. Ini menunjukkan bahwa sektor yang tidak langsung terkena dampak eksternal masih menunjukkan performa yang solid.
2. Stabilitas Pasar Kerja
Ekonom KPMG AS, Diane Swonk, menyatakan bahwa meskipun angka tampak tinggi, data sebenarnya menunjukkan bahwa pasar kerja sedang mengalami pembekuan. Tingkat pengunduran diri tenaga kerja berada di level terendah sejak Agustus 2020.
3. Ekspektasi Inflasi Tetap Tinggi
Data pekerjaan yang kuat bisa menjadi pertanda bahwa Federal Reserve akan tetap waspada terhadap inflasi. Investor kini menunggu laporan pekerjaan bulan Mei yang akan dirilis pada akhir pekan ini.
Pergerakan Mata Uang Lainnya
Selain dolar, mata uang lain juga menunjukkan pergerakan yang cukup menarik. Yen Jepang melemah terhadap dolar untuk keempat kalinya berturut-turut. Pasangan USD/JPY mencatat kenaikan 0,2% ke level 159,91.
1. Ambang Batas Intervensi Yen
Yen kini mendekati level psikologis 160 per dolar. Level ini dianggap sebagai titik di mana otoritas Jepang mungkin akan melakukan intervensi pasar. Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan bahwa pemerintah siap bertindak jika diperlukan.
2. Euro Stabil di Tengah Inflasi Naik
Euro berada sedikit di bawah garis datar di USD1,1629. Inflasi utama zona euro diperkirakan naik 3,2% pada Mei, naik dari 3% sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga energi sebesar 10,9%.
Inflasi inti juga naik ke level 2,5%, sedikit di atas ekspektasi 2,4%. Ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih ada meski tidak terlalu parah.
3. Pasar Menunggu Data Lebih Lanjut
Investor kini menunggu data ekonomi lainnya dari zona euro dan Jepang. Kombinasi antara data domestik dan tekanan geopolitik membuat pasar tetap waspada.
Penutup
Dolar AS tetap menjadi fokus utama investor di tengah ketidakpastian diplomatik. Meski hanya menguat tipis, pergerakan ini menunjukkan bahwa greenback masih dianggap sebagai aset aman. Data ekonomi AS yang kuat menambah kepercayaan pasar, meski tekanan dari luar seperti konflik Timur Tengah tetap menjadi penghalang.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Juni 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.












