Target investasi nasional pada 2027 ditetapkan sebesar Rp2.322 triliun. Angka ini naik sekitar 13,8 persen dari target tahun sebelumnya yang mencapai Rp2.041,3 triliun. Target tersebut disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Roeslani, dalam keterangan resmi terkait Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027.
Peningkatan target investasi ini sejalan dengan harapan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Presiden Prabowo Subianto bahkan menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen pada 2027. Target ini berada dalam kisaran 5,8 hingga 6,5 persen yang telah disepakati bersama DPR.
Peran Investasi dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Investasi terbukti semakin berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal II 2026, komponen investasi tumbuh 6,87 persen secara tahunan. Kontribusinya mencapai 39 persen dari total pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,29 persen.
Biasanya, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 28 hingga 29 persen. Lonjakan di kuartal kedua 2026 menunjukkan bahwa investasi mulai menjadi tulang punggung perekonomian.
Realisasi investasi pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka ini naik 7,2 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 49,5 persen dari target tahunan. Tidak hanya itu, investasi tersebut telah menyerap 1.448.862 tenaga kerja, naik 15 persen dibanding periode sama tahun lalu.
Fokus pada Sektor Hilirisasi
Pemerintah semakin mengarahkan investasi ke sektor hilirisasi. Pada semester I 2026, investasi di bidang ini mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi. Angka ini naik 6,9 persen secara tahunan.
Hilirisasi menjadi salah satu pilar utama dalam strategi investasi nasional. Tujuannya tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
1. Sektor Mineral Mendominasi Investasi Hilirisasi
Investasi hilirisasi masih didominasi oleh sektor mineral. Nilainya mencapai Rp206,5 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi masih menjadi fokus utama pemerintah.
2. Perkebunan dan Kehutanan
Investasi di sektor perkebunan dan kehutanan mencapai Rp54,4 triliun. Meski nilainya lebih kecil dibanding mineral, sektor ini memiliki potensi penyerapan tenaga kerja yang tinggi.
3. Minyak dan Gas Bumi
Sektor energi juga mulai menunjukkan peningkatan investasi. Minyak dan gas bumi menyumbang Rp35,4 triliun dari total investasi hilirisasi.
4. Perikanan dan Kelautan
Investasi di bidang perikanan dan kelautan mencapai Rp3,8 triliun. Meskipun nilainya masih kecil, sektor ini dianggap memiliki potensi besar mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia.
Mengapa Hilirisasi Jadi Prioritas?
Hilirisasi bukan sekadar soal meningkatkan nilai ekspor. Lebih dari itu, hilirisasi adalah cara untuk menjaga rantai nilai tetap berada di dalam negeri. Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan baku yang harganya fluktuatif.
Selain itu, hilirisasi juga berdampak langsung pada peningkatan lapangan kerja. Terutama di sektor-sektor seperti perkebunan dan kehutanan yang memiliki intensitas penyerapan tenaga kerja tinggi.
Rosan Roeslani menegaskan bahwa setiap rupiah investasi harus memberi manfaat nyata. Bukan hanya dalam bentuk pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Mendorong hilirisasi tidak datang tanpa tantangan. Infrastruktur, regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia masih menjadi poin penting yang perlu terus diperbaiki. Namun, potensi yang ada sangat besar, terutama di sektor-sektor yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Pemerintah terus mengupayakan sinergi antara berbagai lembaga, baik di tingkat pusat maupun daerah. Tujuannya agar iklim investasi semakin kondusif dan investor lokal maupun asing semakin percaya diri menanamkan modalnya.
Rincian Investasi Hilirisasi Semester I 2026
| Sektor | Nilai Investasi (Rp Triliun) | Persentase dari Total |
|---|---|---|
| Mineral | 206,5 | 68,8% |
| Perkebunan dan Kehutanan | 54,4 | 18,1% |
| Minyak dan Gas Bumi | 35,4 | 11,8% |
| Perikanan dan Kelautan | 3,8 | 1,3% |
| Total | 300,1 | 100% |
Disclaimer
Data dan target investasi yang disajikan bersifat sesuai dengan informasi resmi hingga Agustus 2026. Angka-angka ini dapat berubah seiring perkembangan kebijakan pemerintah dan dinamika ekonomi global serta domestik.
Erna Agnesa merupakan jurnalis keuangan senior dan editor yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Erna berkomitmen menghadirkan liputan yang tajam, berimbang, dan memberdayakan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial.












