Multifinance

Penguatan Harga Emas Global Dipicu Faktor Ini

Nurkasmini Nikmawati
×

Penguatan Harga Emas Global Dipicu Faktor Ini

Sebarkan artikel ini
Penguatan Harga Emas Global Dipicu Faktor Ini

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Peningkatan ini terjadi seiring dengan harapan akan tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran terkait perpanjangan gencatan senjata serta negosiasi program nuklir Teheran. Meskipun masih menunggu persetujuan dari Presiden Donald Trump, nota kesepahaman (MoU) selama 60 hari ini menjadi salah satu faktor pendorong optimisme di pasar keuangan global.

MoU yang disepakati disebut mencakup kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, termasuk penghapusan gangguan terhadap kapal dagang dan pembersihan ranjau di jalur strategis tersebut. Namun, situasi tetap dinamis, terutama setelah serangan terhadap pangkalan udara Amerika di Kuwait oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran. Serangan ini dianggap sebagai respons atas serangan sebelumnya oleh AS terhadap Bandar Abbas.

Dinamika Harga Emas dan Faktor Pendorongnya

Harga emas menjadi salah satu aset yang cukup sensitif terhadap ketegangan geopolitik. Dalam konteks ketidakpastian global, emas sering kali dianggap sebagai aset safe haven. Namun, kinerjanya juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga dan inflasi.

Pada Jumat, 29 Mei 2026, harga emas spot naik 0,37 persen menjadi USD4.472,82 per ons. Kenaikan ini terjadi meskipun data inflasi AS untuk April 2026 menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Investor tampaknya mulai mengurangi tekanan terhadap emas setelah beberapa hari sebelumnya terpukul akibat ketidakpastian politik dan ekonomi global.

1. Ketegangan Geopolitik di Timur Tengah

Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas dalam beberapa hari terakhir. Serangan terhadap pangkalan udara AS di Kuwait oleh Garda Revolusi Iran menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Serangan ini dianggap sebagai respons atas serangan sebelumnya oleh AS terhadap pelabuhan Bandar Abbas.

Kuwait juga melaporkan adanya upaya pertahanan terhadap serangan rudal dan drone, meskipun tidak menyebutkan sumbernya secara pasti. Ini menunjukkan bahwa ketegangan regional semakin memanas, dan investor mulai mencari aset yang dianggap lebih aman.

2. Data Inflasi AS yang Lebih Tinggi dari Ekspektasi

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti AS naik 3,3 persen secara tahunan pada April 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar tetapi lebih tinggi dibandingkan Maret yang mencatatkan kenaikan 3,2 persen. Sementara itu, PCE utama naik 3,8 persen secara tahunan, melambat dari 3,5 persen sebelumnya.

Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen, lebih rendah dari 0,3 persen pada Maret. Namun, PCE utama naik 0,4 persen, melambat dari 0,7 persen sebelumnya. Meskipun ada perlambatan, angka ini masih memberikan tekanan pada ekspektasi suku bunga di masa depan.

3. Harga Minyak yang Terus Naik

Harga minyak mentah tetap berada di bawah USD100 per barel, tetapi masih jauh di atas level pra-konflik. Lonjakan harga minyak ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi yang lebih tinggi. Jika hal ini terjadi, bank sentral global, termasuk Federal Reserve, mungkin akan menaikkan suku bunga sebagai langkah antisipatif.

Kenaikan suku bunga umumnya tidak menguntungkan bagi emas karena aset ini tidak menghasilkan imbal hasil. Namun, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global justru bisa mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

4. Peran Safe Haven dalam Pergerakan Harga Emas

Emas sering kali menjadi pilihan investor saat ketidakpastian global meningkat. Dalam situasi seperti konflik Timur Tengah, emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling dicari karena sifatnya yang stabil dan tidak terikat pada suku bunga.

Namun, kenaikan suku bunga bisa membuat emas kurang menarik karena investor lebih memilih aset yang memberikan return berupa bunga. Keseimbangan antara ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga menjadi faktor kunci dalam menentukan arah harga emas ke depannya.

Perbandingan Data Inflasi AS April 2026

Berikut adalah perbandingan data inflasi AS antara Maret dan April 2026:

Indeks Inflasi Maret 2026 April 2026
PCE Inti (YoY) 3,2% 3,3%
PCE Inti (MoM) 0,3% 0,2%
PCE Utama (YoY) 3,5% 3,8%
PCE Utama (MoM) 0,7% 0,4%

Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada sedikit perlambatan bulanan, tekanan inflasi secara tahunan masih cukup tinggi.

5. Ekspektasi Suku Bunga dan Dampaknya pada Emas

Pasar saat ini masih menunggu keputusan Federal Reserve terkait suku bunga. Namun, ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga jika inflasi terus tinggi memberikan tekanan pada harga emas. Investor cenderung beralih ke aset berbunga ketika suku bunga naik.

Namun, jika ketegangan geopolitik terus berlanjut, permintaan terhadap emas sebagai safe haven bisa tetap tinggi. Ini menciptakan dinamika yang cukup kompleks dalam pergerakan harga emas.

6. Sentimen Pasar dan Peran Media

Laporan dari Axios tentang MoU antara AS dan Iran memberikan sedikit optimisme di pasar. Namun, sentimen tetap waspada karena belum ada kepastian apakah kesepakatan ini akan bertahan lama. Media juga memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar melalui pemberitaan mengenai konflik dan kebijakan ekonomi.

Penutup

Harga emas dunia kembali naik seiring dengan ketegangan geopolitik dan data inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi. Meskipun suku bunga menjadi ancaman bagi kinerja emas, ketidakpastian global justru bisa menjadi pendorong utama permintaan terhadap logam mulia ini.

Investor perlu terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta kebijakan bank sentral global untuk mengantisipasi pergerakan harga emas ke depannya.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Mei 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan situasi global.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Pantai Teluk Awur

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.