Perbankan

DBS Group Research Perkirakan BI-Rate Naik Lagi 50 Bps Menuju 5,75% Tahun Ini

Ryando Putra Jameni
×

DBS Group Research Perkirakan BI-Rate Naik Lagi 50 Bps Menuju 5,75% Tahun Ini

Sebarkan artikel ini

Bank Indonesia (BI) kembali jadi sorotan setelah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Lonjakan ini lebih besar dari ekspektasi banyak pihak, termasuk prediksi awal dari DBS Group Research yang hanya memperkirakan kenaikan 25 bps. Langkah tegas ini diambil sebagai respons terhadap tekanan dari nilai tukar rupiah dan ketidakpastian geopolitik global.

Menurut Radhika Rao, Senior Economist DBS Bank, masih ada potensi kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 bps lagi di paruh kedua tahun ini. Artinya, BI Rate bisa mencapai 5,75% jika kondisi eksternal dan tekanan inflasi terus berlanjut. Ia menilai langkah antisipatif BI sangat penting untuk menjaga stabilitas makroekonomi, terutama di tengah gejolak global yang belum reda.

Prediksi Kenaikan BI Rate Menuju Level 5,75%

Langkah Bank Indonesia dalam menaikkan BI Rate bukan sekadar reaksi atas data ekonomi terkini. Ini juga bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, DBS Group Research memperkirakan bahwa suku bunga acuan bisa naik lagi sebesar 50 bps menuju level 5,75%.

Beberapa alasan kuat mendukung prediksi ini:

  1. Pelemahan rupiah yang terus berlangsung meski sudah ada intervensi BI.
  2. Gejolak geopolitik global yang berpotensi memicu lonjakan harga energi dan komoditas.
  3. Inflasi produsen yang mulai melebihi inflasi konsumen, menandakan tekanan dari sisi biaya produksi.

Faktor-Faktor yang Mendukung Kenaikan BI Rate

1. Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah

Rupiah sempat tertekan di level Rp15.000-an per dolar AS dan cenderung melemah seiring lonjakan permintaan valuta asing serta arus keluar modal. Meski BI telah melakukan beberapa kali intervensi, efeknya belum cukup kuat untuk memulihkan kepercayaan pasar sepenuhnya.

2. Ketidakpastian Geopolitik Global

Konflik di Timur Tengah dan ketegangan antarnegara besar seperti Amerika Serikat dan China berpotensi mengganggu rantai pasok global. Ini bisa memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya akan dirasakan konsumen lokal.

3. Inflasi Produsen Melonjak

Data terbaru menunjukkan bahwa indeks harga produsen (PPI) tumbuh lebih cepat daripada inflasi ritel. Ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan harga akan menyebar ke konsumen dalam waktu dekat, sehingga BI harus bersiap dengan kebijakan moneter yang ketat.

Proyeksi Ekonomi dan Target Inflasi

Pemerintah dan BI memiliki target pertumbuhan ekonomi yang cukup optimis di tahun 2026. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan bisa mencapai 5,8% hingga 6,5%, sementara DBS Group Research memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5,1%. Meski optimis, proyeksi ini tetap mempertimbangkan risiko dari tekanan inflasi dan volatilitas global.

Target inflasi BI berada di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Saat ini, inflasi masih berada dalam koridor aman, tetapi potensi lonjakan di paruh kedua tahun ini tetap mengkhawatirkan. Terutama jika harga energi global terus naik atau jika ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Risiko Kebijakan Moneter yang Ketat

Kebijakan menaikkan BI Rate memang efektif untuk menekan laju inflasi dan memperkuat rupiah. Namun, kebijakan ini juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi karena akses perbankan menjadi lebih mahal. Bisnis kecil dan menengah (UKM) serta konsumen ritel bisa merasakan dampaknya secara langsung.

Namun demikian, Radhika Rao menilai bahwa langkah antisipatif BI lebih baik daripada harus menghadapi lonjakan inflasi yang sulit dikendalikan di kemudian hari. BI Rate yang naik secara bertahap dan terukur bisa memberikan sinyal positif bagi investor asing.

Perbandingan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Lembaga Proyeksi Pertumbuhan
Pemerintah 5,8% – 6,5%
DBS Group Research 5,1%

Panduan Kebijakan untuk Memperkuat Rupiah

Untuk memastikan rupiah tetap stabil di jangka pendek, BI perlu menggandeng pemerintah dalam menyusun panduan kebijakan yang lebih luas. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  1. Meningkatkan arus masuk modal asing melalui insentif investasi.
  2. Mengurangi defisit neraca berjalan dengan memacu ekspor.
  3. Mendorong reformasi struktural yang ramah pasar.

Langkah-langkah ini tidak hanya akan memperkuat rupiah, tapi juga menciptakan fondasi ekonomi yang lebih tangguh di masa depan.

Disclaimer

Prediksi dan data dalam artikel ini bersumber dari analisis DBS Group Research dan kondisi ekonomi terkini. Informasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan eksternal dan kebijakan moneter nasional maupun global. Pembaca disarankan untuk selalu memantau perkembangan terbaru dari otoritas terkait.

Ryando Putra Jameni
Reporter at Pantai Teluk Awur

Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.