Dolar AS kembali menunjukkan kekuatannya di tengah gejolak pasar global. Setelah sempat tertekan oleh data inflasi Juli yang sesuai ekspektasi, greenback akhirnya pulih dan menguat pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026. Gerakan ini tak hanya dipicu oleh rilis data ekonomi, tetapi juga oleh ketidakpastian geopolitik yang membuat investor kembali mencari aset aman.
Indeks dolar, yang mengukur performa mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,2 persen ke level 99,98. Sebelumnya, indeks ini sempat menyentuh titik terendah di 99,61 seusai data inflasi dirilis. Namun menjelang tengah hari, permintaan terhadap dolar mulai meningkat, terutama karena sentimen safe haven yang kembali kuat.
Inflasi AS Sesuai Ekspektasi, Investor Antisipasi Kebijakan The Fed
Rilis data Consumer Price Index (CPI) untuk Juli menjadi sorotan utama pelaku pasar. Angka inflasi inti dan umum yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan tren yang sejalan dengan prediksi konsensus. Inflasi inti naik 0,2 persen secara bulanan setelah stagnan di Juni. Secara tahunan, angka ini melambat dari 2,6 persen menjadi 2,5 persen.
Inflasi keseluruhan juga melambat, dari 3,5 persen menjadi 3,4 persen year-over-year, setelah sebelumnya turun 0,4 persen di bulan Juni. Data ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda, meskipun belum sepenuhnya keluar dari zona waspada Bank Sentral AS.
1. Reaksi Pasar Terhadap Data Inflasi
Setelah rilis data, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan September naik menjadi 60%, naik dari sebelumnya 54% menurut CME FedWatch Tool. Ini menunjukkan bahwa peluang penurunan suku bunga masih belum terlalu besar, karena bank sentral cenderung menunggu lebih banyak bukti konsisten penurunan inflasi.
2. Indeks Harga Produsen (PPI) Masih Dinantikan
Meskipun data CPI telah dirilis, fokus pasar selanjutnya beralih ke PPI Juli yang akan datang. Kedua indikator ini menjadi bagian dari perhitungan Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan ukuran inflasi utama yang digunakan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Dolar Jadi Aset Pelarian di Tengah Gejolak Global
Sentimen safe haven kembali mendominasi, terutama karena ketegangan di Timur Tengah yang belum kunjung reda. Situasi ini membuat investor lebih memilih dolar sebagai instrumen yang relatif stabil dibandingkan mata uang lain.
3. Yen Jepang Melemah Lawan Dolar
Pasangan USD/JPY naik 0,1 persen ke level 159,46. Pelemahan yen terjadi meski sebelumnya sempat menguat pasca-intervensi gabungan dari pemerintah Jepang dan AS. Survei Tankan terbaru menunjukkan optimisme bisnis di Jepang meningkat, namun hal ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan terhadap mata uang mereka.
4. Euro dan Pound Sterling Ikut Melemah
Euro turun 0,2 persen menjadi USD1,1524, sedangkan pound sterling anjlok tipis 0,1 persen ke posisi USD1,3491. Keduanya mencerminkan performa yang kurang menonjol di tengah dominasi dolar.
Perbandingan Performa Mata Uang Utama terhadap Dolar AS (12 Agustus 2026)
| Mata Uang | Pair | Perubahan (%) | Level Terkini |
|---|---|---|---|
| Yen | USD/JPY | +0,1% | 159,46 |
| Euro | EUR/USD | -0,2% | 1,1524 |
| Pound | GBP/USD | -0,1% | 1,3491 |
Catatan: Data di atas bersifat real-time dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.
Wall Street Respons Positif, Saham Naik Tajam
Tak hanya mata uang, pasar saham pun merespons baik terhadap data inflasi. Indeks S&P 500 naik 0,4 persen, menunjukkan bahwa investor melihat data sebagai sinyal positif untuk stabilitas ekonomi AS. Kenaikan ini juga mencerminkan harapan bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga lagi.
Namun, tetap saja, semua mata tetap tertuju pada langkah selanjutnya bank sentral. Apakah akan bertahan di level saat ini atau mulai mempertimbangkan pemotongan suku bunga? Jawabannya baru akan terlihat beberapa pekan ke depan.
Disclaimer
Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat terkini hingga tanggal publikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung dinamika pasar global serta kebijakan makroekonomi yang diambil oleh negara-negara besar. Informasi ini dimaksudkan untuk tujuan edukasi dan tidak sebagai rekomendasi investasi.
Popy Lestary merupakan jurnalis keuangan dan kreator konten yang fokus pada industri jasa keuangan Indonesia. Keahliannya mencakup perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Popy berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca dari semua kalangan.










