Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, baru saja membuka selubung strategi di balik ketahanan nilai tukar rupiah di tengah gejolak eksternal yang belum reda. Dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala II Tahun 2026, ia menjelaskan bahwa BI tetap konsisten menjaga suku bunga acuan di level 4,75 persen hingga April 2026. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari strategi terukur agar rupiah tetap stabil meski diguncang berbagai tekanan global.
Langkah-langkah BI tak hanya berhenti di kebijakan suku bunga. Ada tujuh poin strategi yang dirancang untuk menjaga rupiah tetap kompetitif dan inflasi tetap dalam koridor target. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa perekonomian domestik tetap berjalan seimbang meski kondisi global belum sepenuhnya pulih.
Strategi BI Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia tidak bermain-main saat menghadapi gejolak nilai tukar. Perry Warjiyo menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil bersifat terukur dan berbasis data. Tujuannya jelas: menjaga rupiah tetap kuat tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
1. Menjaga Suku Bunga Acuan di Level 4,75 Persen
Salah satu poin utama adalah mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen hingga April 2026. Langkah ini diambil untuk memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa BI siap menjaga stabilitas moneter. Dengan suku bunga yang stabil, BI berharap dapat menahan tekanan spekulatif terhadap rupiah.
2. Operasi Valas Berlapis di Pasar Domestik dan Global
BI tidak hanya mengandalkan kebijakan domestik. Intervensi valuta asing dilakukan di pasar lokal maupun global. Langkah ini bertujuan untuk menstabilkan permintaan dan penawaran dolar AS, sehingga tidak terjadi lonjakan nilai tukar yang berlebihan.
3. Penguatan Suku Bunga SRBI
Peningkatan suku bunga Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) menjadi bagian dari upaya menarik investor untuk tetap mempertahankan dana di pasar keuangan domestik. Ini juga membantu menahan arus modal keluar yang biasanya terjadi saat rupiah tertekan.
4. Pembelian SBN Senilai Rp123,1 Triliun
Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat. BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp123,1 triliun sebagai bentuk dukungan terhadap APBN sekaligus menjaga likuiditas di pasar keuangan.
5. Memastikan Pertumbuhan Uang Primer di Atas 10 Persen
Untuk menjaga ketersediaan likuiditas, BI menetapkan pertumbuhan uang primer di atas 10 persen. Ini penting agar perbankan memiliki cadangan yang cukup untuk mendukung aktivitas ekonomi.
6. Penerapan Blueprint Pendalaman Pasar Uang 2030
Langkah jangka panjang juga tak ketinggalan. BI terus memperdalam pasar uang dengan mengacu pada Blueprint Pendalaman Pasar Uang (BPPU) 2030. Tujuannya agar pasar keuangan lebih tahan banting terhadap gejolak global.
7. Sinergi Regulasi dengan OJK
Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satu upaya konkretnya adalah memperketat pengawasan terhadap pembelian dolar oleh bank dan korporasi. Selain itu, ambang batas pelaporan Lalu Lintas Devisa (LLD) ke luar negeri dinaikkan menjadi USD50 ribu sejak April 2026.
Kebijakan Makroprudensial dan Sistem Pembayaran
Selain kebijakan moneter, BI juga mengandalkan pendekatan makroprudensial dan pengembangan sistem pembayaran. Kombinasi ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan sistem keuangan nasional.
Penguatan sistem pembayaran menjadi salah satu fokus BI untuk mendukung inklusi keuangan dan efisiensi transaksi. Dengan sistem yang lebih andal, BI bisa lebih cepat merespons ketidakstabilan yang terjadi di pasar keuangan.
Perbandingan Kinerja Rupiah dengan Mata Uang Regional
Berikut adalah perbandingan kinerja rupiah terhadap beberapa mata uang regional selama periode Januari–April 2026:
| Mata Uang | Persentase Pelemahan (Jan–Apr 2026) |
|---|---|
| Rupiah (IDR) | 1,8% |
| Ringgit Malaysia (MYR) | 2,3% |
| Baht Thailand (THB) | 2,1% |
| Peso Filipina (PHP) | 2,5% |
Dari data di atas, terlihat bahwa rupiah relatif lebih stabil dibandingkan dengan mata uang negara tetangga. Ini menunjukkan bahwa langkah-langkah BI memberikan dampak positif dalam menjaga ekspektasi pasar.
Target Inflasi dan Proyeksi Ekonomi
Bank Indonesia menargetkan inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada di kisaran 2,5±1 persen. Target ini dianggap realistis mengingat sejumlah faktor, termasuk stabilitas harga pangan dan energi global yang mulai membaik.
Perry Warjiyo menyatakan bahwa BI akan terus mengawasi perkembangan harga-harga strategis. Apabila ada gejolak mendadak, BI siap melakukan intervensi melalui berbagai instrumen yang dimiliki.
Disclaimer
Data dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Informasi ini disusun berdasarkan hasil konferensi pers Bank Indonesia pada 7 Mei 2026 dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi. Pembaca disarankan untuk selalu mengacu pada sumber resmi Bank Indonesia untuk informasi terkini.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












