Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak konflik geopolitik global yang semakin memanas. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencatat bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan dalam negeri tetap stabil selama triwulan II-2026. Stabilitas ini tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang solid antarlembaga, terutama antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Meski tekanan eksternal kian meningkat, kinerja ekonomi domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten dan sektor keuangan yang terjaga menjadi bukti bahwa Indonesia mampu bertahan meski dunia sedang dilanda ketidakpastian.
Faktor Luar yang Meningkatkan Tekanan pada Ekonomi Global
Konflik geopolitik di Timur Tengah berimbas pada kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global. Situasi ini memicu volatilitas pasar keuangan dan tekanan pada nilai tukar mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.
Inflasi global juga ikut meningkat, mempersempit ruang gerak bank sentral di negara maju untuk melonggarkan kebijakan moneter. Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) semakin tinggi karena risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan yang masih membayangi.
1. Penguatan Dollar AS dan Volatilitas Pasar Global
Fenomena flight to safety kembali terlihat. Investor lebih memilih instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS, yang menyebabkan dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik. Akibatnya, arus modal ke negara berkembang termasuk Indonesia menjadi lebih tertekan.
2. Gangguan di Selat Hormuz
Lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah kesepakatan sementara pada Juni 2026 kembali terganggu karena eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran awal Juli. Ini memperparah ketidakpastian pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak.
Proyeksi Pertumbuhan Global yang Lebih Rendah
Menurut laporan IMF dalam World Economic Outlook Update Juli 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 3 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dari proyeksi April 2026 yang mencapai 3,1 persen. Penurunan ini terjadi karena tekanan inflasi global yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik.
Kinerja Ekonomi Indonesia yang Tetap Kuat
Berbeda dengan kondisi global, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan performa positif. Pertumbuhan ekonomi domestik diproyeksikan tetap kuat berkat daya beli masyarakat yang terjaga dan peran aktif APBN sebagai penstabil.
3. Konsumsi Rumah Tangga Tetap Menopang Pertumbuhan
Daya beli masyarakat masih cukup kuat sehingga konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama ekonomi. Program bantuan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, serta stimulus selama libur sekolah turut menjaga daya beli tetap stabil.
4. Investasi yang Didorong Hilirisasi dan Infrastruktur
Investasi dalam negeri juga tumbuh berkat proyek-proyek hilirisasi dengan nilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur prioritas. Ini menunjukkan bahwa iklim investasi Indonesia masih menarik meski kondisi global sedang tidak bersahabat.
5. Peningkatan Belanja Pemerintah
Belanja pemerintah diproyeksikan meningkat karena percepatan program prioritas, pembayaran gaji ke-13 ASN, dan penyaluran bantuan sosial. Ini menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Koordinasi Kebijakan yang Meningkatkan Likuiditas
Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga likuiditas ekonomi dan perbankan tetap mencukupi. Pertumbuhan uang primer (M0) masih tinggi, mencatat kenaikan 15,4 persen pada minggu ketiga Juli 2026.
6. Perbaikan Fungsi Intermediasi Perbankan
Likuiditas yang tinggi diikuti oleh perbaikan fungsi intermediasi perbankan. Hal ini menunjukkan bahwa bank-bank di Indonesia masih mampu menyalurkan kredit secara efektif meski kondisi global sedang tidak stabil.
7. Pemulihan Aktivitas Manufaktur
Aktivitas manufaktur yang sempat melambat di akhir triwulan II kembali mengalami ekspansi pada Juli 2026. Indikator PMI Manufaktur mencapai 50,2, menandakan optimisme pelaku usaha mulai pulih.
Sinergi Kebijakan Menuju Pertumbuhan Berkelanjutan
KSSK memastikan bahwa sinergi kebijakan antarlembaga akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
8. Proyeksi Pertumbuhan Tahun 2026
Dengan sinergi kebijakan yang solid, pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6 hingga 6 persen. Angka ini mencerminkan upaya bersama antara pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya.
Rincian Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
| Komponen Ekonomi | Proyeksi Pertumbuhan |
|---|---|
| Konsumsi Rumah Tangga | Stabil |
| Investasi | Meningkat |
| Konsumsi Pemerintah | Meningkat |
| Ekspor-Impor | Stabil |
| Pertumbuhan Ekonomi | 5,6% – 6% |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah tergantung perkembangan eksternal dan kebijakan domestik.
Penutup
Meski tekanan dari luar terus meningkat, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Stabilitas ini tidak tercipta begitu saja, tetapi merupakan hasil dari sinergi kebijakan yang terus ditingkatkan oleh pemerintah dan lembaga terkait. Dengan koordinasi yang baik dan intervensi tepat, Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan meski dunia sedang dilanda gejolak.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan situasi global dan kebijakan domestik.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.










