Dolar AS menguat tipis pada awal pekan ini seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman. Lonjakan ini terjadi di tengah ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, yang membuat investor lebih memilih menyimpan dana di mata uang yang dianggap stabil. Selain itu, pasar juga tengah menanti data inflasi AS yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, yang berpotensi memberi gambaran lebih jelas tentang dampak kenaikan harga energi global.
Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,1 persen menjadi 97,96. Kenaikan ini terjadi meskipun aktivitas pasar masih tergolong hati-hati. Investor tampaknya memilih untuk menahan diri menjelang rilis data ekonomi penting, terutama yang berkaitan dengan inflasi dan harga minyak.
Ketegangan AS-Iran Dorong Permintaan Aset Aman
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas usai Teheran merespons rencana damai yang diajukan oleh pemerintahan AS. Dalam pernyataan resmi, Iran menuntut penghentian pertempuran, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, serta kompensasi atas kerusakan akibat konflik. Respon ini langsung menuai kritik tajam dari Presiden Donald Trump yang menyebutnya “tidak dapat diterima”.
Trump menilai bahwa proposal dari Iran tidak menyertakan penghentian program nuklir mereka. Ia juga menyatakan bahwa gencatan senjata yang sedang berlangsung kini berada dalam kondisi kritis. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar global, yang akhirnya mendorong investor beralih ke dolar sebagai pelindung nilai.
Pandangan Ahli tentang Dolar dan Harga Minyak
Ahli strategi valuta asing Thierry Wizman dari Macquarie menyebut bahwa blokade ekonomi terhadap Iran oleh AS saat ini dianggap lebih efektif daripada konflik bersenjata. Menurutnya, selama harga minyak mentah tetap tinggi akibat ketegangan di Teluk Persia, dolar akan tetap kuat. Dolar baru akan melemah kembali jika harga minyak mulai stabil, mungkin setelah tercapainya kesepakatan damai yang berkelanjutan.
Wizman menambahkan bahwa dampak dari harga minyak tinggi lebih besar bagi ekonomi global dibandingkan dampak dari sanksi AS. Ini menjadikan dolar sebagai pilihan utama investor dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Fokus Pasar pada Data Inflasi AS
Para pelaku pasar tengah menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) untuk bulan April. Data ini akan menunjukkan sejauh mana lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah berdampak pada inflasi secara keseluruhan.
Data sebelumnya menunjukkan bahwa kenaikan harga energi berpengaruh besar pada angka inflasi inti, meski tidak signifikan. Brent Schutte, kepala investasi di Northwestern Mutual Wealth Management, menyebut bahwa energi akan menjadi fokus utama dalam laporan CPI bulan ini. Ia juga mengatakan bahwa PPI akan memberikan gambaran tentang arah harga konsumen ke depan.
Jika data menunjukkan kenaikan inflasi yang signifikan, bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga di masa mendatang. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya memperkuat nilai dolar, menjadikannya lebih menarik bagi investor.
Pergerakan Mata Uang Dunia
Selain dolar AS, beberapa mata uang utama juga mengalami pergerakan yang cukup signifikan. Yuan Tiongkok sedikit menguat terhadap dolar, dengan pasangan USD/CNY turun 0,1 persen menjadi 6,7948. Angka ini didukung oleh data inflasi Tiongkok yang menunjukkan pertumbuhan CPI sebesar 1,2 persen year-on-year pada April, lebih tinggi dari ekspektasi 0,9 persen.
Sementara itu, PPI Tiongkok melonjak 2,8 persen, jauh melebihi prediksi pasar sebesar 1,7 persen. Lonjakan ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah mulai berdampak pada ekonomi Tiongkok, meski tren deflasi masih menjadi tantangan jangka panjang.
Di Eropa, poundsterling tergelincir 0,1 persen menjadi USD1,3620. Pelemahan ini terjadi usai hasil pemilu lokal di Inggris menunjukkan kekalahan besar bagi Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer. Sebaliknya, Partai Reformasi Inggris yang dipimpin Nigel Farage meraih kemenangan besar, menciptakan ketidakpastian politik yang berpotensi memengaruhi nilai pound.
Euro juga melemah 0,1 persen menjadi USD1,1776. Pelemahan euro ini sejalan dengan sentimen pasar yang tengah menahan diri menjelang rilis data ekonomi penting dari AS.
Perbandingan Data Inflasi dan Mata Uang Utama
Berikut adalah perbandingan data inflasi dan pergerakan mata uang utama:
| Mata Uang | Pergerakan terhadap USD | Inflasi (CPI) | Inflasi (PPI) |
|---|---|---|---|
| Dolar AS (USD) | +0,1% | Menunggu data April | Menunggu data April |
| Yuan (CNY) | -0,1% | 1,2% (April) | 2,8% (April) |
| Poundsterling (GBP) | -0,1% | 2,3% (Maret) | 1,8% (Maret) |
| Euro (EUR) | -0,1% | 1,9% (Maret) | 1,5% (Maret) |
Catatan: Data inflasi berdasarkan laporan terbaru sebelum April 2026. Data April akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
Kesimpulan
Dolar AS tetap menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Permintaan terhadap aset aman, ditambah ekspektasi kenaikan suku bunga di masa mendatang, memperkuat nilai mata uang ini. Namun, pergerakan dolar juga sangat bergantung pada data inflasi yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Investor global kini tengah memperhatikan perkembangan ketegangan AS-Iran serta dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi. Jika ketegangan mereda dan harga energi kembali stabil, dolar berpotensi melemah. Namun jika situasi memburuk, dolar akan tetap menjadi pelabuhan aman bagi investor.
Disclaimer: Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak menjadi rekomendasi investasi.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












