Pagi ini, pasar saham Asia mengalami penguatan menyusul kenaikan indeks Wall Street akhir pekan lalu. Investor tampaknya merespons baik data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi, yang dianggap sebagai sinyal bahwa Federal Reserve mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga terlalu cepat.
Meski begitu, ketegangan di kawasan Teluk tetap menjadi sorotan. Kabar soal pembukaan jalur pelayaran alternatif melalui Selat Hormuz oleh Iran masih menyisakan ketidakpastian. Hal ini membuat harga minyak tetap tinggi karena pasar khawatir akan gangguan pasokan energi global.
Indeks Nikkei Jepang naik 0,6 persen pada perdagangan Senin pagi. Indeks saham Korea Selatan juga menguat 0,5 persen. Di sisi lain, indeks Asia-Pasifik MSCI di luar Jepang naik tipis sebesar 0,3 persen. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati, meski ada dorongan positif dari Wall Street.
Berbeda dengan Asia, pasar Eropa justru terlihat melemah. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 0,1 persen. Sementara kontrak berjangka FTSE melemah lebih dalam, yakni 0,4 persen. Investor Eropa tampaknya lebih waspada terhadap risiko global yang masih tinggi.
Di Amerika Serikat, kontrak berjangka S&P 500 turun tipis 0,1 persen. Nasdaq bergerak datar setelah pekan sebelumnya mencatat kenaikan hingga 5 persen. Penguatan Nasdaq didorong oleh laporan kinerja kuartal kedua beberapa perusahaan teknologi besar yang melebihi ekspektasi.
Pasar Tunggu Data Inflasi AS
Investor kini fokus pada rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Juli yang akan dirilis Rabu mendatang. Data ini menjadi sangat penting karena bisa memengaruhi langkah kebijakan moneter The Fed ke depan, terutama soal kenaikan suku bunga.
-
Ekspektasi Inflasi Juli
Analis memperkirakan CPI inti naik 0,2 persen secara bulanan. Sementara inflasi keseluruhan diperkirakan naik 0,1 persen. Angka ini akan dibandingkan dengan target inflasi tahunan Fed sebesar 2 persen. -
Dampak pada Kebijakan Suku Bunga
Jika data inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, peluang kenaikan suku bunga pada September bisa kembali meningkat. Namun, saat ini pasar hanya memperkirakan peluang kenaikan sebesar 44 persen, turun dari 67 persen pekan lalu.
Michael Feroli, Kepala Ekonom JPMorgan, menyampaikan bahwa angka 0,22 persen untuk CPI inti belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga di September. Namun, jika angka berulang mendekati 0,3 persen, situasi bisa berubah.
Sentimen Obligasi dan Mata Uang
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis ke 4,673 persen. Pergerakan ini terjadi menjelang penerbitan obligasi baru senilai USD125 miliar sepanjang pekan ini. Penurunan imbal hasil sebelumnya turut mendukung kenaikan harga emas.
Euro berada sedikit di bawah level tertinggi tujuh minggu di USD1,1557. Dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama karena sentimen risiko yang membaik dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah.
Pergerakan Harga Emas dan Minyak
Harga emas bertahan di kisaran USD4.342 per ons setelah mencatat kenaikan lebih dari 7 persen pekan lalu. Emas dianggap sebagai aset aman yang menguntungkan saat imbal hasil obligasi turun.
Di pasar minyak, harga tetap tinggi karena ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk. Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz akan dibuka setelah AS memenuhi sejumlah syarat. Namun, hingga kini, aktivitas pengiriman masih terbatas.
Perbandingan Pergerakan Indeks Saham Asia dan Eropa
| Indeks Saham | Pergerakan (%) |
|---|---|
| Nikkei Jepang | +0,6% |
| Kospi Korea Selatan | +0,5% |
| MSCI Asia-Pasifik (ex-Japan) | +0,3% |
| EUROSTOXX 50 (kontrak berjangka) | -0,1% |
| DAX (kontrak berjangka) | -0,1% |
| FTSE (kontrak berjangka) | -0,4% |
Faktor Geopolitik dan Dampaknya pada Pasar
-
Ketegangan Teluk Persia
Iran dan Oman telah menyepakati jalur pelayaran alternatif melalui Selat Hormuz. Namun, jalur ini belum sepenuhnya dibuka karena masih menunggu pemenuhan syarat dari AS. Ketidakpastian ini membuat harga minyak tetap tinggi. -
Pengaruh terhadap Pasokan Energi
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang mengalirkan sekitar 21 juta barel minyak per hari. Gangguan di jalur ini bisa memicu lonjakan harga minyak global dan memengaruhi inflasi. -
Sentimen Investor
Investor saat ini memantau ketat perkembangan geopolitik karena dampaknya bisa menyebar ke sektor lain, terutama energi dan transportasi laut.
Data Inflasi dan Proyeksi Pasar
| Indikator | Proyeksi (%) |
|---|---|
| CPI inti Juli 2026 | +0,2 |
| CPI keseluruhan Juli 2026 | +0,1 |
| Target inflasi tahunan Fed | 2,0 |
| Peluang kenaikan suku bunga September | 44% |
Penutup
Pekan ini menjadi krusial bagi pasar keuangan global. Data inflasi AS akan menjadi pemicu utama pergerakan indeks saham dan obligasi. Sementara itu, ketegangan di kawasan Teluk terus menjadi perhatian karena potensi gangguan pasokan energi.
Investor tampaknya masih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum mengambil keputusan besar. Namun, dengan sentimen yang mulai membaik dan data ekonomi yang tidak terlalu buruk, pasar bisa saja tetap stabil selama tidak ada kejutan geopolitik.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Muhammad Rizal Veto merupakan jurnalis ekonomi dan analis konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Rizal berkomitmen menghadirkan informasi berbasis data yang akurat, objektif, dan bermanfaat bagi pembaca.











