Sejumlah anggota direksi Bank J Trust Indonesia (BCIC) menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek perusahaan dengan melakukan pembelian saham secara bersamaan. Aksi ini mencerminkan optimisme internal terhadap kinerja dan potensi pertumbuhan BCIC di masa mendatang.
Langkah ini dilakukan pada 26 Maret 2026 lalu, di mana empat anggota dewan direksi membeli saham biasa melalui pasar modal. Transaksi ini tercatat dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis beberapa hari setelahnya.
Rincian Pembelian Saham oleh Jajaran Direksi BCIC
Transaksi pembelian saham ini bukan sekadar investasi biasa, tetapi juga sebagai bentuk komitmen terhadap perusahaan. Masing-masing direksi menambah kepemilikan saham pribadi mereka dengan jumlah dan harga yang beragam.
1. Helmi Arif Hidayat Borong 81.100 Saham
Helmi Arif Hidayat memimpin daftar dengan pembelian sebanyak 81.100 unit saham. Saham-saham tersebut dibeli seharga Rp123 per lembar. Dengan transaksi ini, total portofolio saham Helmi di BCIC meningkat dari 2.842.100 unit menjadi 2.923.200 unit.
Namun, meski jumlah unit saham bertambah, persentase kepemilikan suaranya tetap berada di kisaran 0,016%. Artinya, proporsional terhadap total saham beredar, kepemilikan Helmi tidak mengalami perubahan signifikan.
2. R. Djoko Prayitno Ikut Borong Saham
R. Djoko Prayitno juga melakukan aksi beli yang cukup besar. Ia membeli 78.900 unit saham dengan harga pelaksanaan Rp126 per lembar. Transaksi ini meningkatkan total kepemilikannya dari 2.837.900 unit menjadi 2.916.800 unit.
Langkah ini menunjukkan keyakinan pribadi terhadap kinerja BCIC ke depan. Meskipun bukan dalam kapasitas resmi perusahaan, pembelian ini tetap mencerminkan kepercayaan terhadap manajemen dan strategi bisnis bank.
3. Felix Istyono Hartadi dan Ritsuo Fukadai
Dua anggota direksi lainnya, Felix Istyono Hartadi dan Ritsuo Fukadai, juga ikut berpartisipasi dalam aksi beli ini. Keduanya melakukan pembelian saham pada harga Rp127 per lembar.
Felix menambah 39.200 unit saham, sehingga total portofolionya kini mencapai 1.424.600 unit. Sementara Ritsuo Fukadai menyerap 3.900 unit tambahan, membuat total sahamnya menjadi 139.100 unit.
Status Kepemilikan Saham
Seluruh transaksi yang dilakukan oleh para direksi ini merupakan kepemilikan langsung. Artinya, saham-saham tersebut dimiliki secara pribadi dan tidak melalui skema repurchase agreement atau instrumen keuangan lainnya.
Dalam laporan resmi yang disampaikan ke BEI, para direksi menyatakan bahwa pembelian ini dilakukan semata-mata untuk tujuan investasi pribadi. Langkah ini tidak terkait dengan rencana korporasi atau strategi emiten jangka pendek.
Perbandingan Jumlah Saham Sebelum dan Sesudah Pembelian
Berikut adalah rincian perubahan jumlah kepemilikan saham masing-masing direksi sebelum dan sesudah transaksi:
| Nama Direksi | Jumlah Saham Sebelum | Saham Dibeli | Harga per Lembar | Jumlah Saham Setelah |
|---|---|---|---|---|
| Helmi Arif Hidayat | 2.842.100 | 81.100 | Rp123 | 2.923.200 |
| R. Djoko Prayitno | 2.837.900 | 78.900 | Rp126 | 2.916.800 |
| Felix Istyono Hartadi | 1.385.400 | 39.200 | Rp127 | 1.424.600 |
| Ritsuo Fukadai | 135.200 | 3.900 | Rp127 | 139.100 |
Makna Investasi Pribadi Direksi
Langkah pembelian saham oleh para direksi ini bisa diartikan sebagai bentuk kepercayaan terhadap kinerja dan prospek perusahaan ke depan. Meski dilakukan secara pribadi, aksi ini sering kali dianggap sebagai sinyal positif oleh investor pasar modal.
Investasi pribadi oleh manajemen perusahaan biasanya mencerminkan keyakinan terhadap strategi bisnis yang sedang dijalankan. Apalagi dalam kondisi pasar yang dinamis, keputusan untuk menambah kepemilikan saham menunjukkan optimisme terhadap kinerja emiten.
Transparansi dan Regulasi Pasar Modal
Transaksi ini dilaporkan secara transparan ke BEI sesuai dengan ketentuan Pasar Modal. Hal ini menunjukkan bahwa para direksi menjalankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (governance) serta mematuhi aturan yang berlaku.
Investor ritel maupun institusi bisa melihat transaksi ini sebagai salah satu indikator tambahan dalam mengevaluasi kinerja BCIC. Namun, tetap perlu diperhatikan bahwa pembelian ini bersifat pribadi dan bukan representasi resmi dari manajemen perusahaan.
Disclaimer
Data dalam artikel ini bersumber dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia per tanggal 31 Maret 2026. Jumlah saham, harga, dan persentase kepemilikan dapat berubah seiring waktu dan kondisi pasar. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi terbaru untuk informasi yang lebih akurat dan terkini.
Bintang Fatih Wibawa merupakan penulis dan jurnalis yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Bintang berkomitmen menyajikan informasi keuangan yang akurat, faktual, dan bermanfaat bagi pembaca.












