Multifinance

Nilai Tukar Dolar Amerika Serikat Kembali Menguat di Pasar Keuangan Global

Nurkasmini Nikmawati
×

Nilai Tukar Dolar Amerika Serikat Kembali Menguat di Pasar Keuangan Global

Sebarkan artikel ini
Nilai Tukar Dolar Amerika Serikat Kembali Menguat di Pasar Keuangan Global

Dolar AS kembali menunjukkan kekuatannya di tengah dinamika pasar global yang penuh gejolak. Penguatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, yang dipicu oleh data inflasi konsumen yang lebih tinggi dari yang diperkirakan. Tidak hanya itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut mendorong permintaan terhadap aset aman seperti dolar.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, mencatat kenaikan 0,3 persen menjadi 98,30 pada Rabu, 13 Mei 2026. Penguatan ini menjadi yang terbaik sejak akhir April lalu. Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) inti naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar.

Inflasi yang Lebih Panas dari Perkiraan

Data inflasi April 2026 menjadi sorotan utama para pelaku pasar. Angka yang dirilis menunjukkan bahwa CPI inti naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan. Kenaikan ini sedikit melebihi prediksi konsensus yang memperkirakan kenaikan 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan.

1. Kenaikan Harga Energi Jadi Penyumbang Utama

Indeks harga energi naik 3,8 persen secara bulanan pada April, menyumbang lebih dari 40 persen dari pertumbuhan CPI bulanan. Meski begitu, kenaikan ini jauh lebih moderat dibandingkan lonjakan 10,9 persen pada Maret. Secara tahunan, indeks energi masih tinggi di angka 17,9 persen, tertinggi sejak September 2022.

2. Harga Bensin Naik Tajam

Indeks harga bensin naik 5,4 persen secara bulanan pada April, jauh lebih lambat dibandingkan lonjakan 21,2 persen pada Maret. Namun, secara tahunan, indeks ini masih tinggi di angka 28,4 persen, menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022.

3. Inflasi Perumahan Dipengaruhi Faktor Teknis

Kenaikan inflasi sektor perumahan dipengaruhi oleh dampak teknis akibat tidak adanya pengumpulan data selama penutupan pemerintah federal pada Oktober. Ini membuat data inflasi perumahan terlihat lebih tinggi dari seharusnya.

4. Inflasi Teknologi dan Transportasi Udara Terus Naik

Inflasi terkait teknologi terus menunjukkan percepatan yang tajam. Tarif penerbangan juga terus mengalami kenaikan harga yang kuat, dan diperkirakan akan terus naik ke depannya.

Respons Pasar dan Ekspektasi Suku Bunga

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga di masa depan. Peluang kenaikan suku bunga pada September, Oktober, dan Desember meningkat setelah rilis CPI April.

1. Perubahan Kepemimpinan The Fed

Laporan CPI April dirilis pada saat transisi kepemimpinan Federal Reserve. Masa jabatan ketua petahana Jerome Powell akan berakhir dalam tiga hari, dan diperkirakan akan digantikan oleh Kevin Warsh, mantan gubernur Fed yang diusulkan Presiden Donald Trump.

2. Pandangan Ekonom terhadap Kebijakan Moneter

David Doyle, kepala ekonom di Macquarie Group, menyatakan bahwa pandangan dasar FOMC tidak berubah. Ia memperkirakan langkah selanjutnya adalah kenaikan suku bunga dengan waktu dasar di semester pertama 2027.

Ketegangan Geopolitik Dorong Permintaan Aset Aman

Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memperkuat dolar. Tidak adanya kemajuan dalam upaya diplomatik antara AS dan Iran membuat investor beralih ke aset aman.

1. Gencatan Senjata dalam Kondisi Kritis

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran berada dalam "kondisi kritis". Ia menolak tawaran balasan dari Iran, yang dianggapnya sebagai "sampah" dan tidak layak dibaca sepenuhnya.

2. Pendekatan Diplomasi yang Kaku

Trump menekankan bahwa AS tidak terburu-buru dalam menyelesaikan konflik ini. Ia menyatakan bahwa blokade ekonomi terhadap Iran masih berjalan efektif dan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Performa Mata Uang Dunia Lainnya

Tidak semua mata uang mampu bersaing dengan dolar AS dalam kondisi seperti ini. Beberapa mata uang utama justru mengalami pelemahan.

1. Poundsterling Melemah

Poundsterling terus mengalami tekanan setelah hasil pemilihan dewan yang buruk bagi Partai Buruh. Empat anggota pemerintahan mengundurkan diri, dan beberapa anggota parlemen menyerukan agar Perdana Menteri Keir Starmer mundur. Pound terakhir turun 0,5 persen menjadi USD1,3537.

2. Yen Jepang Melemah

Yen Jepang juga melemah, dengan pasangan USD/JPY naik 0,3 persen menjadi 157,60. Data pengeluaran rumah tangga di Jepang yang turun 2,9 persen secara tahunan pada Maret turut memperburuk kondisi mata uang ini.

3. Euro Mengalami Pelemahan

Euro juga tidak mampu bertahan, melemah 0,4 persen menjadi USD1,1739. Investor cenderung menjauh dari mata uang ini dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi.

Tabel Perbandingan Performa Mata Uang Utama (12 Mei 2026)

Mata Uang Perubahan (%) Terhadap Dolar AS
Dolar AS +0,3% Indeks 98,30
Poundsterling -0,5% USD1,3537
Yen Jepang -0,3% USD/JPY 157,60
Euro -0,4% USD1,1739

Disclaimer

Data dan informasi yang disajikan dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan pasar dan kebijakan moneter global. Keputusan investasi sebaiknya diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan konsultasi dengan ahli keuangan.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Pantai Teluk Awur

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.