Country Head of Public Affairs Citi Indonesia, Hario Widyananto, menegaskan bahwa peluang kerja untuk perempuan, generasi muda, dan penyandang disabilitas harus terus diperluas. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar target inklusi ini bisa dicapai secara nyata.
Langkah ini bukan sekadar isu kebijakan, melainkan bagian dari tanggung jawab korporat yang ingin menciptakan dampak sosial berkelanjutan. Salah satu wujud nyatanya adalah lewat Program Anak Muda untuk Dunia Kerja dan Wirausaha Digital yang Inklusif (ANDAL), hasil kolaborasi Citi Foundation dan YCAB Foundation.
Mengapa Inklusi Kerja Harus Jadi Prioritas?
Inklusi di tempat kerja bukan cuma soal memberi kesempatan. Ini tentang membangun sistem yang ramah bagi semua kalangan, termasuk mereka yang selama ini rentan tertinggal. Termasuk juga kaum disabilitas yang sering kali sulit mendapat pekerjaan layak.
Hario Widyananto menyampaikan bahwa realitasnya, jumlah tenaga kerja perempuan dan generasi muda yang siap bekerja masih terbilang rendah. Padahal, potensi mereka sangat besar jika diberi akses dan pelatihan yang tepat.
1. Keterlibatan Sektor Swasta dan Publik
Upaya pembukaan lapangan kerja inklusif membutuhkan sinergi antara swasta dan pemerintah. Tidak cukup hanya dijalankan oleh satu pihak saja.
Swasta seperti Citi Indonesia membawa sumber daya dan jaringan global, sedangkan pemerintah punya regulasi dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung program skala besar.
2. Peran Citi Foundation dalam Ekosistem Kerja
Citi Foundation memiliki tiga pilar utama, salah satunya fokus pada pemberdayaan generasi muda. Di Indonesia, pilar ini diwujudkan lewat kemitraan dengan YCAB Foundation.
Program ANDAL sendiri dirancang untuk memberikan pelatihan dan akses wirausaha digital kepada anak muda, khususnya yang memiliki keterbatasan fisik atau latar belakang ekonomi rendah.
3. Target Capaian Program ANDAL 2026–2027
Program ini menargetkan penjangkauan hingga 2.500 anak muda selama dua tahun ke depan. Termasuk di dalamnya perempuan dan penyandang disabilitas.
| Sasaran Peserta | Jumlah |
|---|---|
| Total peserta | 2.500 orang |
| – Perempuan | ± 60% |
| – Penyandang disabilitas | ± 15% |
| – Generasi muda usia 18–30 tahun | ± 85% |
Data ini menunjukkan bahwa program ini benar-benar ditujukan untuk kelompok yang selama ini kurang terlayani di pasar kerja formal.
Bagaimana Cara Kerja Program ANDAL?
Program ini tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan teknis. Tetapi juga membekali peserta dengan soft skill dan literasi digital agar siap menghadapi tantangan dunia kerja modern.
4. Tahapan Pelatihan Digital Entrepreneurship
Pelatihan dirancang modular, artinya peserta bisa mengikuti sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Mulai dari dasar hingga level lanjutan.
-
Orientasi dan Seleksi
Peserta menjalani seleksi awal untuk memastikan profil sesuai dengan program. Termasuk identifikasi kebutuhan khusus bagi penyandang disabilitas. -
Pelatihan Dasar Literasi Digital
Modul ini mencakup penggunaan internet, media sosial, dan platform e-commerce. Ditujukan untuk peserta yang belum familiar dengan teknologi. -
Pelatihan Kewirausahaan
Materi mencakup perencanaan bisnis, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran digital. -
Mentoring dan Pendampingan Pasca-Pelatihan
Peserta dibimbing oleh mentor profesional selama beberapa bulan setelah pelatihan selesai. -
Akses Pendanaan Mikro
Peserta yang memiliki ide bisnis unggulan bisa mengajukan bantuan modal usaha melalui mitra keuangan program.
5. Adaptasi untuk Penyandang Disabilitas
YCAB Foundation memastikan bahwa setiap modul pelatihan dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Misalnya, materi audio tersedia untuk tunanetra, dan tata letak visual disederhanakan untuk tunarungu.
Fasilitator juga dilatih khusus agar bisa memberikan pendampingan yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individu.
Apa Kata Mitra dan Peserta?
Beberapa alumni program ANDAL menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka banyak peluang baru. Banyak dari mereka yang sebelumnya tidak percaya diri kini berhasil memulai usaha mandiri.
Salah satu peserta, Dina (25), berbagi bahwa ia merasa lebih siap menghadapi dunia kerja setelah mengikuti pelatihan. Ia kini menjalankan toko online yang fokus pada produk ramah lingkungan.
Sementara itu, Andi (22), seorang tunarungu, mengaku bahwa pelatihan ini pertama kalinya ia merasa didukung sepenuhnya oleh fasilitator. Ia kini aktif sebagai content creator di media sosial.
Tantangan dan Solusi dalam Implementasi
Meski program ini memiliki visi yang kuat, tidak sedikit tantangan yang dihadapi. Terutama dalam hal aksesibilitas teknologi dan stigma sosial terhadap penyandang disabilitas.
6. Kendala Infrastruktur Teknologi
Di daerah tertinggal, akses internet dan perangkat digital masih menjadi kendala. Program ini mencoba mengatasi dengan menyediakan perangkat pendukung dan kuota internet gratis selama masa pelatihan.
7. Stigma terhadap Penyandang Disabilitas
Masih banyak perusahaan yang enggan merekrut penyandang disabilitas karena anggapan bahwa mereka tidak produktif. Edukasi terus digalakkan agar persepsi ini bisa berubah secara bertahap.
8. Keterbatasan Pendamping Lokal
Untuk menjaga kualitas pelatihan, dibutuhkan pendamping lokal yang kompeten. Oleh karena itu, program ini juga melibatkan lembaga pelatihan daerah untuk turut serta dalam proses implementasi.
Dampak Jangka Panjang yang Diharapkan
Program ANDAL tidak hanya bertujuan mencetak pengusaha muda. Lebih dari itu, program ini ingin menciptakan ekosistem yang mendukung inklusi ekonomi secara berkelanjutan.
9. Peningkatan Kapasitas SDM Lokal
Dengan meningkatnya keterampilan peserta, diharapkan mereka bisa menjadi agen perubahan di komunitasnya. Baik melalui usaha mandiri maupun dengan menjadi trainer untuk generasi berikutnya.
10. Penguatan Ekosistem Startup Inklusif
Program ini juga membuka peluang kolaborasi dengan startup lokal yang peduli pada inklusi. Sehingga solusi teknologi bisa dikembangkan untuk kebutuhan spesifik penyandang disabilitas.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat valid hingga Juni 2025. Data dan target program bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kebijakan dan situasi lapangan.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











