Dolar AS mengalami tekanan pelemahan menjelang pengumuman keputusan suku bunga dari Federal Reserve. Sentimen pasar yang mulai optimis terhadap risiko, ditambah dengan perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global, membuat greenback tidak sekuat biasanya di tengah pekan.
Indeks dolar, yang mengukur performa mata uang Amerika terhadap sekeranjang mata uang utama, mencatat penurunan 0,1 persen menjadi 99,56 pada Rabu, 17 Juni 2026. Ini merupakan sesi keempat berturut-turut dolar berada di zona merah.
Dinamika Geopolitik dan Harapan Perdamaian
Salah satu faktor yang mendorong pelemahan dolar adalah optimisme terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa penandatanganan ini akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang telah ditutup sejak awal konflik Februari lalu. Ia menyebut MoU ini sebagai langkah penting untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Namun, detail teknis perjanjian masih simpang siur. Meski Trump menekankan bahwa kesepakatan ini secara tegas melarang Iran mengembangkan nuklir, media pemerintah Iran menyatakan bahwa pembahasan teknis soal nuklir belum masuk ke tahap negosiasi serius.
Selain itu, kabar tentang rencana investasi swasta senilai $300 miliar untuk Iran juga beredar. Namun, Trump membantah klaim tersebut sebagai “berita palsu”.
1. Penurunan Harga Minyak Jadi Penyebab Tekanan pada Dolar
Harga minyak mentah turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan menjelang keputusan suku bunga Fed. Penurunan ini memberikan ruang bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Lonjakan harga minyak sebelumnya menjadi salah satu pendorong inflasi yang memaksa bank sentral untuk mengetatkan kebijakan. Namun, dengan harga yang kini mulai turun, tekanan itu sedikit mereda.
2. Fokus Pasar pada Kebijakan Suku Bunga Global
Selain AS, sejumlah bank sentral besar juga mengumumkan keputusan suku bunga mereka. Di Jepang, Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen.
Kenaikan ini merupakan langkah antisipatif untuk mengendalikan inflasi dan menguatkan yen yang sedang melemah. Pasangan USD/JPY sempat naik ke level 160,47, mendekati titik intervensi sebelumnya oleh pemerintah Jepang.
Berikut ringkasan keputusan suku bunga beberapa bank sentral utama:
| Bank Sentral | Suku Bunga Sebelumnya | Suku Bunga Baru | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| Federal Reserve (AS) | 5,25% | 5,25% (dipertahankan) | Fokus pada proyeksi ekonomi dan komentar kepala baru |
| Bank of Japan (Jepang) | 0,75% | 1,00% | Kenaikan pertama dalam 31 tahun |
| Reserve Bank of Australia | 4,35% | 4,35% (dipertahankan) | Akhiri siklus pengetatan |
| Bank of England (Inggris) | 4,50% | Dipertahankan (diperkirakan) | Ditahan karena data pertumbuhan lemah |
3. Dolar Australia dan Poundsterling di Bawah Tekanan
Dolar Australia turun 0,1 persen menjadi USD0,7066 setelah Reserve Bank of Australia memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,35 persen. Langkah ini mengakhiri siklus pengetatan selama tiga bulan.
Sementara itu, poundsterling cenderung datar menjelang keputusan Bank of England (BoE). Namun, dengan data ekonomi domestik yang lemah dan keterbatasan anggaran nasional, BoE diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati.
4. Proyeksi dan Sentimen Pasca-Fed
Meskipun Fed diprediksi tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kali ini, perhatian pasar tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru dan pernyataan dari ketua baru, Kevin Warsh.
Ahli strategi valuta asing Thierry Wizman dari Macquarie memperkirakan bahwa USD/JPY akan mengalami penurunan struktural perlahan, menuju level 153 di akhir tahun. Ini didasari oleh kombinasi antara penurunan harga minyak dan kebijakan BoJ yang progresif.
5. Dampak Jangka Panjang pada Pasar Valas
Pelemahan dolar tidak serta merta berarti dominasi mata uang AS akan berakhir. Namun, dalam jangka pendek, dinamika global seperti kenaikan suku bunga di negara lain dan penurunan harga komoditas bisa membuat greenback lebih mudah tertekan.
Investor dan pelaku pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik, terutama terkait Iran, serta kebijakan moneter dari berbagai bank sentral. Semua ini akan menjadi variabel penting dalam menentukan arah nilai tukar dolar ke depannya.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Juni 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter global.
Ryando Putra Jameni merupakan jurnalis dan editor konten yang fokus pada sektor keuangan Indonesia. Bidang keahliannya meliputi industri perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Ryando berkomitmen menghadirkan informasi keuangan yang akurat, terpercaya, dan bermanfaat bagi masyarakat.












