Ilustrasi pencairan bansos PKH dan BPNT kembali jadi sorotan publik jelang Mei 2026. Banyak warga yang menunggu pencairan tahap kedua mulai bergairah memantau informasi terkait jadwal dan nominal yang bakal diterima. Sayangnya, di tengah antusiasme itu, beredar sejumlah bukti struk transaksi yang mengaku bantuan sudah cair melalui Bank BNI. Tapi, jangan terburu percaya dulu.
Bukti-bukti itu menunjukkan saldo masuk dengan nominal antara Rp600 ribu hingga Rp1,2 juta. Terlihat meyakinkan, tapi ternyata ada yang “aneh” dari struk-struk tersebut. Banyak pihak mulai curiga, dan setelah dicek lebih dalam, indikasi kuat muncul kalau itu semua hasil editan.
Fakta di Balik Struk yang Beredar
Sejumlah pihak, termasuk konten kreator seperti Arfan Saputra Channel di YouTube, sudah melakukan analisis terhadap struk yang viral. Hasilnya cukup mengejutkan. Banyak kejanggalan yang menunjukkan bahwa bukti transaksi tersebut tidak asli.
1. Kesamaan Nomor Rekening
Salah satu indikator kuat adanya manipulasi adalah nomor rekening yang sama di semua struk. Padahal, struk-struk itu diunggah oleh akun berbeda, dengan nominal dan waktu transaksi yang juga berbeda. Tapi nomor rekeningnya tetap sama, yaitu yang berawalan "20" dan diakhiri "615".
2. Jam dan Nominal Berbeda, Tapi Format Sama
Jam transaksi dan jumlah saldo memang berbeda-beda. Tapi format struk, posisi teks, dan elemen lainnya terlihat persis. Ini menunjukkan bahwa hanya dua bagian itu saja yang diedit, sementara sisanya tetap dari satu sumber gambar yang sama.
3. Fenomena “Struk Sejuta Umat”
Fenomena ini memang sudah sering muncul di media sosial. Satu gambar struk diedit dengan berbagai variasi nominal dan waktu, lalu disebar luas untuk menciptakan kesan bahwa sesuatu sudah terjadi. Dalam kasus ini, tujuannya mungkin untuk menimbulkan opini bahwa bansos sudah cair, padahal belum.
Kondisi Nyata di Lapangan
Sementara di dunia maya ramai dengan unggahan hoaks, di lapangan kondisinya berbeda. Banyak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang sudah mencoba mengecek saldo kartu KKS BNI, tapi hasilnya nihil.
1. Saldo Masih Nol di BNI
Hingga tanggal 8 Mei 2026, sejumlah KPM melakukan pengecekan mandiri melalui aplikasi BNI atau ATM. Hasilnya? Saldo tetap nol. Belum ada pencairan bantuan apapun. Ini menunjukkan bahwa informasi yang beredar di media sosial belum tentu benar.
2. Harapan Masyarakat Tetap Tinggi
Meski diwarnai kabar bohong, harapan masyarakat tetap tinggi. Banyak yang berharap pencairan PKH dan BPNT tahap kedua segera terealisasi. Tapi, mereka juga mulai waspada dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu valid.
Tips Menghindari Penipuan Bansos
Di era digital, informasi bisa disebar cepat dan mudah. Sayangnya, tidak semua informasi itu benar. Terutama yang menyangkut bansos, masyarakat harus ekstra hati-hati agar tidak tertipu.
1. Cek Saldo Secara Mandiri
Cara paling aman adalah langsung mengecek saldo melalui aplikasi resmi bank atau mesin ATM. Jangan percaya pada unggahan di media sosial yang tidak jelas sumbernya.
2. Verifikasi ke Pendamping Sosial
Kalau ragu, tanyakan langsung ke pendamping sosial setempat. Mereka punya data terbaru terkait penyaluran bansos di wilayahnya.
3. Hindari Sebarkan Informasi yang Belum Jelas
Kalau menemukan informasi yang mencurigakan, jangan langsung disebar. Cek dulu kebenarannya. Sebarkan informasi hoaks hanya akan memperparah kegaduhan.
Perbandingan Data Bansos PKH dan BPNT
Berikut adalah rincian data bansos PKH dan BPNT berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Sosial RI per Mei 2026:
| Jenis Bansos | Tahap | Target Penyaluran | Status per 8 Mei 2026 |
|---|---|---|---|
| PKH | 2 | April – Mei 2026 | Belum cair di BNI |
| BPNT | 2 | April – Mei 2026 | Belum cair di BNI |
Klarifikasi Resmi dari Kemensos
Kementerian Sosial RI melalui saluran resmi YouTube-nya telah menyampaikan klarifikasi terkait beredarnya struk palsu tersebut. Dalam video yang diunggah, pihak Kemensos menegaskan bahwa pencairan tahap kedua belum dilakukan secara masal, terutama melalui Bank BNI.
Pihak Kemensos juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum diverifikasi. Mereka menyarankan agar masyarakat hanya mengandalkan sumber resmi seperti situs web kementerian, akun resmi media sosial, atau pendamping sosial setempat.
Penutup
Hoaks seputar bansos memang kerap muncul, terutama menjelang pencairan. Ini bukan kali pertama terjadi. Masyarakat harus tetap waspada dan tidak mudah terpancing dengan informasi yang belum tentu benar. Cek langsung ke sumber resmi, hindari menyebarkan informasi yang belum diverifikasi, dan tetap tenang menunggu pencairan bansos yang sesungguhnya.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat valid hingga tanggal 8 Mei 2026. Jadwal dan nominal bansos bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan pemerintah. Selalu pantau sumber resmi untuk informasi terbaru.
Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.












