Presiden Komisaris Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja, baru saja menjadi sorotan karena melakukan pembelian saham senilai ratusan juta lembar. Transaksi ini mencerminkan kepercayaan internal terhadap kinerja dan prospek jangka panjang emiten berkode saham BBCA.
Dalam laporan keterbukaan informasi yang diunggah ke Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 27 Maret 2026, disebutkan bahwa Jahja membeli 802.056 unit saham BCA seharga Rp6.982 per lembar. Pembelian ini dilakukan secara langsung dan menambah total kepemilikan sahamnya menjadi 35.802.700 unit, atau tetap sekitar 0,03 persen dari total saham bank tersebut.
Kepemilikan Saham Terbaru Jahja Setiaatmadja
Langkah Jahja bukan yang pertama kali dilakukan oleh jajaran dewan komisaris atau direksi BCA dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, Presiden Direktur BCA, Gregory Hendra Lembong, juga diketahui melakukan penambahan saham dengan nilai transaksi yang tidak kalah besar.
Transaksi ini dilakukan sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 3 Ayat 3 POJK 4/2024 tentang laporan kepemilikan saham. Regulasi ini mewajibkan pihak-pihak dengan kepemilikan signifikan untuk melaporkan setiap perubahan kepemilikan saham mereka.
1. Rincian Transaksi Saham Jahja Setiaatmadja
Berikut adalah rincian lengkap dari transaksi saham Jahja Setiaatmadja:
- Jumlah saham dibeli: 802.056 lembar
- Harga per lembar: Rp6.982
- Status kepemilikan: Langsung
- Total nilai transaksi: Rp5.600.000.112
- Kepemilikan sebelum transaksi: 35.000.644 lembar (0,03%)
- Kepemilikan setelah transaksi: 35.802.700 lembar (0,03%)
2. Tujuan dan Makna Investasi
Meski tidak secara eksplisit menyebutkan alasan pembelian, transaksi ini umumnya diinterpretasikan sebagai bentuk kepercayaan terhadap kinerja BCA ke depan. Dalam dunia investasi, pembelian saham oleh insider—terutama pejabat tinggi—sering kali dianggap sebagai sinyal positif.
BCA sendiri merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia, dengan kinerja keuangan yang stabil dan reputasi kuat di pasar. Sahamnya menjadi incaran investor lokal maupun asing karena likuiditas tinggi dan sejarah pertumbuhan yang konsisten.
Pembelian Saham oleh Gregory Hendra Lembong
Tak hanya Jahja, Presiden Direktur BCA, Gregory Hendra Lembong, juga melakukan pembelian saham dalam periode waktu yang relatif dekat. Langkah ini memperkuat indikasi bahwa manajemen internal memiliki keyakinan kuat terhadap kinerja bank ke depan.
1. Rincian Transaksi Saham Gregory Hendra Lembong
- Jumlah saham dibeli: 1.135.639 lembar
- Harga per lembar: Rp6.982
- Jenis saham: Saham dengan hak suara multiple
- Total nilai transaksi: Rp7.929.031.498
- Kepemilikan sebelum transaksi: 1.531.282 lembar (0,001%)
- Kepemilikan setelah transaksi: 2.666.921 lembar (0,002%)
Saham dengan hak suara multiple yang dibeli oleh Gregory memiliki kekuatan suara lebih besar dalam rapat umum pemegang saham. Ini menunjukkan bahwa selain sebagai investasi, pembelian ini juga bisa menjadi langkah strategis dalam menjaga kontrol terhadap kebijakan perusahaan.
2. Tujuan Investasi Jangka Panjang
Gregory secara terbuka menyatakan bahwa pembelian saham ini ditujukan sebagai investasi jangka panjang. Hal ini selaras dengan strategi BCA yang fokus pada pertumbuhan berkelanjutan dan penguatan posisi di sektor perbankan nasional.
Perbandingan Transaksi Saham Internal BCA
Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut adalah perbandingan antara transaksi saham yang dilakukan oleh dua pejabat utama BCA:
| Nama | Jabatan | Jumlah Saham Dibeli | Harga per Lembar | Total Nilai | Jenis Saham |
|---|---|---|---|---|---|
| Jahja Setiaatmadja | Presiden Komisaris | 802.056 | Rp6.982 | Rp5,6 miliar | Biasa |
| Gregory Hendra Lembong | Presiden Direktur | 1.135.639 | Rp6.982 | Rp7,9 miliar | Hak Suara Multiple |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa meskipun harga per lembar saham sama, nilai total transaksi Gregory lebih tinggi karena jumlah saham yang dibeli lebih besar. Selain itu, jenis saham yang dibeli berbeda, dengan Gregory memiliki saham yang memberikan hak suara lebih besar.
Apa Kata Pasar?
Reaksi pasar terhadap pembelian saham oleh jajaran BCA umumnya positif. Investor cenderung melihat pembelian ini sebagai bentuk komitmen internal terhadap kinerja perusahaan. Saham BBCA pun cenderung menguat pasca pengumuman transaksi ini.
Namun, perlu dicatat bahwa harga saham bisa berfluktuasi tergantung berbagai faktor makro ekonomi, kebijakan moneter Bank Indonesia, hingga sentimen global. Maka dari itu, pembelian saham oleh insider tidak serta merta menjamin kenaikan harga jangka pendek.
Disclaimer
Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan keterbukaan informasi emiten. Harga saham dan jumlah kepemilikan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung aktivitas pasar dan kebijakan korporasi. Pembaca disarankan untuk melakukan verifikasi ulang melalui sumber resmi sebelum membuat keputusan investasi.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











