Multifinance

Rupiah Melemah 221 Poin pada Penutupan Senin Sore, Capai Level Rp17.600 per Dolar AS

Nurkasmini Nikmawati
×

Rupiah Melemah 221 Poin pada Penutupan Senin Sore, Capai Level Rp17.600 per Dolar AS

Sebarkan artikel ini
Rupiah Melemah 221 Poin pada Penutupan Senin Sore, Capai Level Rp17.600 per Dolar AS

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Reporter: Husen Miftahudin

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Senin, 15 Juni 2026, menguat cukup signifikan. Mata uang Garuda itu ditutup di kisaran Rp17.695 per USD, naik 221 poin atau sekitar 1,23 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.916 per USD. Penguatan ini terjadi seiring dengan sejumlah sentimen global yang mulai membaik, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa rupiah menguat di berbagai platform. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.708,5 per USD, naik 151,5 poin dari sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Jisdor juga mencatat kenaikan sebesar 202 poin, dari Rp17.921 menjadi Rp17.719 per USD. Penguatan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah mulai berkurang, terutama setelah sejumlah faktor global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Dinamika Geopolitik dan Dampaknya pada Rupiah

Pergerakan rupiah pada Senin sore dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global, terutama dari perkembangan terkait konflik di Selat Hormuz. Kabar baik datang dari kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran. Kesepakatan ini diharapkan akan membuka kembali jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz yang selama ini terganggu akibat ketegangan militer.

  1. Kesepakatan AS-Iran
    Kesepakatan awal ini menandakan langkah awal menuju perdamaian. Kedua belah pihak menyatakan akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss dalam waktu dekat. Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi pasokan minyak global, akan dibuka kembali dalam waktu 30 hari.

  2. Peran Mediator
    Pakistan berperan sebagai mediator dalam proses ini. Perdana Menteri Pakistan menyatakan bahwa negara-negara E4 (Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia) juga siap mencabut sanksi terhadap Iran sebagai bentuk respons terhadap kemajuan ini.

  3. Dampak pada Pasar Minyak
    Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Pembukaan kembali jalur ini akan membantu memulihkan pasokan energi global, yang selama ini terganggu selama lebih dari tiga bulan.

Sentimen positif ini langsung berefek pada pasar keuangan global. Investor mulai melihat peluang di pasar komoditas dan valuta asing, termasuk rupiah. Pasar mulai optimis bahwa stabilitas di kawasan Timur Tengah akan membuka ruang bagi pemulihan ekonomi global.

Faktor Domestik yang Mendukung Penguatan Rupiah

Di tengah perbaikan sentimen global, faktor domestik juga turut memperkuat posisi rupiah. Salah satunya adalah penurunan harga minyak mentah dunia yang kini berada di bawah USD 80 per barel. Penurunan ini memberikan dampak positif terhadap neraca perdagangan Indonesia, yang merupakan negara importir minyak.

  1. Penghematan Anggaran
    Dengan harga minyak yang lebih rendah, tekanan terhadap APBN berkurang. Pemerintah pun memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan anggaran ke sektor-sektor produktif lainnya. Ini menjadi kabar baik bagi investor yang melihat stabilitas fiskal sebagai indikator kesehatan ekonomi.

  2. Efisiensi Program Prioritas
    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi sorotan. Pemerintah tengah mengevaluasi efisiensi anggaran program ini sebagai bagian dari upaya konsolidasi fiskal. Selain itu, target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih juga direvisi turun sebesar 50 persen, sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.

  3. Respons Masyarakat
    Imbauan dari Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad agar masyarakat menukarkan dolar AS yang mereka miliki menjadi rupiah mulai mendapat respon positif. Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level tertinggi di kisaran Rp18.200 per USD.

Kebijakan Moneter dan Peran Bank Sentral

Bank Indonesia (BI) juga turut berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pada 9 Juni 2026, BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kenaikan ini merupakan bagian dari langkah antisipatif untuk melindungi rupiah dari gejolak global dan mencegah keluarnya modal asing.

  1. Langkah Pre-Emptif BI
    Kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sejak Mei menunjukkan komitmen Bank Sentral untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Langkah ini diambil sebelum tekanan benar-benar terasa, sehingga BI bisa menjaga kontrol terhadap nilai tukar dan inflasi.

  2. Pengaruh The Fed
    Fokus pasar saat ini juga tertuju pada kebijakan moneter The Fed. Dengan Kevin Warsh yang baru menjabat sebagai Ketua, investor menantikan kebijakan yang lebih tegas terhadap suku bunga. Namun, penyelesaian cepat konflik di Timur Tengah bisa membuat bank sentral global, termasuk The Fed, lebih hati-hati dalam memperketat kebijakan.

  3. Bank Sentral Global Lainnya
    Bank sentral seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) juga telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin sepanjang tahun ini. Namun, jika stabilitas global kembali pulih, bank-bank sentral ini bisa mempertimbangkan kembali langkah pengetatan kebijakan.

Prediksi Pergerakan Rupiah di Hari Mendatang

Melihat sejumlah faktor yang sedang berjalan, baik dari sisi global maupun domestik, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung menguat di perdagangan mendatang. Terutama pada Rabu, 17 Juni 2026, rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per USD.

Tabel Prediksi Pergerakan Rupiah

Hari Prediksi Kurs (Rp/USD) Kenaikan (poin) Catatan
Senin 17.695 221 Ditutup menguat
Selasa Libur (Tahun Baru Islam)
Rabu 17.650 – 17.700 Fluktuatif Ditutup menguat

Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi terkini dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan pemerintah.

Kesimpulan

Penguatan rupiah pada Senin sore mencerminkan kombinasi antara perbaikan sentimen global dan langkah antisipatif dari pemerintah serta Bank Indonesia. Dengan berakhirnya ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak yang turun, serta kebijakan moneter yang proaktif, rupiah memiliki peluang untuk terus menguat dalam jangka pendek. Namun, pergerakan nilai tukar tetap harus diwaspadai karena masih rentan terhadap gejolak global yang tidak terduga.

Nurkasmini Nikmawati
Reporter at Pantai Teluk Awur

Nurkasmini Nikmawati merupakan jurnalis keuangan dan content specialist yang fokus pada sektor jasa keuangan Indonesia. Keahliannya meliputi perbankan, multifinance, pinjaman online, serta program bantuan sosial pemerintah. Kasmini berkomitmen memberdayakan pembaca dengan informasi finansial yang praktis, akurat, dan aplikatif.