Ilustrasi. Foto: Dok MI
Reporter: Eko Nordiansyah
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali merosot pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Penutupan hari ini mencatatkan IHSG di level 6.130,190, turun 76,159 poin atau sekitar 1,23 persen. Meski sempat menguat di awal sesi, indeks akhirnya gagal mempertahankan momentum positif hingga akhir perdagangan.
Pergerakan IHSG hari ini berada dalam kisaran antara level tertinggi 6.286 dan terendah 6.124. Volume perdagangan yang tercatat mencapai 24,608 juta saham senilai Rp17,916 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.640 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.962.958 kali.
Dari total saham yang diperdagangkan, hanya 241 saham yang mengalami kenaikan. Sebanyak 447 saham justru terperosok, dan 133 saham lainnya stagnan. Mayoritas saham mengalami tekanan jual, menandakan sentimen pasar masih belum stabil.
Koreksi IHSG Diprediksi Sebelum Libur Iduladha
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan bahwa IHSG akan mengalami koreksi menjelang libur Iduladha. Menurutnya, koreksi ini merupakan respons terhadap ketidakpastian global dan sentimen investor yang masih ragu.
Fanny menyebutkan bahwa support IHSG berada di kisaran 6.060 hingga 6.170. Sementara resistensi berada di level 6.250 hingga 6.270. Artinya, jika indeks mampu menembus resistensi, potensi kenaikan masih terbuka. Namun, jika justru tembus ke bawah support, maka bisa terjadi penurunan lebih dalam.
Perdagangan sebelumnya, Senin (25/5/2026), IHSG ditutup naik 0,72 persen. Namun, kenaikan ini tidak diikuti oleh minat beli investor asing. Justru terjadi net sell sebesar Rp2,09 triliun. Saham-saham yang banyak dijual oleh asing antara lain AMMN, BMRI, AMRT, ANTM, dan TPIA.
Performa Pasar Global Membaik, Tapi Belum Dorong IHSG
Meskipun sejumlah indeks pasar saham global menunjukkan performa positif, IHSG belum mampu mengikuti tren tersebut secara konsisten. Pasar saham Wall Street pada perdagangan Jumat (22/5/2026) ditutup menguat.
Dow Jones naik 0,58 persen, S&P 500 naik 0,37 persen, dan Nasdaq Composite naik 0,19 persen. Penguatan ini didorong oleh turunnya yield obligasi pemerintah AS, yang membuat investor kembali tertarik ke aset berisiko seperti saham.
Di kawasan Asia, performa pasar saham juga cukup positif. Taiex Taiwan melonjak 3,26 persen. CSI 300 China naik 1,58 persen. ASX 200 Australia juga menguat 0,40 persen. Straits Times Singapura naik tipis 0,05 persen, sedangkan FTSE Malaysia sedikit turun 0,24 persen.
Meski begitu, IHSG masih belum mampu memanfaatkan sentimen positif tersebut. Investor lokal tampak masih menunggu isyarat yang lebih kuat sebelum kembali berani masuk pasar.
Faktor-Faktor yang Memicu Penurunan IHSG
Penurunan IHSG tidak datang begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan indeks ini menjelang libur Iduladha. Berikut adalah beberapa di antaranya:
1. Sentimen Investor yang Masih Wasp-Wasp
Investor lokal cenderung menahan diri menjelang libur panjang. Banyak dari mereka memilih untuk tidak membuka posisi baru atau justru melakukan profit taking. Hal ini membuat likuiditas pasar sedikit terganggu.
2. Net Sell dari Investor Asing
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,09 triliun pada perdagangan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa minat beli mereka terhadap pasar saham Indonesia masih rendah. Saham-saham blue-chip seperti BMRI dan ANTM justru banyak dijual.
3. Ketidakpastian Global
Meskipun pasar global menunjukkan tren positif, masih ada ketidakpastian yang menghiasi sentimen investor. Isu terkait kebijakan moneter, geopolitik, dan kondisi ekonomi global masih menjadi pertimbangan.
4. Koreksi Teknis
IHSG yang sempat menguat dalam beberapa hari terakhir memang berpotensi mengalami koreksi teknis. Koreksi ini bisa menjadi normalisasi sebelum kembali naik di sesi berikutnya.
Tips untuk Investor di Tengah Volatilitas IHSG
Menjelang libur Iduladha, investor perlu lebih waspada terhadap volatilitas pasar. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan:
1. Evaluasi Portofolio Saham
Pastikan portofolio yang dimiliki seimbang antara saham defensive dan growth. Saham defensive bisa memberikan stabilitas saat pasar sedang tidak menentu.
2. Hindari Overtrading
Di tengah ketidakpastian, lebih baik tidak terlalu sering melakukan transaksi. Fokus pada saham berkualitas dan hindari spekulasi berlebihan.
3. Gunakan Stop Loss
Stop loss bisa menjadi proteksi jika terjadi penurunan mendadak. Ini membantu meminimalkan kerugian dan menjaga modal tetap aman.
4. Jangan Panik Jual
Koreksi adalah hal wajar dalam pasar saham. Jika saham yang dimiliki berkualitas bagus, tidak perlu langsung dijual begitu mengalami penurunan kecil.
Perbandingan IHSG dengan Indeks Global
Berikut adalah perbandingan performa IHSG dengan beberapa indeks global pada periode yang sama:
| Indeks | Negara | Kenaikan (%) |
|---|---|---|
| Dow Jones | Amerika Serikat | +0,58 |
| S&P 500 | Amerika Serikat | +0,37 |
| Nasdaq | Amerika Serikat | +0,19 |
| Taiex | Taiwan | +3,26 |
| CSI 300 | China | +1,58 |
| ASX 200 | Australia | +0,40 |
| Straits Times | Singapura | +0,05 |
| FTSE Malaysia | Malaysia | -0,24 |
| IHSG | Indonesia | -1,23 |
Dari tabel di atas terlihat bahwa IHSG menjadi salah satu indeks yang mengalami koreksi paling dalam di kawasan Asia. Ini menunjukkan bahwa sentimen lokal masih lebih lemah dibandingkan dengan pasar regional lainnya.
Penutup
Penurunan IHSG ke level 6.130 menjelang libur Iduladha mencerminkan konsolidasi pasar yang sedang terjadi. Investor lokal tampak menahan diri, sementara investor asing masih melakukan net sell. Meski begitu, sentimen global yang positif bisa menjadi peluang jika investor lokal kembali percaya diri.
Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak terjebak emosi dalam mengambil keputusan. Memahami kondisi pasar dan melakukan evaluasi portofolio secara berkala akan membantu menjaga kesehatan investasi di tengah volatilitas.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar. Keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi pribadi dan tujuan finansial masing-masing.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












